kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Kilang minyak Arab Saudi diserang, logam mulia semakin berkilau


Senin, 16 September 2019 / 17:36 WIB
ILUSTRASI. Emas batangan


Reporter: Adrianus Octaviano | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penyerangan kilang minyak di Arab Saudi pada Sabtu (14/9) lalu memberi dampak positif bagi pergerakan harga logam mulia. Kenaikan tersebut mengerek kenaikan harga minyak dunia akibat lebih dari 5% pasokan minyak global hancur akibat penyerangan tersebut.

Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 17.20 WIB, harga emas untuk pengiriman Desember 2019 di Commodity Exchange ada di level ke US$ 1.511,90 per ons troi, naik 0,82% dari akhir pekan lalu yang ada di US$ 1.499,50 per ons troi.

Hal yang sama terjadi pula pada harga perak yang menguat 2,03% dan menempatkan silver di posisi US$ 17,925 per ons troi.

Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan, penguatan harga logam mulia ini terdorong oleh memburuknya kondisi di timur tengah. Kondisi yang dimaksud oleh Ibrahim terkait serangan pada fasilitas minyak bumi Arab Saudi yang diduga dilakukan oleh pasukan Iran. 

“Inilah yang menyebabkan harga minyak mengalami penguatan sehingga terjadi ketegangan di timur tengah dan berdampak positif terhadap safe haven, yaitu emas dan perak,” ujar Ibrahim.

Ibrahim berpendapat, penyerangan tersebut hanya merupakan masalah geopolitik di Timur Tengah. Oleh karena itu, Ibrahim bilang dampak dari serangan tersebut tidak memiliki efek jangka panjang terhadap pergerakan harga logam mulia. 

“Masalah geopolitik itu seperti sengatan, hanya sementara,” ujar Ibrahim.

Selain itu, Ibrahim optimistis tidak ada efek jangka panjang terkait masalah geopolitik di Timur Tengah ini karena adanya informasi dari Rusia. 




TERBARU

[X]
×