kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Kian perkasa, harga minyak Brent naik ke US$ 56,47 dan minyak WTI US$ 51,56 per barel


Jumat, 14 Februari 2020 / 15:20 WIB
Kian perkasa, harga minyak Brent naik ke US$ 56,47 dan minyak WTI US$ 51,56 per barel
ILUSTRASI. Harga minyak mentah mulai rebound

Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci

KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Harga minyak mentah berhasil naik lebih tinggi setelah sepanjang hari bergerak stagnan. Penguatan ini bakal membuat harga minyak mengalami kenaikan mingguan pertama setelah dalam enam minggu terakhir selalu terkoreksi. 

Mengutip Reuters, Jumat (14/2) pukul 15.00 WIB, harga minyak mentah jenis Brent kontrak pengiriman April 2020 naik 13 sen menjadi US$ 56,47 per barel. Di hari sebelumnya, harga emas hitam ini sudah naik 1%. Sepanjang pekan ini pun, minyak jenis Brent sudah naik 3,7%. 

Setali tiga uang, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) kontrak pengiriman Maret 2020 naik 14 sen ke US$ 51,56 per barel. Di minggu ini, harga minyak jenis WTI tersebut sudah melesat 2,4% dibanding minggu lalu. 

Baca Juga: Jumlah kasus virus corona meroket 10 kali lipat, ini penyebab utamanya

"Harga minyak tampaknya telah stabil pekan ini di tengah optimisme bahwa OPEC+ akan sekali lagi melakukan apa pun untuk mengencangkan produksi dan dengan harapan bahwa puncak virus corona sudah dekat," kata Edward Moya, analis pasar senior di OANDA di New York.

Walau mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan, harga minyak telah melemah 20% dari puncaknya pada 8 Januari 2020 lalu. Hal tersebut terjadi karena kekhawatiran terhadap kelebihan pasokan dikombinasikan dengan kekhawatiran tentang penurunan permintaan dari China yang sedang bertahan dari serangan wabah virus corona. 

Menanggapi penurunan permintaan, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan negara sekutunya, kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, sedang mempertimbangkan untuk mengurangi produksi hingga 2,3 juta barel per hari.

Tetapi analis lain memperingatkan dampak permintaan hanya terbatas pada China sejauh ini.




TERBARU

Close [X]
×