kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.576.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.913   -79,00   -0,44%
  • IDX 6.037   27,39   0,46%
  • KOMPAS100 777   3,53   0,46%
  • LQ45 595   3,08   0,52%
  • ISSI 210   1,46   0,70%
  • IDX30 331   2,54   0,77%
  • IDXHIDIV20 423   3,72   0,89%
  • IDX80 89   0,46   0,52%
  • IDXV30 115   0,93   0,82%
  • IDXQ30 108   0,61   0,57%

Kembali Cetak Rekor Terlemah di Rp 17.424, Ini Sudah Melampaui Fundamental Ekonomi


Selasa, 05 Mei 2026 / 16:56 WIB
Kembali Cetak Rekor Terlemah di Rp 17.424, Ini Sudah Melampaui Fundamental Ekonomi
ILUSTRASI. Rupiah ditutup menguat 0,50 persen (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)


Reporter: Alya Fathinah | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan rupiah berlanjut hingga menembus level terlemah sepanjang sejarah. Bahkan, dinilai telah melampaui nilai fundamentalnya di tengah meningkatnya premi risiko di pasar keuangan.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup pada level Rp 17.424 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Selasa (5/5/2026), melemah 0,17% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.394 per dolar AS.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Rizal Taufikurahman, mengatakan nilai tukar rupiah saat ini tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi domestik.

Baca Juga: Rupiah Kian Loyo, Pemerintah Sebut Pemicunya Musim Haji dan Pembayaran Dividen

"Dengan inflasi yang masih relatif terjaga, neraca dagang yang masih surplus, dan cadangan devisa yang cukup kuat, kisaran fundamental rupiah lebih rasional di sekitar Rp16.500–Rp16.900 per dolar AS," ujar Rizal kepada Kontan, Selasa (5/5/2026).

Menurutnya, pelemahan rupiah hingga sempat menyentuh Rp17.424 per dolar AS mencerminkan adanya peningkatan risk premium dari pasar, bukan semata faktor fundamental.

Ia menjelaskan, penilaian nilai wajar rupiah umumnya ditopang oleh sejumlah indikator utama, seperti inflasi, neraca transaksi berjalan, cadangan devisa, yield surat berharga negara (SBN), arus modal asing, serta persepsi terhadap kredibilitas fiskal.

Rizal menambahkan, tekanan terhadap rupiah saat ini bersifat kombinatif, baik dari faktor eksternal maupun domestik.

Dari sisi global, penguatan dolar AS, ketidakpastian geopolitik, serta lonjakan harga energi mendorong terjadinya capital outflow.

Sementara itu, dari dalam negeri, pasar merespons meningkatnya risiko fiskal, mulai dari potensi pelebaran defisit anggaran, kenaikan subsidi energi hingga meningkatnya kebutuhan pembiayaan pemerintah yang menekan pasar obligasi.

"Kondisi ini membuat ruang kebijakan moneter menjadi lebih terbatas dan memperkuat tekanan terhadap nilai tukar," kata Rizal.

Baca Juga: Pasar Obligasi Fluktuatif, OJK Sebut Yield SBN Turun dan Asing Mulai Masuk

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×