kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Kedatangan empat crane baru, Nusantara Pelabuhan (PORT) mengalihkan crane lama


Senin, 12 Agustus 2019 / 16:59 WIB
Kedatangan empat crane baru, Nusantara Pelabuhan (PORT) mengalihkan crane lama
ILUSTRASI. Kegiatan Bongkar Muat Peti Kemas

Reporter: Irene Sugiharti | Editor: Wahyu Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kedatangan dua quay container crane baru, PT Nusantara Pelabuhan Handal Tbk (PORT) mengalihkan dua quay container crane di tiga anak usaha. PT Perusahaan Bongkar Muat Adipurusa yang 77,77% sahamnya dimiliki PORT akan mendatangkan dua quay container crane dan dua rubber tyred gantry crane baru.

"Penambahan ini akan direalisasikan di kuartal ketiga 2019 sehingga Perusahaan Bongkar Muat Adipurusa akan memiliki kelebihan aset dengan kapasitas lapangan yang tersedia," ungkap Paul Krisnadi, Direktur Utama PORT dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Senin (12/8).

Baca Juga: PORT Anggarkan Capex Rp 240 Miliar, Mayoritas Untuk Alat Berat

Oleh karena itu, anak usaha yang menjalankan bisnis jasa handling dan stevedoring petikemas untuk terminal domestik ini akan menjual dua quay container crane ke sister company yang juga dimiliki PORT. Perusahaan Bongkar Muat akan menjual dua quay container crane tahun 2000 dan tahun 2005 dengan nilai Rp 47,50 miliar ke PT Mustika Alam Lestari.

Mustika Alam Lestari bergerak di bisnis jasa handling dan stevedoring petikemas untuk terminal internasional. Dengan dua quay container crane yang dibeli dari Perusahaan Bongkar Muat, Mustika Alam akan meremajakan aset dan menjual dua quay container crane tahun 1972 dan 1983. 

Baca Juga: Nusantara Pelabuhan Handal (PORT) optimis kinerja arus peti kemas tumbuh

Perusahaan yang 99,99% sahamnya dimiliki PORT ini akan menjual dua quay container crane lama ini dengan harga Rp 15 miliar ke PT Parvi Indah Persada, yang juga dimiliki oleh PORT.

Parvi Indah Persada merupakan perusahaan yang bergerak di bidang penjualan alat pelabuhan dan jasa perbaikan dan pemeliharaan alat pelabuhan. "Kedua transaksi ini memiliki nilai tidak lebih dari 20% jumlah ekuitas PORT, dengan demikian tidak memenuhi kriteria nilai material," ungkap Paul.




TERBARU

Close [X]
×