kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45991,58   -19,63   -1.94%
  • EMAS957.000 -0,42%
  • RD.SAHAM -1.52%
  • RD.CAMPURAN -0.63%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.01%

Jadi jawara tahun ini, kemilau emas berpotensi redup di tahun depan


Rabu, 02 Desember 2020 / 19:25 WIB
Jadi jawara tahun ini, kemilau emas berpotensi redup di tahun depan
ILUSTRASI. Seorang karyawan menunjukkan kepingan emas di kantor Pegadaian Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (15/10/2020). ANTARA FOTO/Abriawan Abhe/hp.


Reporter: Intan Nirmala Sari | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Silaunya kemilau emas di tahun pandemi 2020, tampaknya bakal meredup di tahun depan. Sebabnya, kilau emas mulai tertutup prospek aset berisiko seperti saham yang kini mulai bangkit dari tidurnya. 

Direktur Panin Asset Management Rudiyanto mengungkapkan, penguatan harga emas tahun ini lebih terkait dengan program stimulus Amerika Serikat (AS). Dimana, stimulus dibiayai melalui program cetak uang oleh Bank Sentral AS terkait pandemi COVID-19.

"Ke depan menurut kami (kenaikan harga emas) akan terbatas, karena program cetak uang masih akan terus dilanjutkan. Namun nilainya mungkin tidak sebanyak saat ini," kata Rudiyanto kepada Kontan, Rabu (2/12).

Baca Juga: Harga emas sore ini di Pegadaian, Rabu 2 Desember 2020

Apalagi, ada kemungkinan di era Presiden AS yang baru yakni Joe Biden, Negeri Paman Sam tersebut bisa melakukan pendanaan program stimulus melalui kenaikan tarif pajak.

Di sisi lain, untuk kinerja obligasi baik pemerintah maupun korporasi didukung dengan suku bunga Bank Indonesia (BI) yang terus menurun. Rudiyanto menilai, tahun depan BI Rate masih bisa turun, meskipun ruangnya lebih terbatas sehingga potensi kenaikannya pun bakal lebih terbatas. 

Adapun daya tarik untuk surat utang ke depan lebih banyak datang dari faktor kupon, sehingga tingkat return-nya akan lebih rendah dari 2020. "Menurut kami, saham dan obligasi berpeluang naik tahun depan, didukung pemulihan ekonomi dan tren bunga rendah," tambahnya.

Rudiyanto menambahkan, ke depan sentimen seperti rencana kenaikan tarif pajak Amerika Serikat (AS), pelaksanaan Omnibus Law, pelaksanaan vaksin, dan tren harga komoditas seiring dengan pemulihan ekonomi bakal jadi sorotan pelaku pasar. 

Prediksinya, untuk tahun depan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bakal bergerak pada rentang 6.300 hingga 6.500. Sedangkan untuk prospek yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun bakal berada di kisaran 5,8% hingga 6%.

Baca Juga: Naik Rp 14.000 per gram, simak harga emas Antam selengkapnya untuk Rabu (2/12)

Berdasarkan rangkuman Kontan, instrumen investasi yang berhasil memberikan return atau imbal hasil terbanyak tahun ini adalah emas spot dengan kenaikan mencapai 17,11% secara year to date (ytd) per Oktober. 

Disusul Obligasi pemerintah (Indobex Goverment Bond) yang memberikan return 12,81% dan obligasi korporasi (Indobex Corporate Bond) yang memberikan return 10,34%. Sebaliknya, IHSG jadi instrumen terburuk yang mencatatkan penurunan hingga 10,91% di periode yang sama.

Selanjutnya: Asyik! Harga emas hari ini (2/12) di Butik Emas Antam terbang Rp 14.000 per gram

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×