Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.105
  • EMAS682.000 0,44%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Investor reksadana dollar waspada

Jumat, 06 Juni 2014 / 07:33 WIB


JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) belum mempengaruhi kinerja reksadana berdenominasi dollar AS. Namun investor reksadana perlu waspada jika nilai tukar rupiah terbenam hingga melewati level Rp 12.000 per dollar AS.

Sekadar gambaran, di pasar spot kemarin (5/6), kurs rupiah menguat 0,25% dari hari sebelumnya ke Rp 11.860. Kendati demikian, rupiah telah terpangkas 5,05% dari titik terkuat tahun ini di Rp 11.289 pada 8 April 2014.

PT Infovesta Utama mencatat saat ini terdapat 40 reksadana berdenominasi dollar AS. Meski rupiah jeblok, per 4 Juni 2014, 27 produk yang masih mampu memberikan imbal hasil (return) positif dalam sebulan. Hanya ada 5 produk yang kinerjanya minus dan sisanya tidak bergerak. Kinerja terbaik diraih oleh Danareksa Melati Dollar dengan return 3,86%, Danareksa Melati Platinum Dollar AS 2,17% dan Panin Dana US Dollar 2,03% (lihat tabel).

Head of Operation and Business Development PT Panin Asset Management, Rudiyanto mengatakan saat ini kinerja reksadana dollar masih cukup baik. “Dengan catatan aset dasar reksadana tersebut juga berdenominasi AS,” ungkap Rudiyanto.

Contohnya, PAM mengoleksi obligasi domestik berdenominasi dollar AS sebagai aset dasar Panin Dana US Dollar. Kinerja aset dasar reksadana itu bisa mengurangi resiko kurs rupiah yang memburuk.
“Lain halnya dengan reksadana saham berdenominasi dollar AS. Aset dasarnya harus emiten yang ada di Bursa Efek Indonesia,” ujarnya.
 
Hal itu membuat reksadana jenis ini kena imbas pelemahan rupiah saat mengkonversi nilai aset dasar ke Nilai Aktiva Bersih (NAB) per unit penyertaan dalam bentuk dollar AS.

Direktur PT Sinarmas Asset Management, Jeff Tan bilang untuk memaksimalkan return reksadana dollar AS, MI bisa menyiasatinya dengan berinvestasi pada emiten-emiten yang pendapatan usahanya dalam mata uang dollar AS.

“Seperti emiten sektor pertambangan, kinerjanya naik karena pendapatannya dalam dollar AS,” ujar Jeff.

Strategi Investor

Analis PT Infovesta Utama, Edbert Suryajaya menilai sebulan terakhir pelemahan rupiah belum terlalu mempengaruhi kinerja reksadana dollar AS. Maklum, pelaku pasar menilai nilai tukar rupiah yang wajar berada di rentang Rp 11.000-Rp 12.000.

Tapi jika gerak rupiah di luar ekspektasi, kinerja aset dasar reksadana dollar AS seperti saham dan efek surat utang ikut terpangkas. “Investor harus waspada jika rupiah menyentuh atau melewati Rp 12.000,” ujar Edbert.

Jika hal itu terjadi, Edbert  menyarankan investor melakukan perubahan strategi. Bagi investor yang membutuhkan rupiah, sebaiknya mencairkan seluruh modal beserta imbal hasil yang telah diraih. Tujuannya untuk mengantisipasi penyusutan aset dasar reksadana jika rupiah kian terpuruk.

Bagi investor yang lebih membutuhkan likuiditas dalam dollar AS, cukup menjual 50% dari total modal plus imbal hasil yang didapat. Jika rupiah kembali menguat, sisa unit penyertaan reksadana masih bisa tumbuh. Investor bisa kembali menambah dana di reksadana dollar AS.



Reporter: Noor Muhammad Falih
Editor: Sofyan Nur Hidayat
Video Pilihan

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0519 || diagnostic_web = 0.3313

Close [X]
×