Reporter: Dede Suprayitno | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Posisi investor domestik dalam kepemilikan efek di Indonesia semakin kuat dan dominan. Menguatnya posisi domestik ini sudah terlihat sejak awal 2017.
Mengutip data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pada 6 Januari 2017, kepemilikan efek oleh investor asing mencapai 48,17% dan lokal sebanyak 51,83%. Lalu, per 29 September 2017, investor lokal masih mempertahankan posisinya sebagai pemain dominan.
Bahkan, kini kepemilikan lokal mulai bertambah menjadi 53,69%, sedangkan asing merosot jadi 46,31%. "Hal ini juga dipengaruhi karena investor asing banyak melakukan aksi jual. Sehingga porsinya melemah," kata Reza Priyambada Analis Binaartha Parama Sekuritas kepada KONTAN, Jumat (5/11).
Dia mengatakan, perubahan posisi tersebut juga dipengaruhi sosialisasi tentang investasi yang dilakukan OJK serta Bursa Efek Indonesia. Sehingga, banyak pelaku pasar lokal yang akhirnya tertarik masuk ke pasar modal. "Mereka juga memanfaatkan pelemahan di saat banyak investor asing yang keluar," tutur Reza. Hal ini membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tetap kuat di saat investor asing melakukan aksi jual.
Tapi, dominasi lokal justru membuat pasar saham menjadi memiliki volatilitas yang tinggi. Maklum saja, investor domestik biasanya lebih menyukai investasi jangka pendek dan cenderung sensitif terhadap sentimen. Dengan kata lain, IHSG terlihat lebih rentan terhadap berbagai sentimen pasar. "Investor lokal biasanya investasi untuk short term. Sehingga pasar lebih rentan," kata Reza.
Ia memprediksi, tahun depan, pasar saham masih akan didominasi investor domestik. Sehingga karakter pasar juga tidak berubah. Jadi, jika asing masih melanjutkan aksi jual, investor domestik bisa memanfaatkan momentum untuk masuk.
Kebijakan bank sentral Amerika Serikat juga turut memberi sentimen terhadap pergerakan IHSG. Biasanya, investor lokal cenderung lebih cepat memberikan respons terhadap kebijakan The Fed. Inilah yang membuat pasar menjadi lebih volatil.
Kevin Juido, Kepala Riset Paramitra Alfa Sekuritas, juga bilang, The Fed memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap kebijakan berinvestasi pelaku pasar. Selain itu, faktor keamanan dalam negeri juga punya dampak terhadap keputusan pelaku pasar dalam berinvestasi.
Apalagi tahun depan akan ada sejumlah daerah yang menggelar pemilihan umum kepala daerah. "Pilkada bisa membuat pelaku pasar wait and see," kata Kevin.
Meski begitu, jika hajatan Pilkada bisa berlangsung dengan kondusif, pasar saham tahun depan bisa terdorong positif. Sehingga, dana investor, baik dari investor asing ataupun domestik, bakal terus mengalir masuk.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













