kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45895,84   4,26   0.48%
  • EMAS1.325.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Intip Rekomendasi Saham BSI (BRIS) di Tengah Rumor Akuisisi oleh ADIB


Jumat, 19 April 2024 / 06:10 WIB
Intip Rekomendasi Saham BSI (BRIS) di Tengah Rumor Akuisisi oleh ADIB
ILUSTRASI. Sejumlah analis memberikan rekomendasi saham Bank Syariah Indonesia (BRIS) yang diincar ADIB


Reporter: Adrianus Octaviano | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketertarikan Abu Dhabi Islamic Bank (ADIB) untuk mengakuisisi 15% saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) terus berhembus. Walau belum mencapai sebuah kesepakatan, namun BSI diketahui memang sedang aktif mencari calon investor baru.

Meski demikian, kabar terbaru dari ketertarikan ADIB terhadap emiten berkode saham BRIS ini bisa dibilang lebih maju dibandingkan rumor-rumor calon investor sebelumnya. Sebab, mengutip dari Reuters, Kamis (18/4), pembicaraan tersebut sudah mencapai prospek nilai akuisisi senilai US$ 1,1 miliar.

Tentu, prospek nilai akuisisi tersebut menarik ditelaah mengingat harga saham BSI terus mengalami kenaikan setelah kabar ketertarikan tersebut mencuat. Pada Kamis (18/4), saham BRIS terbang 4,84% dan ditutup di level Rp 2.600 per saham.

CEO Edvisor Praska Putrantyo mengatakan, dengan nilai akuisisi tersebut, harga akuisisi per saham mencapai Rp 2.543. Dengan asumsi, nilai kurs rupiah sebesar Rp 16.000 yang artinya nilai akuisisi sekitar Rp 17,6 triliun.

Baca Juga: BSI Dikabarkan Diincar Abu Dhabi Islamic Bank, Ini Kata Manajemen

“Itu berarti harga sahamnya sekarang sudah priced in untuk yang sekarang,” ujar Praska, kepada KONTAN (18/4).

Berdasarkan hitungannya, price book value (PBV) dari prospek nilai akuisisi tersebut mencapai 2,99x. Sementara, Price to Earning Ratio (PER) yang tercatat mencapai 20x. Artinya, secara valuasi, Praska menilai proyeksi harga akuisisinya sudah relatif mahal.

Ia pun menilai pergerakan saham BSI hingga perdagangan sesi pertama ini sudah rawan untuk terjadi profit taking. Jikalau ada kenaikan, kenaikannya pun terbatas dengan resistance terdekat di level Rp 2.800 per saham.

Meski demikian, Praska bilang pergerakan BRIS ini tak hanya dipengaruhi oleh rumor akuisisi tersebut. Namun, memang fundamental yang dimiliki BSI masih tergolong kuat dengan kinerja terakhir di akhir tahun lalu.

Itu pun tercermin dari pergerakan harga BRIS yang sejak awal tahun mampu melampaui 48.85% secara year to date. Kenaikan tersebut melampaui emiten bank berkapitalisasi besar lainnya seperti BCA, BRI, Bank Mandiri, maupun BNI.

“Rekomendasiya buy on weakness karena harga sudah akselerasi naik signifikan,” ujar Praska.

 

Secara teknikal, Analis Senior Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji mengungkapkan bahwa sejatinya pergerakan harga BRIS ini terus naik dan sudah priced in jauh dari rumor baru ini beredar. Di mana, BSI sendiri sebagai bank syariah terbesar di tanah air memiliki fundamental yang kuat.

Dalam seminggu terakhir, ia melihat BRIS ini sudah terlihat overbought. Sementara secara harian, BRIS sendiri sudah terlihat adanya divergence negatif. Sehingga, Nafan melihat sahamnya pun akan terkonsolidasi terlebih dahulu.

“Ini sambil menunggu kepastian dari kabar akuisisi tersebut karena ini kan sifatnya masih rumor,” ujar Nafan.

Adapun, saat ini Nafan masih merekomendasikan add untuk BRIS dengan target harga di kisaran Rp 2.690 hingga Rp 2.750 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×