kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.025,63   -7,01   -0.68%
  • EMAS932.000 -0,96%
  • RD.SAHAM -1.07%
  • RD.CAMPURAN -0.35%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.08%

Ini penyebab kinerja reksadana saham di bulan Januari paling jeblok


Selasa, 02 Februari 2021 / 08:05 WIB
Ini penyebab kinerja reksadana saham di bulan Januari paling jeblok


Reporter: Danielisa Putriadita | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Kinerja industri reksadana di awal tahun 2021 kurang mumpuni. Mengingat, sebagian besar jenis reksadana mengalami penurunan kinerja. 

Berdasarkan data Infovesta Utama, hanya kinerja reksadana pasar uang yang mencetak kinerja positif di bulan Januari 2021. Bahkan, rata-rata kinerja reksadana saham turun paling dalam di bulan lalu. 

Tercatat rata-rata kinerja reksadana saham di Januari 2021 menurun 4,20% year to date (ytd). Sementara, kinerja reksadana campuran menurun 1,79% ytd. Sedangkan, kinerja reksadana pendapatan tetap menurun 0,53% ytd. Sementara itu, kinerja reksadana pasar uang masih berhasil tumbuh 0,30% ytd

Investment Specialist Sucorinvest AM Toufan Yamin mengatakan, pasar saham tertekan karena imbas spekulasi investor ritel menyebabkan forced sell margin call membuat kinerja reksadana ikut terseret.

Baca Juga: Ini penyebab reksadana saham anjlok hingga 6,62% di pekan lalu

Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana menambahkan, pasar saham dan pasar obligasi cenderung belum bisa tumbuh signifikan karena distribusi vaksin yang dapat meredakan jumlah kasus Covid-19 mulai memudar. Di saat yang sama kasus positif virus corona juga terus naik. 

Selain itu, pemberlakuan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang lebih ketat juga membatasi aktivitas bisnis. Hal ini bisa membuat ekspektasi pelaku pasar terhadap target pertumbuhan ekonomi di kuartal I-2021 meleset. 

"Pelaku pasar pesimistis pada pertumbuhan ekonomi di kuartal I-2021 bisa memicu aksi profit taking, sehingga pasar saham terkoreksi," jelas Wawan. 

Di sisi lain, dia memandang penurunan kinerja rata-rata reksadana saham lebih dalam dari penurunan IHSG yang sebesar 1,95% ytd karena para manajer investasi mulai meracik portofolio reksadananya dengan lebih agresif setelah kinerja IHSG membaik di akhir tahun lalu. 

"MI mulai shifting mencari alfa dengan berani masuk ke saham second liner saat IHSG cenderung bullish di atas 6.000, tetapi setelah IHSG terpuruk kembali, akibatnya penurunan kinerja reksadana saham jadi lebih dalam," ungkap dia.

Sementara itu, Wawan juga menilai penurunan kinerja reksadana pendapatan tetap di awal tahun ini minim dan tidak mengkhawatirkan. Justru dengan kinerja pasar obligasi yang saat ini terkoreksi menjadi kesempatan yang baik bagi investor untuk masuk. 

Baca Juga: Ini klarifikasi BP Jamsostek soal isu trading saham hingga gunakan reksadana tunggal

Wawan menyarankan, sebelum memasuki kuartal II-2021 investor baiknya mengalokasikan investasi 50% di reksadana pendapatan tetap, 30% reksadana saham dan 20% di reksadana pasar uang. 

Jika di kuartal II-2021 efektivitas vaksin sudah mulai terlihat maka investor dapat lebih agresif dengan menempatkan 40% dana di reksadana saham, 40% di reksadana pendapatan tetap dan 20% di reksadana pasar uang. 

Wawan memproyeksikan IHSG di tahun ini berpotensi naik ke 6.600-6.900 atau tumbuh sekitar 10%-15%. Sementara, Toufan menebak, IHSG berpotensi tumbuh ke 6.700-7.000 di tahun ini.

 

Selanjutnya: Haryanto Adikoesoemo borong 3,2 juta saham AKR Corporindo (AKRA)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×