kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45995,71   -11,93   -1.18%
  • EMAS988.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.20%
  • RD.CAMPURAN 0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.12%

Inflasi AS Menyeret Bursa Asia ke Zona Merah pada Kamis (12/5)


Kamis, 12 Mei 2022 / 19:09 WIB
Inflasi AS Menyeret Bursa Asia ke Zona Merah pada Kamis (12/5)
ILUSTRASI. Mayoritas indeks saham di Asia Kamis (12/5) ditutup turun ke zona merah.


Reporter: Akhmad Suryahadi | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mayoritas indeks saham di Asia Kamis (12/5) ditutup turun ke zona merah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memimpin dengan pelemahan hingga 3,17% ke level 6.599,840. Disusul Hang Seng yang melemah 2,24% dan Strait Times Index yang terkoreksi 1,89%.

Tim riset Phillip Sekuritas mengatakan, pelemahan ini terjadi ketika nilai tukar mata uang dolar Amerika Serikat (AS) mencapai level tertinggi dalam dua dekade. Ini terjadi setelah data memperlihatkan tingkat inflasi di Negeri Paman Sam masih akan tinggi. Sehingga hal ini memperdalam kekhawatiran investor mengenai dampak terhadap ekonomi dari kenaikan suku bunga acuan secara agresif oleh bank sentral AS yakni Federal Reserve.

Data inflasi atau consumer price index (CPI) AS untuk bulan April 2022 memberikan indikasi lonjakan inflasi mungkin sudah mencapai puncaknya. Namun inflasi tidak mungkin turun secara drastis dengan cepat dan mengubah rencana Federal Reserve dalam memperketat kebijakan moneter.

Baca Juga: IHSG Anjlok ke 6.599 pada Kamis (12/5) Diiringi Net Sell Asing di Saham Bank

Investor saat ini mempunyai ekspektasi paling tidak kenaikan suku bunga sebesar 50 basis points (bps) akan  dilakukan pada dua pertemuan kebijakan Federal Reserve mendatang, yakni tanggal 15 Juni dan 27 Juli 2022.

Sebagai catatan, data inflasi (CPI) AS untuk bulan Mei akan dirilis 5 hari sebelum pertemuan kebijakan Federal Reserve di bulan Juni. Sehingga, jika inflasi bulan Mei justru keluar lebih tinggi dari kenaikan pada bulan April, maka kenaikan suku bunga sebesar 75 bps adalah sesuatu yang berpeluang besar terjadi.

Prospek perlambatan pertumbuhan ekonomi di luar AS juga menghantam tingkat keyakinan investor dengan perang di Ukraina memberi ancaman terjadinya krisis energi di Eropa. Sementara itu, kebijakan lockdown yang berkepanjangan di China akan memicu kekacauan pada rantai pasok global dan memberi tekanan pada pertumbuhan ekonomi China. 

Baca Juga: IHSG Diproyeksi Rawan Koreksi pada Jumat (13/5)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×