Reporter: Yuliana Hema | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Investor asing membukukan net buy sebesar Rp 570,40 miliar atau setara US$ 31,81 juta saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,17% ke level 5.925,97 pada perdagangan Selasa (13/10/2026). Berikut rekomendasi untuk investor dalam negeri kala asing mulai masuk ke pasar saham Indonesia.
Investor asing mencatatkan aksi beli bersih atau net buy di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam beberapa hari terakhir. Sebelumnya, ketika IHSG anjlok 2,59% atau turun 157,61 poin pada Senin (12/10/2026), investor asing masih mencatatkan net buy sebesar Rp 142,75 miliar atau setara US$ 7,98 juta.
Chief Economist dan Head of Research PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto menilai tekanan terhadap IHSG memperlihatkan kerentanan pasar terhadap konsentrasi indeks dan risiko likuiditas pada saham-saham tertentu.
Menurut Rully, konsentrasi kepemilikan pada sejumlah perusahaan yang terafiliasi dengan konglomerasi berpotensi memperbesar fluktuasi harga ketika investor mengubah posisi investasinya.
"Meskipun kekhawatiran terhadap valuasi dan penyesuaian portofolio mungkin turut berkontribusi terhadap aksi jual, belum terdapat bukti yang cukup untuk mengidentifikasi satu pemicu utama," tulis Rully dalam riset yang dirilis Senin (12/10/2026).
Ia menilai koreksi IHSG merupakan kombinasi dari konsentrasi indeks, sensitivitas likuiditas, dan melemahnya selera risiko investor. Dengan demikian, tekanan pasar tidak serta-merta mencerminkan penurunan fundamental emiten yang dapat diidentifikasi secara jelas.
Baca Juga: Usai Turun Ke Rp 5.925, IHSG Hari Ini (14/10) Diprediksi Rebound Menuju Rp 6.067
Saham yang Paling Banyak Diborong Investor Asing
Berdasarkan data RTI periode 9–13 Oktober 2026, investor asing mencatatkan net buy terbesar pada saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) sebesar Rp 680,44 juta.
Posisi berikutnya ditempati PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP) dengan aksi beli bersih sebesar Rp 183,39 juta.
Arus dana masuk pada kedua saham tersebut menunjukkan adanya aktivitas pembelian asing di tengah tekanan pasar. Namun, investor tetap perlu mencermati fundamental perusahaan, valuasi, dan likuiditas perdagangan sebelum mengambil keputusan investasi.
Baca Juga: Bitcoin Berisiko Turun ke Bawah US$ 80.000, Ini Pemicunya
Net Sell Asing Sepanjang 2026 Tembus Rp 84,28 Triliun
Meski investor asing membukukan net buy dalam beberapa sesi perdagangan terakhir, posisi akumulasi sepanjang tahun masih menunjukkan arus dana keluar yang besar.
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy mengatakan, aksi beli bersih dalam jangka pendek belum cukup untuk menyimpulkan bahwa investor asing telah kembali masuk ke pasar saham Indonesia secara berkelanjutan.
"Namun sepanjang 2026 ini, net sell investor asing terburuk dibandingkan 1998 dan 2008. Oleh karena itu, perlu menunggu apakah asing benar-benar sudah mulai masuk ke pasar saham Indonesia," tuturnya kepada Kontan, Selasa (13/10/2026).
Berdasarkan data yang dikutip dalam naskah sumber, investor asing membukukan net sell sebesar Rp 84,28 triliun sepanjang 2026 hingga Selasa (13/10/2026). Angka tersebut lebih besar dibandingkan posisi net sell asing sepanjang 2008 yang tercatat Rp 50,17 triliun.
Besarnya arus dana keluar tersebut menjadi salah satu tantangan bagi pemulihan pasar saham domestik. Karena itu, konsistensi aliran dana asing dalam beberapa pekan atau bulan mendatang perlu dicermati untuk menilai perubahan sentimen investor global.
Tonton: 80 Juta Penonton, Mengapa Industri Film Indonesia Masih Terkendala Layar Bioskop?
Empat Indikator yang Bisa Memicu Kembalinya Asing
Budi menyebut terdapat empat indikator utama yang perlu diperhatikan untuk melihat peluang masuknya kembali dana asing ke pasar saham Indonesia.
Pertama, stabilitas nilai tukar rupiah. Rupiah yang lebih stabil dapat membantu mengurangi risiko nilai tukar bagi investor asing.
Kedua, pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil atau yield US Treasury. Perubahan tersebut berpotensi memengaruhi daya tarik aset di pasar negara berkembang, termasuk saham Indonesia.
Ketiga, revisi naik terhadap proyeksi laba emiten. Perbaikan prospek keuntungan perusahaan dapat meningkatkan daya tarik saham dari sisi fundamental dan valuasi.
Keempat, kebijakan fiskal yang kredibel dan mendukung daya beli masyarakat. Kebijakan tersebut diharapkan dapat menopang konsumsi domestik serta prospek pertumbuhan ekonomi.
Kombinasi keempat faktor itu dapat menjadi pertimbangan investor global sebelum meningkatkan eksposur mereka terhadap pasar saham Indonesia.
Baca Juga: Hari Ini (14/10) RUPSLB GOTO, Pokok Pembahasan Tarik Saham Treasuri & Manajerial
Reformasi Pasar Modal Jadi Kunci Pemulihan Kepercayaan
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menilai, net buy asing ketika IHSG terkoreksi merupakan sinyal yang patut dicermati. Namun, arus dana tersebut tetap dipengaruhi berbagai sentimen dan strategi investasi.
"Investor sebaiknya tidak langsung menganggap net buy asing sebagai konfirmasi IHSG telah mencapai titik terendah, sebab arus dana harian masih dapat dipengaruhi rebalancing indeks dan strategi jangka pendek," katanya.
Menurut Nafan, reformasi pasar modal yang dijalankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Self-Regulatory Organization (SRO) menjadi fondasi penting untuk memulihkan kepercayaan investor institusi global.
Peningkatan transparansi kepemilikan saham, keterbukaan informasi, dan integritas perdagangan juga dinilai sejalan dengan perhatian MSCI terhadap transparansi struktur kepemilikan serta akurasi pengukuran saham beredar publik atau free float.
"Namun keberhasilan reformasi tidak cukup diukur dari beli bersih asing selama dua atau tiga hari. Pasar membutuhkan perbaikan likuiditas, keterbukaan informasi, kepastian regulasi, dan arus modal asing berkelanjutan," tutur Nafan.
Dengan demikian, keberlanjutan reformasi pasar modal menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan untuk menilai prospek masuknya kembali dana asing ke Indonesia.
Baca Juga: Asing Net Buy Rp 561 Miliar Saat IHSG Turun ke 5.925, Cek Saham yang Banyak Diborong
Strategi Investor Saat IHSG Masih Tertekan
Di tengah volatilitas pasar, Nafan menyarankan investor melakukan akumulasi saham secara bertahap dan tidak terburu-buru melakukan pembelian dalam jumlah besar sekaligus.
Strategi buy on weakness atau membeli ketika harga melemah dapat dipertimbangkan pada saham yang memiliki fundamental memadai. Meski demikian, koreksi harga tidak selalu berarti saham tersebut sudah murah atau memiliki potensi pemulihan dalam waktu dekat.
Investor perlu mempertimbangkan prospek pertumbuhan bisnis, likuiditas perdagangan, dan valuasi emiten setelah koreksi. Selain itu, volume transaksi dan kemampuan harga saham bertahan di area support juga perlu menjadi perhatian.
Aksi beli bersih asing dapat menjadi salah satu indikator tambahan dalam menyusun strategi investasi. Namun, keputusan pembelian sebaiknya tetap didasarkan pada analisis fundamental dan teknikal serta disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor.
Dengan besarnya net sell asing sepanjang 2026, pemulihan IHSG masih membutuhkan dukungan sentimen yang lebih kuat. Stabilitas rupiah, prospek laba emiten, kondisi pasar global, dan keberhasilan reformasi pasar modal akan menjadi faktor penting yang menentukan keberlanjutan arus dana asing ke pasar saham Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














