Reporter: Muhammad Alief Andri | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus mencatatkan rekor tertinggi pada awal 2026 ini. Hal tersebut sejalan dengan tingginya minat investor domestik dan kembalinya alisan dana investor asing ke bursa efek Indonesia. Lalu, saham apa yang memiliki prospek cuan
IHSG mencatatkan kinerja positif sepanjang sepekan terakhir dan ditutup menguat 1,55% ke level 9.075 pada perdagangan Kamis (14/1/2026). Penguatan ini terjadi di tengah meningkatnya volatilitas global, namun tetap ditopang arus dana asing yang kembali masuk ke pasar domestik.
Dalam periode yang sama, investor asing membukukan net buy sebesar Rp 3,2 triliun. Arus dana masuk tersebut mencerminkan respons positif pelaku pasar global terhadap stabilitas makroekonomi Indonesia, terutama di tengah ketidakpastian geopolitik dan kebijakan global.
Baca Juga: Saham Menghuni FCA Ikut Melonjak di Tengah Kenaikan IHSG, Ini Katalis Pendorongnya
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, menjelaskan bahwa pasar global pada pekan lalu bergerak relatif positif. Hal ini dipengaruhi oleh keseimbangan antara stabilnya data ekonomi Amerika Serikat dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
“Inflasi AS stabil dan aktivitas ekonomi tetap kuat, namun sentimen global terganggu oleh rencana tarif baru Presiden Donald Trump terhadap sejumlah negara Eropa,” ujar Imam dalam keterangan resminya, Minggu (18/1/2026).
Inflasi Amerika Serikat pada Desember 2025 tercatat sebesar 2,7% secara tahunan (year on year/YoY), sesuai ekspektasi pasar. Inflasi inti juga bertahan di level 2,6%. Di sisi lain, aktivitas ekonomi AS masih solid, tercermin dari pertumbuhan retail sales sebesar 3,3% YoY dan penurunan initial jobless claims ke level 198 ribu, jauh di bawah perkiraan.
Meski demikian, sentimen pasar global tertahan oleh kebijakan tarif baru AS yang menyasar negara-negara anggota NATO dan memicu respons keras dari Uni Eropa. Hingga akhir pekan, ketidakjelasan dasar hukum dan mekanisme kebijakan tarif tersebut masih menjadi sumber ketidakpastian global.
Tonton: Butuh Rp 74 Triliun Pulihkan Infrastruktur Sumatra, Menteri PU Siapkan Rencana Induk
Dari China, kinerja eksternal dan domestik menunjukkan perbedaan yang kontras. Sepanjang 2025, China mencatat surplus perdagangan rekor sebesar USD 1,189 triliun, dengan ekspor tumbuh 5,5% sementara impor relatif stagnan. Namun, pertumbuhan kredit domestik melemah, tercermin dari outstanding yuan loan growth yang bertahan di 6,4%, level terendah sepanjang sejarah. Bank sentral China (PBOC) pun memberi sinyal ruang pelonggaran kebijakan melalui penurunan suku bunga dan giro wajib minimum.
Di tengah dinamika global tersebut, pasar domestik Indonesia justru menunjukkan ketahanan. Penjualan ritel nasional tumbuh 6,3% YoY pada November 2025, menjadi laju tercepat sejak Maret 2024. Secara bulanan, penjualan ritel juga meningkat 1,5%, tertinggi dalam delapan bulan terakhir.
“Pertumbuhan penjualan terjadi di berbagai kategori, mulai dari makanan dan minuman, suku cadang otomotif, hingga barang rekreasi,” kata Imam.
Selain konsumsi, arus investasi juga menunjukkan perbaikan. Foreign Direct Investment (FDI) pada kuartal IV-2025 tumbuh 4,3% YoY menjadi Rp 256,3 triliun, berbalik arah dari kontraksi sebelumnya. Sektor logam dasar dan pertambangan masih menjadi tujuan utama investasi asing.
Tonton: Istana Panggil OJK Soal Dana Syariah Indonesia, Skema DSI Rugikan Rp 1,4 Triliun
Rekomendasi analis
Memasuki pekan perdagangan 19–23 Januari 2026, IHSG diperkirakan bergerak konsolidatif dengan area support di level 9.000 dan resistance di 9.200. Pelaku pasar akan mencermati rilis data pertumbuhan ekonomi China kuartal IV-2025, data ritel, tingkat pengangguran, serta keputusan Loan Prime Rate (LPR).
Dari dalam negeri, fokus investor tertuju pada keputusan suku bunga Bank Indonesia yang secara konsensus diperkirakan tetap di level 4,75%. Sementara dari Amerika Serikat, rilis Core PCE Price Index akan menjadi perhatian utama pasar.
Merespons kondisi tersebut, IPOT mendorong strategi investasi yang mengombinasikan saham favorit asing dengan instrumen pendapatan tetap untuk menjaga keseimbangan portofolio.
Baca Juga: Fenomena January Effect: Ini Sektor yang Dominasi Pasar Saham 2026
Imam menilai JPFA masih menarik seiring lonjakan anggaran Program Makan Bergizi Gratis 2026 yang meningkat menjadi Rp 335 triliun. Sebagai salah satu produsen unggas terintegrasi terbesar, JPFA dinilai berada pada posisi strategis untuk menangkap peningkatan permintaan protein hewani.
Di sektor perbankan, saham BBRI direkomendasikan seiring derasnya aliran dana asing, dengan catatan net buy Rp 575,7 miliar dalam sepekan terakhir. Masuknya kembali investor global mencerminkan kepercayaan terhadap bank besar Indonesia di tengah fluktuasi pasar regional.
Harga saham BBRI mulai menguat setelah terpuruk ke level 3.600-an pada awal tahun 2026 ini. Pada perdagangan Kamis 15 Januari 2026, harga saham BBRI ditutup di level 3.820, naik 100 poin atau 2,69% dibandingkan sehari sebelumnya. Sejak awal tahun 2026, harga saham BBRI terakumulasi meningkat 180 poin atau 4,95%.
Sementara itu, AADI dinilai memiliki prospek positif sejalan dengan penguatan harga batu bara yang kembali mendekati USD 110 per ton, didorong oleh kebutuhan energi China.
Selanjutnya: Tekanan Darah Berubah Drastis, Ini Efek Samping Ekstrem Diet Air Tanpa Ahli
Menarik Dibaca: Tekanan Darah Berubah Drastis, Ini Efek Samping Ekstrem Diet Air Tanpa Ahli
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












![[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_17122515210200.jpg)
