Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana MSCI menurunkan status pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market memicu tekanan hebat di pasar keuangan domestik.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 11% pada perdagangan Jumat (16/10/2026), menjadi penurunan harian terdalam sejak 1998, sementara nilai tukar rupiah melemah hingga menembus Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Mengutip Reuters, IHSG merosot ke level terendah dalam enam tahun terakhir. Pada saat yang sama, rupiah melemah 0,6% ke Rp 18.070 per dolar AS, level terlemah sejak akhir Juli.
Keputusan MSCI tersebut menjadi pukulan baru bagi pasar modal Indonesia yang sepanjang tahun ini sudah menghadapi tekanan.
Baca Juga: IHSG Anjlok 2,59% di Tengah Rumor Pasar Terkait Sanksi Emiten
Sejak Januari 2026, penyedia indeks global itu membekukan sejumlah perubahan pada indeks saham Indonesia dan mengancam menurunkan status pasar domestik karena persoalan transparansi kepemilikan saham dan pola perdagangan.
Dalam pengumuman terbarunya, MSCI menilai upaya reformasi yang dilakukan Indonesia belum menunjukkan kemajuan memadai untuk mengatasi persoalan tersebut.
"Masih terdapat kekhawatiran signifikan terkait disfungsi pasar," kata MSCI dalam pernyataannya.
MSCI menilai status Indonesia sebagai pasar berkembang tidak lagi tepat. Bahkan, penurunan status menjadi frontier market atau pasar perbatasan dinilai belum mencerminkan tingkat permasalahan yang dihadapi pasar modal Indonesia.
Sebagai gantinya, MSCI mengusulkan klasifikasi standalone market. Status ini akan membuat saham-saham Indonesia tidak lagi masuk dalam indeks global MSCI untuk kategori pasar berkembang maupun pasar perbatasan.
Perubahan tersebut berpotensi memicu arus keluar modal dalam jumlah besar. Pasalnya, sejumlah dana investasi pasif mengikuti komposisi indeks MSCI, sedangkan pengelola dana aktif juga menggunakan indeks tersebut sebagai tolok ukur kinerja investasi.
Baca Juga: IHSG Diprediksi Tertekan Hari Ini (13/10), Cermati 3 Sentimen Penggerak Pasar
UBS memperkirakan penghapusan saham Indonesia dari indeks MSCI dapat memicu arus keluar dana pasif sekitar US$ 4 miliar. Jika ditambah potensi arus keluar dari investor aktif, total dana yang keluar diperkirakan dapat mencapai US$ 19 miliar.
Rencana tersebut mengejutkan pelaku pasar karena muncul sekitar sebulan sebelum jadwal evaluasi MSCI berikutnya. Pengumuman itu juga memicu reaksi dari pemerintah Indonesia.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mempertanyakan keputusan MSCI yang dinilai tidak dibahas dalam pertemuan pada pekan ini di Bangkok.
Ia menyoroti munculnya rencana penurunan status menjadi standalone market, padahal persoalan tersebut tidak dibicarakan dalam pertemuan sebelumnya.
Pemerintah kemudian menggelar pertemuan yang melibatkan sejumlah pejabat terkait, termasuk Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia, untuk membahas dampak pengumuman MSCI.
Sementara itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan telah mengambil langkah konkret untuk meningkatkan transparansi dan integritas pasar modal.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik juga akan meminta penjelasan lebih lanjut kepada MSCI mengenai dasar pertimbangan pengumuman tersebut.
Baca Juga: IHSG Anjlok 2,16% ke 5.814 di Sesi I Kamis (15/10), HRTA, GOTO, DEWA Top Losers LQ45
Tekanan pasar terlihat sejak perdagangan dibuka. Aksi jual investor memicu penghentian sementara perdagangan selama 30 menit di Bursa Efek Indonesia.
Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, mengatakan penghentian perdagangan tersebut merupakan pengalaman yang belum pernah ia temui selama 20 tahun berkarier di pasar saham.
Di sisi lain, Angus Mackintosh, spesialis pasar ASEAN dari Aletheia Capital di Singapura, menilai keputusan MSCI tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi mayoritas perusahaan tercatat maupun perekonomian Indonesia.
Menurut dia, Indonesia telah mengambil sejumlah langkah untuk memperbaiki transparansi pasar dan meningkatkan persyaratan free float, yakni porsi saham yang tersedia untuk diperdagangkan secara publik.
"Ini merupakan peringatan keras bagi Indonesia," kata Mackintosh.
Ia menilai penanganan manipulasi saham secara tegas, termasuk melalui sanksi dan denda berat terhadap pihak yang terlibat, menjadi salah satu langkah penting untuk memulihkan kepercayaan terhadap pasar modal domestik.
Baca Juga: IHSG Ditutup Turun 0,95% ke 5.925, Top Losers LQ45: JPFA, INKP, HRTA, Selasa (13/10)
Manajer investasi ekuitas pasar berkembang Pictet Asset Management, Tan Altundag, menambahkan bahwa rencana MSCI menunjukkan ketidakpuasan terhadap lambatnya reformasi. Kondisi ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai kelayakan pasar saham Indonesia sebagai tujuan investasi.
Tekanan tersebut menambah tantangan bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Sebelumnya, Moody's dan Fitch telah mengubah prospek peringkat kredit Indonesia menjadi negatif dengan menyoroti penurunan kredibilitas kebijakan.
MSCI akan membuka konsultasi dengan pelaku pasar hingga April 2027. Penyedia indeks tersebut menyatakan akan melanjutkan proses reklasifikasi, kecuali terdapat bukti jelas mengenai perbaikan tata kelola dan fungsi pasar.
Jika rencana tersebut diterapkan, Indonesia akan menjadi pasar terbesar yang masuk kategori standalone market. Argentina menjadi contoh negara yang sebelumnya mengalami reklasifikasi serupa.
Baca Juga: IHSG Anjlok 1,94% ke 5.975 di Sesi I Senin (12/10), GOTO, CUAN, EXCL Top Losers LQ45
Bagi pasar modal Indonesia, keputusan akhir MSCI akan sangat menentukan. Perbaikan transparansi kepemilikan saham, integritas perdagangan, serta tata kelola pasar menjadi faktor penting untuk mempertahankan akses saham domestik terhadap investor global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














