Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga tembaga turun ke level terendah dalam hampir tiga pekan pada Selasa (1/4), menuju sesi penurunan kelima berturut-turut karena ketidakpastian mengenai tarif AS lebih mendominasi dibandingkan data positif dari China, konsumen logam terbesar di dunia.
Melansir Reuters, harga tembaga tiga bulan di London Metal Exchange (LME) turun 0,3% menjadi US$9.681 per ton pada 16:00 GMT, setelah menyentuh level terlemah sejak 12 Maret di US$9.669.
Pasar terbebani oleh kekhawatiran atas tarif balasan yang akan diperkenalkan Presiden AS Donald Trump minggu ini.
Baca Juga: Harga Patokan Ekspor (HPE) Konsentrat Tembaga Naik 2,62% di Awal April 2025
“Ada lebih banyak kekhawatiran resesi terkait perlambatan ekonomi, dan aset siklikal lainnya juga mengalami tekanan, sehingga saya pikir itu turut menahan pergerakan tembaga,” kata Nitesh Shah, ahli strategi komoditas di WisdomTree.
Data pada Selasa (1/4) menunjukkan bahwa aktivitas pabrik di seluruh dunia menurun pada Maret karena bisnis bersiap menghadapi tarif baru AS, meskipun China menjadi pengecualian.
Tembaga sempat menguat sebelumnya setelah dua survei terpisah pada Senin dan Selasa menunjukkan sektor manufaktur China berkembang lebih cepat dari perkiraan.
Indeks PMI manufaktur sektor swasta Caixin/S&P Global yang dirilis Selasa menunjukkan aktivitas ekonomi China meningkat karena pabrik bergegas mengirimkan barang sebelum tarif AS mulai berlaku.
Sehari sebelumnya, indeks PMI resmi menunjukkan aktivitas manufaktur tumbuh pada laju tercepat dalam setahun.
Baca Juga: Amman Mineral (AMMN) Ungkap Cadangan Tembaga dan Emas di Cebakan Elang Melonjak
"Saya pikir China akan terus mencoba melawan arus dan memberikan stimulus bagi ekonominya untuk mendorong pertumbuhan domestik guna mengimbangi potensi penurunan ekspor," kata Shah.
Pembelian kontrak tembaga Comex AS mulai mereda setelah sebelumnya meningkat menjelang tarif baru AS.
Kontrak berjangka tembaga AS untuk pengiriman Mei naik 0,2% menjadi $5,04 per pon, menekan premi terhadap tembaga LME menjadi US$1.436 per ton dari rekor tertinggi US$1.578 pekan lalu.
Sementara itu, harga timah LME naik 2,3% menjadi US$37.500 per ton setelah menyentuh level tertinggi sejak Mei 2022 di US$37.565, di tengah kekhawatiran gangguan pasokan akibat gempa bumi di Myanmar, salah satu produsen timah utama, pada Jumat lalu.
Baca Juga: Harga Tembaga LME Melemah ke US$10.050 Rabu (26/3), Dipicu Kekhawatiran Tarif Trump
Di antara logam lainnya, aluminium LME turun 1% menjadi US$2.509 per ton, seng melemah 1% ke US$2.824,50, timbal turun 1% menjadi US$1.991, dan nikel naik 1,2% menjadi US$16.115.
Harga seng dan timbal mencapai level terendah dalam sekitar empat pekan.
Selanjutnya: Harga Minyak Dunia Stabil di Dekat US$75 Saat Pasar Menimbang Tarif dan Sanksi
Menarik Dibaca: KAI Layani 2 Juta Penumpang Selama Angkutan Lebaran
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News