kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Harga saham emiten CPO naik, ini penyebabnya


Rabu, 20 November 2019 / 20:16 WIB
Harga saham emiten CPO naik, ini penyebabnya
ILUSTRASI. Petani sawit mengangkut hasil kebun mereka untuk dibawa ke lokasi loading Terima Buah Sawit (TBS) di Desa Semoi III, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Rabu (28/8/2019). Kenaikan harga saham-saham CPO ini didorong oleh sent

Reporter: Nur Qolbi | Editor: Wahyu Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dalam sebulan ke belakang, sejumlah saham produsen minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) mencatatkan kenaikan harga. Sebut saja saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) yang naik 21,5% ke Rp 13.000 per saham hingga perdagangan Rabu (20/11).

Kemudian, PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) naik 24,55% menjadi Rp 416 per saham, PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) tumbuh 9,06% ke Rp 1.385 per saham, dan PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) naik 7,51% menjadi Rp 372 per saham.

Ada juga saham PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) yang tumbuh 11,11% dalam sebulan menjadi Rp 900 per saham, lalu PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) naik 2,38% ke Rp 860 per saham, dan PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) naik 7,59% ke Rp 2.410 per saham.

Baca Juga: Malaysia terapkan mandatori B20 tahun 2020, Airlangga: Harga minyak sawit akan naik

Analis Artha Sekuritas Nugroho Fitriyanto mengatakan, kenaikan harga saham-saham CPO ini didorong oleh sentimen kenaikan permintaan CPO domestik, baik di Indonesia maupun Malaysia. Alasannya, Malaysia mulai tahun depan juga akan menerapkan program bahan bakar campuran biodiesel 20% (B20) yang telah dijalankan Indonesia sejak 1 September 2018.

Sementara itu, permintaan domestik Indonesia juga diprediksi meningkat karena pemerintah akan menguji coba program bahan bakar campuran biodiesel 30% (B30) mulai pekan depan. Kemudian, pemerintah rencananya akan secara resmi memberlakukan program tersebut per 1 Januari 2020.

Di sisi lain, jumlah CPO dari segi pasokan berkurang karena late monsoon yang terjadi di Indonesia dan Malaysia turut memengaruhi produksi tandan buah segar (TBS) pada semester II-2019. "Sehingga dari dua hal itu, inventory CPO berpotensi turun dan dapat mendukung kenaikan harga CPO. Itu yang jadi katalis positif utama saat ini," kata Nugroho kepada Kontan.co.id, Rabu (20/11).

Baca Juga: Ini strategi Malaysia dan Indonesia untuk hadapi kritik soal kelapa sawit

Untuk jangka menengah dan jangka panjang, menurut Nugroho, investor perlu melihat signifikansi konsumsi CPO dari penerapan B30 di Indonesia dan B20 di Malaysia terlebih dahulu. "Secara historis, mandatori B20 di Indonesia cukup signifikan untuk boosting konsumsi domestik," ucap dia.

Sementara untuk jangka pendek, dia menilai saham AALI dan LSIP cukup menarik. AALI dipilih karena memiliki yield produksi TBS yang paling tinggi di antara perusahaan-perusahaan lain di sektor yang sama. Sementara LSIP dipilih karena memiliki posisi keuangan yang masih solid dengan utang yang rendah, serta extraction rate yang tinggi untuk produksi CPO.

Baca Juga: Laju Kenaikan Harga CPO Terhenti, Begini Proyeksinya untuk Pekan Depan

Menurut Nugroho, harga saham-saham CPO masih bisa naik lagi ke depannya. Pasalnya, adanya kenaikan harga CPO dan sentimen positif dari pasar berpotensi memperbaiki laba bersih emiten CPO.

Dari segi price book value ratio (PBVR), emiten CPO rata-rata masih berada kisaran 1 kali hingga 1,5 kali yang mayoritas masih berada di bawah rerata lima tahunnya. AALI memiliki PBVR 1,32 kali dan LSIP 1,15 kali.


Tag

Video Pilihan

TERBARU

Close [X]
×