kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45895,84   4,26   0.48%
  • EMAS1.325.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Harga Saham BSI (BRIS) Melonjak 15,83% pada Rabu (15/2), Simak Rekomendasi Analis


Kamis, 16 Februari 2023 / 05:55 WIB
Harga Saham BSI (BRIS) Melonjak 15,83% pada Rabu (15/2), Simak Rekomendasi Analis


Reporter: Maizal Walfajri | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) melonjak 15,83% ke level Rp 1.610 pada penutupan pasar saham Rabu (15/2). Padahal, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun tipis 0,39% ke level 6.914.

Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani menilai berdasarkan fundamental dan kinerja keuangan, BRIS cukup solid hingga saat ini. Tercermin dari pertumbuhan laba bersih meningkat lumayan besar di akhir 2022 lalu. 

“Serta berdasarkan valuasi PER (price to earning ratio) dan PBV (price to book value) masih undervalued dibandingkan sama rata-rata emiten perbankan,” ujar Arjun kepada Kontan.co.id pada Rabu (15/2). 

Baca Juga: Wamen BUMN: Perbankan Syariah Cocok untuk Pembiayaan Infrastruktur

Ia menyatakan berdasarkan data Infovesta, rata-rata PBV untuk emiten perbankan berdasarkan data penutupan 14 Februari 2023 lalu di posisi 3,24 kali. Sedangkan PBV BRIS pada 15 Februari 2023 ada di level 2,22 kali. 

“Namun investor menurut saya lebih baik cermati waktu yang baik untuk masuk saham ini karena sudah auto reject atas (ARA) hari ini. Juga ada kemungkinan akan koreksi harga saham nya karena sudah menuju ke harga resistance pada Juli tahun lalu,” katanya. 

Ia mengatakan lebih baik untuk menahan diri (hold) untuk investor yang sudah memiliki sahamnya di BRIS. Sedangkan untuk investor yang mau masuk, ia menyarankan untuk wait and see terlebih dahulu. 

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berencana untuk mengocok ulang posisi pemegang saham di PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS).  
Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) II Kartika Wirjoatmodjo mengatakan saat free float BRIS sudah mencapai 9,91% di pasar saham. 

Ia menyatakan porsi kepemilikan saham masyarakat akan terus ditambah ke depannya. Tiko panggilan akrab Kartika menyatakan akan tetap mempertahankan Bank Mandiri sebagai pemegang saham pengendali dan pemerintah akan tetap memegang saham dwiwarna. 

“Memang BNI dan BRI keluar secara perlahan dari BSI. Ini akan kita lihat peluangnya pasarnya, bila BNI dan BRI mulai exit kira-kira siapa yang bisa gantikan dan berapa besar sizenya,” ujar Tiko pada sela-sela acara BSI Global Islamic Finance Summit 2023. 

Ia menyatakan telah melakukan pembicaraan dengan beberapa potensial investor. Kendati demikian, Tiko ingin investor baru nantinya adalah global banking agar BSI bisa terus naik kelas menjadi bank kelas dunia. 

Pada aksi rights issue BRIS terakhir kali di Desember 2022 lalu, BNI hanya menggunakan separuh haknya. Sedangkan, BRI tidak menggunakan haknya sama sekali pada aksi penguatan modal bank syariah terbesar di Indonesia ini. 

Baca Juga: Kementerian BUMN Ingin Bank Syariah Indonesia Jadi Global Wholesale Banking

Oleh sebab itu, kepemilikan saham BBRI di BSI turun dari 17,25% menjadi 15,38% pasca rights issue. Sedangkan, kepemilikan BBNI menyusut dari 24,85% menjadi 23,24%. 

Sedangkan BMRI selaku pemilik saham pengendali telah melaksanakan seluruh haknya. Sehingga kepemilikan Bank Mandiri di BSI naik dari 50,83% menjadi 51,47%.

Asal tahu saja, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) membukukan laba bersih sebesar Rp 4,26 triliun pada akhir 2022. Nilai itu tumbuh 40,68% secara tahunan dari Rp 3,02 triliun pada tahun 2021.  

Direktur Utama BSI Hery Gunardi menyampaikan kinerja itu ditopang oleh pertumbuhan bisnis yang sehat dari segmen retail dan wholesale. Juga didukung oleh peningkatan dana murah, kualitas pembiayaan yang baik, efisiensi dan efektivitas biaya dan fee based income.

BSI berhasil menghimpun dana pihak ketiga (DPK) Rp 261,49 triliun pada tahun 2022, tumbuh tumbuh 12,11% dari periode yang sama tahun sebelumnya.  

Sedangkan pembiayaan BSI tumbuh 21,26% menjadi Rp 207,70 triliun. Sementara itu, aset BSI mencapai Rp 305,73 triliun pada 2022. Nilai itu tumbuh 15,24% dari posisi 2021 sebesar Rp 265,28 triliun.

Seiring dengan itu, kualitas pembiayaan juga meningkat dengan non performing financing (NPF) dari 2,93% di 2021 menjadi 2,42% di 2022. 
Di sisi lain, BSI peningkatan fee based income BSI Mobile mencapai Rp 251 miliar, tumbuh 67% secara tahunan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×