kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

Harga paladium kembali tertekan


Rabu, 16 Desember 2015 / 16:46 WIB
Harga paladium kembali tertekan


Reporter: Maggie Quesada Sukiwan | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Harga paladium kembali terlempar. Belum pulihnya permintaan dari Negeri Tirai Bambu menggerus komoditas ini.

Mengacu Bloomberg, Rabu (16/12) pukul 13.27 WIB, harga paladium kontrak pengiriman Maret 2016 di bursa New York Merchantile Exchange merosot 0,34% ketimbang hari sebelumnya menjadi US$ 565 per ons troi. Sepekan, harga paladium menukik 2,29%.

Ibrahim, Pengamat Komoditas SoeGee Futures menjelaskan, harga paladium memang sedang berbalut tren bearish (turun).

Memang ada katalis positif dari China yang merilis data output industri (industrial production) per November 2015 yang tumbuh 6,2% (yoy). Angka tersebut lebih tinggi ketimbang kenaikan pada Oktober 2015 yang tercatat 5,6% (yoy).

“Sedikit lebih baik tapi bukan berarti perekonomian China sudah mengalami perbaikan. Hasil akhirnya kita lihat dari data pertumbuhan ekonomi China yang akan dirilis pada Januari 2015,” paparnya.

Ibrahim berpendapat, pelaku pasar menanti peluncuran data pertumbuhan ekonomi Negeri Tirai Bambu per kuartal IV 2015 di mana pemerintah China menduga bakal di level 7%. Sementara Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi akan bertengger di angka 6,8%. Adapun per kuartal III 2015, ekonomi Negeri Panda tercatat 6,9%.

Di sisi lain, lanjut Ibrahim, perlambatan ekonomi China juga menyeret permintaan paladium domestiknya. Perusahaan-perusahaan paladium di negeri tersebut juga memangkas kuota produksi guna menahan kerugian akibat harga paladium yang tertekan sepanjang tahun 2015. Maklum, China merupakan produsen sekaligus pengguna komoditas terbesar di dunia.

“China memiliki cadangan paladium yang dibelinya dari luar negeri. Tapi permintaan internalnya berkurang karena industri China sedang melambat,” jelasnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×