kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.944.000   4.000   0,21%
  • USD/IDR 16.370   -48,00   -0,29%
  • IDX 7.952   15,91   0,20%
  • KOMPAS100 1.106   -0,20   -0,02%
  • LQ45 812   -1,90   -0,23%
  • ISSI 268   1,83   0,69%
  • IDX30 421   0,16   0,04%
  • IDXHIDIV20 488   0,14   0,03%
  • IDX80 122   -0,19   -0,16%
  • IDXV30 132   0,97   0,74%
  • IDXQ30 136   0,14   0,10%

Harga minyak tunggu keputusan The Fed dan OPEC


Selasa, 06 Oktober 2015 / 21:06 WIB
Harga minyak tunggu keputusan The Fed dan OPEC


Reporter: Wuwun Nafsiah | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. Tingginya pasokan terus menekan harga minyak. Produsen minyak baik yang tergabung dalam OPEC maupun non-OPEC enggan membatasi produksi meski permintaan melambat.

Sejak awal tahun harga minyak sudah tergerus 21%. Sedangkan di sepanjang kuartal III-2015 minyak turun 26%. Harga minyak mencatat level terendahnya pada kuartal ketiga tahun ini yakni di US$ 38,93 per barel pada akhir Agustus lalu.

Mengutip Bloomberg, Selasa (6/10) pukul 17.19 WIB harga minyak kontrak pengiriman November 2015 di bursa New York Merchantile Exchange turun tipis 0,3% ke level US$ 46,11 per barel.

Nizar Hilmy, analis SoeGee Futures mengatakan, turunnya harga minyak di sepanjang tahun ini disebabkan oleh tiga faktor yakni pasokan yang melimpah, turunnya permintaan serta penguatan nilai tukar dollar AS.

Namun demikian, minyak sempat bangkit sepajang kuartal kedua tahun ini. Harga minyak pun mencatat level tertinggi di awal bulan Mei pada US$ 63,66 per barel. Kala itu merupakan driving season di Amerika Serikat (AS) sehingga meningkatkan permintaan bahan bakar minyak (BBM).

Di saat yang sama terjadi musim badai yang mengganggu produksi minyak AS. "Saat dua faktor itu berlalu harga minyak kembali jatuh lagi," ujar Nizar.

Harga minyak saat ini masih konsolidasi lantaran pelaku pasar sedang menunggu keputusan The Fed terkait kenaikan suku bunga. Jika suku bunga naik, maka nilai tukar dollar AS akan semakin melambung sehingga menekan harga minyak. Sebaliknya, jika jika suku bunga ditahan maka harga minyak berpotensi naik.

Meski demikian, kenaikan harga minyak cenderung terbatas mengingat kondisi oversupply dan rendahnya permintaan. Pada akhir tahun ini negara pengekspor minyak yang tergabung dalam OPEC akan mengadakan pertemuan rutin.

Jika OPEC bersedia membicarakan kelebihan pasokan minyak dan sepakat untuk melakukan penyesuaian harga maka dapat mendukung kenaikan harga. "Dari berita terakhir, Rusia siap bertemu dengan OPEC untuk membicarakan pasokan. Hal ini menjadi sinyal positif bagi kenaikan harga minyak," lanjut Nizar.

Sementara dari sisi permintaan, Nizar belum melihat adanya perubahan signifikan mengingat kondisi China sebagai konsumen minyak terbesar masih mengalami perlambatan ekonomi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] AI-Powered Scenario Analysis AYDA dan Penerapannya, Ketika Debitor Dinyatakan Pailit berdasarkan UU. Kepailitan No.37/2004

[X]
×