kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.819.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.618   65,00   0,37%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Harga minyak rebound menanti data stok EIA


Rabu, 15 Maret 2017 / 15:19 WIB


Reporter: Namira Daufina | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. Harga minyak mentah jenis  West Texas Intermediate (WTI) berhasil rebound signifikan, Rabu (15/3). Salah satu dukungannya datang dari laporan penurunan stok minyak mentah Negeri Paman Sam.

Mengutip Bloomberg, Rabu (15/3) pukul 12.57 WIB harga minyak WTI kontrak pengiriman April 2017 di New York Mercantile Exchange melambung 1,74% ke level 48,55 per barel dibanding hari sebelumnya.

Dari laporan American Petroleum Institute, stok minyak mentah AS turun 531.000 barel pekan lalu dibanding pekan sebelumnya. Hanya saja kini memang pelaku pasar masih menantikan data yang akan dirilis resmi oleh pemerintah melalui Energy Information Administration (EIA) pada malam hari nanti.

Diduga, stok masih akan naik 3,3 juta barel dan menjadi kenaikan yang sudah berlangsung selama 10 pekan terakhir.

Hanya saja jika pun tercatat naik seperti dugaan, kenaikan pekan ini jauh lebih kecil dari pekan sebelumnya yang mencapai 8,2 juta barel. Beban tidak hanya datang dari AS tapi juga dari laporan produksi Arab Saudi yang naik 263.300 barel per hari pada Februari 2017 lalu.

Jelas ini menjadi beban bagi harga minyak mentah walau memang kenaikan produksi Arab Saudi ini masih di bawah batas maksimum produksi yang ditetapkan dalam rangka mengikuti aturan pemangkasan produksi OPEC.

"Penurunan sudah berlangsung beberapa waktu terakhir jadi kalau ada rebound sesaat seperti saat ini ya sifatnya wajar saja. Nantinya data resmi dari pemerintah melalui EIA akan punya dampak yang besar. Karena sampai sekarang pasar masih mengkhawatirkan kenaikan produksi di AS," kata Michael McCarthy, Chief Market Strategist CMC Markets seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (15/3).

Karena memang sampai saat ini stok minyak AS sudah mencapai 528,4 juta barel atau level tertingginya sejak 1982 lalu. Jika kenaikan terus terjadi maka pemangkasan produksi yang dilakukan OPEC bisa saja menjadi tidak berpengaruh pada keseimbangan harga sebagaimana yang diharapkan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×