kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.917.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.789   -61,00   -0,36%
  • IDX 8.975   24,32   0,27%
  • KOMPAS100 1.244   9,59   0,78%
  • LQ45 882   8,84   1,01%
  • ISSI 330   0,91   0,28%
  • IDX30 451   1,60   0,36%
  • IDXHIDIV20 533   1,62   0,31%
  • IDX80 138   1,09   0,79%
  • IDXV30 147   -0,35   -0,24%
  • IDXQ30 145   0,87   0,61%

Harga Emas Cetak Rekor US$ 5.100, Ketegangan Geopolitik Picu Perburuan Aset Aman


Selasa, 27 Januari 2026 / 04:58 WIB
Harga Emas Cetak Rekor US$ 5.100, Ketegangan Geopolitik Picu Perburuan Aset Aman
ILUSTRASI. Emas batangan (Sven Simon/IMAGO via REUTERS)


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga emas dunia kembali mencetak rekor tertinggi pada perdagangan Senin (26/1/2026), menembus level US$ 5.100 per ons. 

Lonjakan ini dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik global yang mendorong investor beralih ke aset aman (safe haven). Kenaikan tajam juga terjadi pada perak dan platinum yang sama-sama menyentuh rekor baru.

Harga emas spot naik sekitar 2% ke US$ 5.077,22 per ons pada siang hari waktu New York, setelah sempat menyentuh rekor US$ 5.110,50. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari ditutup menguat 2,1% di level US$ 5.082,50 per ons.

Baca Juga: Harga Emas Cetak Rekor Baru, Tembus US$ 3.900 per Ons di Tengah Gejolak Global

Penguatan emas terjadi di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi yang masih tinggi. Presiden Sprott Inc, Ryan McIntyre, mengatakan harga emas terus ditopang oleh meningkatnya risiko global. 

Selain itu, bank sentral di berbagai negara tetap agresif membeli emas untuk mendiversifikasi cadangan devisa dan mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Arus dana investor ke exchange-traded fund (ETF) berbasis emas fisik juga kembali meningkat signifikan.

Sentimen pasar kian memanas setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan akan mengenakan tarif 100% terhadap Kanada jika negara itu melanjutkan kesepakatan dagang dengan China. 

Pernyataan ini menambah daftar ketegangan geopolitik yang menjadi katalis penguatan harga logam mulia sepanjang tahun ini.

Kepala riset BullionVault, Adrian Ash, menilai pergerakan harga logam mulia saat ini sangat dipengaruhi dinamika politik AS. 

Baca Juga: Harga Emas Cetak Rekor Tertinggi, Dipicu Pelemahan Dolar dan Shutdown Pemerintah AS

Menurutnya, gelombang investor ritel baru, terutama dari Asia dan Eropa, berbondong-bondong menambah kepemilikan emas dan perak sebagai lindung nilai.

Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati peluang intervensi mata uang terkoordinasi antara AS dan Jepang, serta agenda rapat Federal Reserve pekan ini yang diperkirakan menahan suku bunga. 

Namun, perhatian investor teralihkan oleh tekanan politik terhadap Ketua The Fed Jerome Powell, termasuk penyelidikan kriminal oleh pemerintahan Trump dan dorongan untuk menurunkan suku bunga.

Prospek penurunan suku bunga menjadi sentimen positif bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil. Sepanjang tahun ini, harga emas telah naik hampir 18%, setelah melonjak 64% sepanjang 2025. 

Tahun lalu, emas juga mencatat sejarah dengan menembus level US$ 3.000 dan US$ 4.000 per ons untuk pertama kalinya.

Baca Juga: Harga Emas Cetak Rekor Baru, Diprediksi Sentuh US$ 3.800 per Ons Troi di Akhir 2025

Sejumlah analis masih melihat ruang kenaikan lanjutan. Societe Generale memperkirakan harga emas berpotensi mencapai US$ 6.000 per ons pada akhir tahun, meski menilai proyeksi tersebut bisa jadi masih konservatif. 

Morgan Stanley juga menilai reli dapat berlanjut dengan target optimistis di kisaran US$ 5.700 per ons.

Lonjakan tajam juga terjadi pada perak. Harga perak spot mencetak rekor baru di US$ 117,69 per ons dan terakhir naik 10,2% ke US$ 113,46. Harga perak telah menembus level psikologis US$ 100 sejak akhir pekan lalu, didorong aksi beli investor ritel dan ketatnya pasokan fisik. 

Analis UBS Giovanni Staunovo menyebut momentum perak masih kuat, meski harga tinggi berpotensi menekan permintaan industri.

Sementara itu, harga platinum spot naik 1,8% ke US$ 2.816,38 per ons setelah sempat menyentuh rekor US$ 2.918,80. Palladium juga melonjak 5,9% ke US$2.127,68 per ons, tertinggi sejak 2022.

Selanjutnya: IHSG Hijau Tapi 8 Sektor Merah, Bagaimana Prediksi Hari Ini (27/1)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×