kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.695   51,92   0,92%
  • KOMPAS100 735   7,36   1,01%
  • LQ45 557   3,64   0,66%
  • ISSI 198   1,89   0,96%
  • IDX30 316   1,31   0,42%
  • IDXHIDIV20 389   -0,57   -0,15%
  • IDX80 83   0,64   0,78%
  • IDXV30 106   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 102   0,12   0,12%

Harga aluminium melemah seiring rencana China genjot produksi


Senin, 05 Maret 2018 / 15:25 WIB
ILUSTRASI. Pabrik Aluminium PT Inalum


Reporter: RR Putri Werdiningsih | Editor: Dupla Kartini

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberlakukan bea impor produk baja dan aluminium asal China, perusahaan pelat merah negeri tirai bambu itu justru tengah berencana meningkatkan produksi. Rencana tersebut berpotensi menghambat laju harga aluminium global.

“Produsen aluminium milik negara di China akan menjadi lebih besar dan mungkin lebih kuat di industri ini," kata Jackie Wang, analis CRU seperti dikutip Reuters, Senin (5/3).

Menurut survei Reuters, ada sekitar 3 juta-4 juta kapasitas baru yang akan mulai beroperasi pada tahun ini. Jumlah tersebut setara dengan 10% produksi China.

Tak hanya mempengaruhi harga global, rencana tersebut juga mengancam nasib produsen aluminium swasta di China. Bahkan beberapa diantaranya telah memutuskan untuk tidak membuka pabrik setelah penutupan pada musim dingin lalu. Saat itu penutupan dilakukan untuk mengurangi tingkat polusi. Tapi, kini penutupan pabrik dilakukan karena pasokan yang berlebih.

Kondisi ini telah memicu harga aluminium kembali melemah setelah sempat menguat pada akhir pekan lalu. Mengutip Investing.com, harga aluminium kontrak pengiriman tiga bulanan di London Metal Exchange (LME) pada Senin (5/3) pukul 15.00 WIB turun 0,30% ke level US$ 2.144,50 per metrik ton.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×