kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45895,84   4,26   0.48%
  • EMAS1.325.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Faktor Pendukung Kenaikan Reksadana Pasar Uang


Jumat, 19 Agustus 2022 / 05:05 WIB
Faktor Pendukung Kenaikan Reksadana Pasar Uang


Reporter: Aris Nurjani | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Menurut data industri dari Infovesta jumlah dana kelolaan reksadana per Juli 2022 telah mencapai Rp 564 triliun dengan rincian Rp 518 triliun untuk produk reksadana konvensional dan Rp 46 triliun untuk produk reksadana berbasis syariah.

Sepanjang 2022 secara year to date (YTD), jumlah dana kelolaan reksadana turun 8.92%. 

Head of Investment Specialist and Product Development Sucorinvest Asset Management, Lolita Liliana, mengatakan menurut data industri dari Infovesta, unit penyertaan (UP) reksadana pasar uang mengalami kenaikan secara bulanan sebesar 1.28% (per Juli 2022) seiring kenaikan pada dana kelolaan dari 65.6 juta UP menjadi 66.5 juta UP. 

"Volatilitas pasar di tengah era inflasi dan kenaikan suku bunga yang masih cukup tinggi telah menyebabkan appetite risiko investor menjadi turun dan cenderung beralih ke kelas aset yang lebih minim risiko seperti reksadana pasar uang," ujar Lolita kepada Kontan.co.id, Kamis (18/8). 

Baca Juga: Reksadana Pasar Uang Mengalami Kenaikan pada Juli 2022

Lolita menyampaikan kondisi fundamental Indonesia masih solid dengan tingkat inflasi yang moderat, maka tidak ada urgensi bagi Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga secara signifikan seperti AS, Inggris, dan negara lainnya. 

"Hal ini membuat suku bunga untuk produk di kelas aset pasar uang seperti time deposit hingga yield (imbal hasil) dari obligasi/sukuk durasi pendek di bawah satu tahun cenderung stabil,"ucapnya.

Lolita menambahkan secara keseluruhan kinerja reksadana pasar uang masih optimal dan dapat dikelola ke depannya dengan menyesuaikan kondisi pasar seiring kenaikan suku bunga BI di semester II-2022. 

Menurut Lolita, imbal hasil di bulan Juli secara keseluruhan cukup positif untuk reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap, reksadana campuran dan reksadana saham Sucorinvest. 

Baca Juga: Solusi Berinvestasi Reksadana, Bibit Hadirkan Fitur Robo Advisor dan Nabung Rutin

"Hal ini terjadi mengingat BI belum melakukan penyesuaian moneter dan pemulihan ekonomi terus berlanjut, ditandai oleh pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal 2-2022 sebesar 5.44%," Tuturnya. 

Menurutnya, sejauh ini rilis laporan keuangan kuartal II yang cukup positif dari sektor terkait pertumbuhan ekonomi seperti komoditas, perbankan, dan ritel juga telah menopang pergerakan IHSG sehingga performa portfolio reksadana terkait saham turut menguat. 

Sejauh ini rilis laporan keuangan dari emiten di kuartal 2-2022 telah banyak menopang kinerja IHSG karena mayoritas berada diatas ekspektasi pasar. Selain itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terus berlanjut didukung oleh surplus dagang RI selama 27 bulan terakhir telah menjaga stabilitas rupiah dan memberikan outlook optimistis untuk Indonesia. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×