kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.765.000   -24.000   -0,86%
  • USD/IDR 17.676   -60,00   -0,34%
  • IDX 6.319   -52,18   -0,82%
  • KOMPAS100 832   -10,94   -1,30%
  • LQ45 631   -4,14   -0,65%
  • ISSI 225   -2,77   -1,22%
  • IDX30 360   -1,39   -0,38%
  • IDXHIDIV20 449   1,48   0,33%
  • IDX80 96   -1,08   -1,12%
  • IDXV30 124   -0,84   -0,68%
  • IDXQ30 118   0,53   0,46%

ERAA optimis kantongi laba Rp 225 miliar


Senin, 14 Desember 2015 / 20:28 WIB


Reporter: Narita Indrastiti | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) optimistis bisa mengejar target laba bersih sebesar Rp 225 miliar pada akhir tahun ini. Hal itu terlihat dari capaian kinerja sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini.

Penjualan ERAA juga diproyeksi tak meleset dari target yakni Rp 15,5 triliun atau tumbuh 7,6% dibandingkan pendapatan tahun lalu yang sebesar Rp 14,4 triliun. Laba bersih ERAA pada tahun lalu sebesar Rp 211 miliar.

Djatmiko Wardoyo, Sekretaris Perusahaan ERAA mengatakan, hingga September, ERAA sudah menjual 10 juta unit ponsel. Penjualan itu naik 34,9% dibandingkan penjualan di periode yang sama tahun lalu.

"Sampai akhir tahun, kami optimis target bisa tercapai, karena penjualan yang cukup tinggi," ujarnya di Jakarta, Senin (14/12).

Ia mengatakan, di sisa tahun ini, ERAA masih menggeber pembangunan beberapa gerai baru. Saat ini sudah ada 538 gerai penjualan yang dimiliki ERAA. Targetnya, sampai tutup tahun, gerai ERAA akan bertambah menjadi 560 gerai yang menjual 18 merek ponsel.

Penambahan gerai ini diharapkan bisa makin mendorong penjualan. Apalagi, tambah Djatmiko, pasar penjualan handphone melalui online belum menggeser penjualan yang dilakukan secara offline melalui toko atau gerai.

"Pada bulan Desember ini masih banyak gerai yang bakal dibuka di beberapa mall. Kami juga akan membuka gerai yang hanya menjual handphone khusus merek Xiaomi," ujarnya.

Tahun lalu, harga rata-rata penjualan ponsel di ERAA berkisar Rp 3,1 juta. Kini sudah turun menjadi Rp 2 juta hingga Rp 3 juta. Maklum, ponsel pintar asal Taiwan dan China (Taichi) dengan harga miring semakin membanjiri pasar domestik.

Sayangnya, Djatmiko belum bisa memberikan target pendapatan dan belanja modal tahun depan, lantaran masih dalam tahap penghitungan. Namun, ia optimistis, penjualan ponsel masih akan tumbuh karena permintaan yang besar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Berita Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×