kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Emiten konstruksi genjot recurring income, berikut rekomendasi analis


Senin, 02 Desember 2019 / 20:12 WIB
Emiten konstruksi genjot recurring income, berikut rekomendasi analis
ILUSTRASI. Layar pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta.

Reporter: Benedicta Prima | Editor: Herlina Kartika

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menyambut tahun baru, beberapa emiten konstruksi bersiap menjalankan strategi jitu. Setidaknya tiga emiten konstruksi pelat merah yang dihubungi Kontan.co.id menyatakan mereka fokus menggenjot penerimaan berulang (recurring income). 

Misalkan saja PT PP Tbk (PTPP). Beberapa waktu silam Direktur Keuangan PTPP Agus Purbianto mengatakan strategi perusahaan ke depan adalah melakukan divestasi yang perolehannya nanti akan digunakan untuk investasi ke aset yang menghasilkan recurring income

Kemudian PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) menargetkan dalam empat tahun ke depan porsi recurring income bisa mencapai 25% dari posisi saat ini sekitar 2,5%. 

Sedangkan PT Waskita Karya Tbk (WSKT) juga menargetkan porsi recurring income bisa meningkat. 

Baca Juga: Wijaya Karya (WIKA) proyeksikan porsi recurring income capai 25% dalam empat tahun

Kepala Riset Koneksi Kapital Indonesia Marolop Alfred Nainggolan mengatakan tren tersebut wajar terjadi karena perusahaan harus menciptakan kepastian pendapatan yang lebih baik. 

"Dengan adanya recurring ada kepastian tahun depan akan tetap ada pendapatan. Kalau konstruksi kan based on proyek, putus cari proyek lain," ujar Alfred saat dihubungi Kontan.co.id, Senin (2/12). 

Lebih lanjut, Alfred melihat saat ini hampir semua emiten konstruksi bergerak ke arah yang sama yaitu memiliki bisnis properti. Tak dapat dipungkiri sektor properti memang bisa menghasilkan recurring income. 

Di sisi lain, perusahaan properti juga melirik bisnis pengelolaan air minum dan sektor energi. 

Dari sisi pasar, sektor pengelolaan air minum cukup prospektif karena merupakan kebutuhan dasar manusia seiring sulitnya mendapatkan air bersih. 

Namun, Alfred menilai bisnis tersebut sulit berkembang karena sudah banyak pemain besar sebelum emiten konstruksi masuk.

Dengan upaya tersebut, Alfred mengatakan penilaiannya terhadap perusahaan tak banyak dilihat dari recurring income. 

Baca Juga: Anggarkan capex Rp 10 miliar, TOTL belum memperbesar porsi recurring income

"Karena porsi juga tidak terlalu besar, kami dari valuasi kalau paling murah WIKA," imbuh Alfred. 

Selain itu, Alfred menilai WIKA masih menunjukkan kinerja yang solid meski pendapatan sempat tertekan di kuartal III-2019 kemarin.




TERBARU

×