kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.799.000   25.000   0,90%
  • USD/IDR 17.900   47,00   0,26%
  • IDX 6.127   -2,81   -0,05%
  • KOMPAS100 807   -1,47   -0,18%
  • LQ45 611   -9,23   -1,49%
  • ISSI 216   0,35   0,16%
  • IDX30 348   -6,56   -1,85%
  • IDXHIDIV20 426   -11,92   -2,72%
  • IDX80 93   -0,89   -0,95%
  • IDXV30 118   -2,46   -2,04%
  • IDXQ30 112   -2,96   -2,59%

Emiten Danantara Masih Prospektif di tengah Kinerja Lesu IHSG


Kamis, 28 Mei 2026 / 17:34 WIB
Diperbarui Kamis, 28 Mei 2026 / 20:04 WIB
Emiten Danantara Masih Prospektif di tengah Kinerja Lesu IHSG
ILUSTRASI. Saat IHSG terpuruk, beberapa saham BUMN menunjukkan ketahanan luar biasa


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten Danantara diproyeksikan masih cukup kuat di tengah lesunya pasar saham Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat mengalami penurunan 29,11% sejak awal tahun alias year to date (YTD).

Sejumlah indeks juga mengikuti penurunan ini, termasuk IDXBUMN20. Namun, penurunan indeks beranggotakan emiten pelat merah ini masih lebih baik dari IHSG, yaitu turun 11,73% YTD.

Kepala Riset Praus Capital Marolop Alfred Nainggolan melihat, penurunan IHSG yang lebih besar salah satunya disebabkan koreksi besar yang terjadi pada saham konglomerasi yang mengalami penurunan harga tajam oleh sentimen pasar dan MSCI.

“Penurunan harga saham yang terjadi sifatnya menyeluruh, sehingga penurunan harga saham BUMN terjadi saat harga saham lainnya juga turun,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (27/5/2026).

Baca Juga: Mitra Pinasthika (MPMX) Tebar Dividen Rp 451,89 Miliar, Beri Yield 16%

Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su bilang, penurunan IDX BUMN20 sejak awal tahun terutama karena tekanan foreign outflow, rupiah yang masih lemah, serta kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan BUMN, termasuk peran Danantara dan potensi perubahan alokasi dividen BUMN. 

Meskipun penurunan tak lebih dalam dari IHSG, tetapi ini tidak otomatis membuat saham BUMN menarik secara keseluruhan. 

“Koreksi tersebut cenderung lebih membuka peluang selective buying pada emiten BUMN dengan fundamental kuat, dividend visibility jelas, dan katalis yang konkret,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (26/5/2026).

Di tahun 2026, kinerja fundamental emiten BUMN20 dilihat masih akan dipengaruhi kondisi saat ini, seperti pelemahan kurs rupiah, kenaikan harga komoditas minyak, dan naiknya suku bunga Bank Indonesia (BI).

Alfred mengatakan, selain dari sektor perbankan dan komoditas, emiten BUMN sektor telekomunikasi masih bisa menjadi pilihan. Sektor lain dilihat relatif masih berat sentimen.

“Misalnya, emiten farmasi dan semen terpengaruh pelemahan rupiah dan kenaikan minyak, serta BUMN karya juga masih bermasalah,” katanya.

Pada kondisi pasar yang tengah turun, dividen pun juga menjadi pertimbangan kuat bagi investor dalam memilih saham, terutama pada musim pembagian dividen. 

Baca Juga: Sariguna Primatirta (CLEO) Akuisisi Aset Tanah dan Bangunan Senilai Rp 60,34 Miliar

“Namun, pada fase market mulai recovery maka potensi return dari capital gain akan jauh lebih besar dari dividend yield,” ungkapnya.

Saham BUMN di sektor perbankan dan komoditas tampak mempunyai rekam jejak dividend payout ratio (DPR) yang tinggi.

Tengok saja DPR tahun 2025 dari PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sebesar 65,07%, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) 79,1% dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar 92,51%.

Sebagai perbandingan, harga saham emiten bank tersebut sejak awal tahun terlihat melemah, masing-masing 12,13%, 19,02% dan 16,12% secara year to date (YTD). Walau begitu, dalam sepekan terakhir, saham BBNI naik 0,79% dan BBRI menguat 0,99%.

“Dengan potensi recovery yang mulai terlihat, pemulihan harganya akan ikut menyumbang perolehan return dari kenaikan harga (capital gain),” ungkapnya.

Harry berpandangan, prospek emiten BUMN di sisa 2026 masih mixed. Sentimen positif berasal dari valuasi yang lebih murah, potensi dividen, dan belanja pemerintah. 

Namun, risiko masih datang dari ketidakpastian kebijakan, tekanan rupiah, suku bunga tinggi, dan potensi intervensi pemerintah. 

Di luar sektor perbankan dan komoditas, saham yang masih menarik adalah PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Jasa Marga Tbk (JSMR), dan PT Elnusa Tbk (ELSA).

 

“Masing-masing emiten memiliki recurring income, katalis pemulihan operasional, dan prospek pertumbuhan yang relatif lebih jelas,” ungkapnya.

Sedangkan DPR tahun 2025 untuk TLKM mencapai 88,9% dan JSMR 31%. Keduanya kompak melemah seara tahun berjalan 2026, masing-masing 11,21% dan 12,9%.

Sementara, ELSA baru akan gelar RUPS Tahunan pada 8 Juni 2026 mendatang. Sebagai gambaran, DPR ELSA di tahun 2023 dan 2024 masing-masing 27,57% dan 29,11%

Harry pun merekomendasikan beli untuk TLKM, JSMR, dan ELSA, dengan target harga masing-masing Rp 3.700 per saham, Rp 4.476 per saham, dan Rp 1.081 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×