kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Emas ikut terseret devaluasi yuan


Selasa, 11 Agustus 2015 / 15:43 WIB


Reporter: Namira Daufina | Editor: Havid Vebri

JAKARTA. Setelah sempat kembali menginjak level sekitar US$ 1.100 per ons troi pada Senin (10/8) lalu, kini harga emas gagal mempertahankan penguatannya. Kali ini, devaluasi yuan memicu terseretnya harga si kuning.

Mengutip Bloomberg, Selasa (11/8) pukul 14.35 WIB harga emas kontrak pengiriman Desember 2015 di bursa Commodity Exchange tercatat merosot 0,45% di level US$ 1.099 per ons troi dibanding hari sebelumnya. Begitu pun, harga emas masih cukup kuat merangkak naik 0,82% dalam sepekan terakhir.

Faisyal, Research and Analyst PT Monex Investindo Futures mengatakan, keputusan People's Bank of China (PBOC) Selasa (11/8) memangkas nilai tukar yuan sebesar 1,9% atau level terendahnya tiga tahun terakhir menyebabkan harga emas terkena imbas negatif. Seperti yang diketahui, China merupakan salah satu konsumen terbesar emas di dunia.

Namun menurut Faisyal sentimen devaluasi yuan ini hanya akan berpengaruh dalam jangka pendek. Sebabnya, seperti yang disampaikan PBOC bahwa devaluasi ini hanya akan dilakukan sekali dan tidak akan berulang lagi. Sehingga setelah kekagetan pasar berlalu maka harga emas tidak lagi akan dibayangi devaluasi mata uang Negeri Tirai Bambu ini.

Hanya saja jika sentimen devaluasi yuan berakhir emas akan kembali dihadapkan dengan USD. “Apalagi outlook kenaikan The Fed rate masih terjaga,” tambah Faisyal. Selagi spekulasi kenaikan suku bunga The Fed terus berhembus di pasar maka sulit bagi emas untuk mendapatkan tenagannya kembali.

Perhatian pasar terhadap USD kembali terpusat setelah Gubernur The Fed negara bagian Atlanta Dennis Lockhart menyatakan kecendrungan kenaikan suku bunga pada September masih terbuka lebar. Ini ditangkap pasar sebagai sinyal optimis.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×