Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks dolar Amerika Serikat (AS) masih tertekan dibawah level 100. Mengutip Trading Economics Kamis (26/2/2026) pukul 17.30 WIB, indeks dolar AS (DXY) di level 97,74, turun 0,59% secara year to date (ytd) dan terkoreksi 8,86% secara year on year (yoy).
Pairing valuta asing (valas) USD/JPY di level 156,06, turun 0,43% secara ytd. Pairing valas USD/CNY di level 6,83, turun 2%, dan pairing valas USD/KRW di level 1.427,65, turun 0,91%.
Research and Development ICDX Taufan Dimas Hareva mengatakan, penurunan indeks dolar AS (DXY) mencerminkan tekanan pelemahan dolar yang secara umum membuka ruang apresiasi bagi mata uang Asia. Untuk USD/JPY, pelemahan DXY berpotensi mendorong penurunan pasangan ini (penguatan yen), terutama jika didukung ekspektasi normalisasi kebijakan oleh Bank of Japan yang semakin hawkish.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Menguat Terbatas pada Jumat (27/2/2026), Cek Rekomendasi Sahamnya
Sementara itu, USD/CNY cenderung lebih stabil karena pengelolaannya masih berada dalam kerangka kebijakan People's Bank of China, sehingga volatilitas biasanya lebih terkontrol meskipun tekanan eksternal meningkat.
Untuk USD/KRW, pelemahan dolar dapat mendorong penguatan won, terutama bila sentimen risiko global membaik dan arus modal kembali ke emerging Asia.
“Ke depan, terdapat sejumlah sentimen yang mempengaruhi valas Asia. Dari sisi global, arah kebijakan suku bunga Federal Reserve menjadi faktor dominan, terutama terkait waktu dan besaran pemangkasan suku bunga,” ujar Taufan kepada Kontan, Kamis (26/2/2026).
Selain itu, Taufan melihat dinamika inflasi AS, ketegangan geopolitik, serta prospek pertumbuhan global turut mempengaruhi permintaan safe haven seperti yen. Dari sisi regional, perbedaan stance kebijakan moneter termasuk potensi pengetatan lanjutan di Jepang, stimulus ekonomi di China, serta kebijakan suku bunga Bank of Korea turut akan menentukan arah relatif masing-masing mata uang.
“Stabilitas sektor eksternal, neraca perdagangan, serta arus investasi portofolio juga menjadi variabel penting,” terang Taufan.
Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, Yen Jepang (JPY) masih bearish walaupun intervensi hingga sekarang sanggup menahan dalam rentang 150-160. Terlebih setelah PM Takaichi menunjuk dua akademisi yang dovish ke dewan Bank of Japan (BOJ), memberi sinyal kelanjutan kebijakan moneter akomodatif.
Kemudian Lukman menilai yuan China (CNY) memang sangat bullish belakangan ini, dan memberikan sinyal apabila mereka nyaman dengan penguatan lebih lanjut namun bertahap. Perkembangan terakhir kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump juga dianggap sangat positif bagi China dan yuan.
Baca Juga: Avia (AVIA) Raup Pertumbuhan Pendapatan dan Laba Bersih di 2025, Ini Pendorongnya
Won Korea Selatan (KRW) juga membaik belakangan ini didukung oleh booming permintaan semikonduktor. Produk domestik bruto (PDB) di revisi naik 2,0% dari 1,8% untuk 2026 namun masih lebih rendah dari rata – rata historis dalam beberapa dekade terakhir.
Lukman mengatakan sentimen umum yang mempengaruhi pergerakan valas Asia ke depan adalah sentimen geopolitik, kebijakan tarif AS, dan arus perdagangan global. Untuk China ketiga faktor itu akan terus menjadi hal terpenting.
Jepang akan bergantung pada hasil kebijakan PM Takaichi apakah sanggup membawa Jepang lebih baik, terlebih tensi meningkat antara China dan Jepang. Sementara Won Korea Selatan yang sebenarnya masih lemah, terbantu banyak oleh booming semikonduktor dan artificial intelligence (AI).
Adapun, untuk proyeksi semester I-2026, Taufan memproyeksikan USD/JPY berpotensi bergerak di kisaran 148-155, dengan risiko penurunan lebih lanjut apabila diferensial suku bunga AS-Jepang semakin menyempit. USD/CNY diperkirakan berada dalam rentang 7,00-7,25, dengan kecenderungan stabil karena intervensi kebijakan yang aktif.
Sementara USD/KRW diproyeksikan berada di kisaran 1.320-1.380, sejalan dengan sensitivitas won terhadap siklus ekspor dan pergerakan teknologi global. “Saat ini, yen Jepang relatif menarik untuk dicermati mengingat potensi perubahan rezim suku bunga domestik dan pergeseran arus safe haven, terutama jika tren pelemahan dolar AS berlanjut pada semester pertama 2026,” ucap Taufan.
Sementara Lukman memproyeksikan pairing valas USD/JPY pada semester I-2026 di kisaran 150-160, USD/CNY di kisaran 6,8 – 6,9, dan USD/KRW dikisaran 1.400 – 1.450.
Selanjutnya: Bank CIMB Niaga Bukukan Laba Bersih Rp 6,93 Triliun Sepanjang 2025
Menarik Dibaca: Jadwal Buka Puasa Kota Mojokerto Ramadan 26 Februari 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)