kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Dirut BBJ Stephanus Paulus Lumintang: Investasi harus mengerti instrumennya


Rabu, 01 Mei 2019 / 06:05 WIB
Dirut BBJ Stephanus Paulus Lumintang: Investasi harus mengerti instrumennya

Berita Terkait

Reporter: Yusuf Imam Santoso | Editor: Wahyu Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Investasi dilakukan ketika kita mengenal betul instrumen mana yang akan dituju. Begitulah pandangan Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) atau Jakarta Futures Exchange (JFX), Stephanus Paulus Lumintang terkait investasi.

Berjibaku di sektor investasi berjangka membuat pria yang akrab disapa Paulus ini menganggap investasi tidak hanya soal mahir dalam teori tapi juga praktik yang didapat lewat pengalaman. Paulus memulai investasi ketika ia sudah hijrah ke Jakarta dari kampungnya Manado.


Pada tahun 1994, dia bekerja di sektor perbankan yakni Bank Pelita dengan mengikuti program management development programme yang saat itu menjadi jalur cepat untuk naik jabatan sebagai manager. Saat itu Paulus mengantongi gaji Rp 750.000 per bulan.

Sebagai perantau pria yang memperoleh gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Klabat Manado ini tidak muluk-muluk menjalani hidup di ibukota. Dia numpang tinggal di salah satu rumah sanak keluarganya. Sehari-hari Paulus muda memilih transportasi umum untuk menghemat pengeluaran.

Paulus mengaku sekitar 70% pendapatannya disisihkan dan menukarnya ke dollar Amerika Serikat (AS). Ya, investasi valuta asing (valas) dollar AS menjadi instrumen investasi pertama pria kelahiran Manado tahun 1971 tersebut. Adapun rupiah hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Paulus. “Simpan rupiah cuma buat ongkos angkot dan makan, saya tidak tabung rupiah,” kata Paulus saat ditemui Kontan.co.id di kantor JFX.

Dahulu, ia terkenal sebagai pekerja yang kompetitif. Paulus bercerita, di tahun pertama ia bekerja bosnya memberikan tantangan kepada seluruh MDP siapa yang mendapatkan nasabah pertama langsung naik gaji menjadi Rp 1,2 juta. Tak Dari belasan rivalnya, Paulus menjadi pemenang.

Bahkan pada era orde baru itu, ia pernah mendapatkan bonus tujuh bulan kerja. Tetapi, makin banyak uang bukan berarti menjadi celah bisa foya-foya. Godaan memang pasti ada. Dulu teman-teman Paulus banyak yang menggunakan gaji buat beli motor. Tahun 1994, harga motor keluaran terbaru sekitar Rp 1,7 juta.

Tapi, Paulus masih konsisten menyisihkan sebagian besar gajinya dalam dollar AS. Saat itu, kurs rupiah masih di kisaran level Rp 1.600 per dollar AS. Ia mengatakan, per bulan rata-rata menyisihkan US$ 500-US$ 600, paling sedikit menyisihkan US$ 100 dollar dari total gaji yang ia dapat.

“Saya jadi broker fisik jual beli dollar AS, money changer gelap,” beber Paulus. Dia mengatakan, paling sedikit selisih trading per dollar AS sekitar Rp 250. Dari total jumlah klien, rata-rata ia bisa menikmati laba hingga Rp 2,5 juta.

Menurutnya bermain di valas itu high risk and high return. Untuk mendapatkan kepercayaan klien dan bisa meraup cuan melimpah, Paulus bahkan bertransaksi sampai tengah malam. Kala itu, informasi yang dia dapat mengenai valas berasal dari jaringan televisi luar negeri.

Tak terbersit sama sekali dalam benaknya untuk membeli kebutuhan tersier seperti motor dan mobil. Nah, tujuannya saat itu mengumpulkan dollar AS adalah untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri. Ketatnya persaingan kerja saat itu menuntut Paulus bisa mendapatkan gelar master atau doktor agar mempunyai nilai jual dan mengasah kemampuan otak biar unggul.

Atas keinginannya sendiri pada tahun 1997, ia mengundurkan diri dari Bank Pelita dan memilih melanjutkan studi bisnis dan berhasil menyabet gelar MBA dari Philippine School of Business Administration. Harapan Paulus, jika sudah lulus kuliah gajinya minimal US$ 1.000 agar ia bisa lagi-lagi menabung dollar AS.

Sekelibat, Paulus juga menjajal investasi saham. Ia berkisah dalam bermain saham ia harus mempelajari proses trading secara nyata. “Belum ada online trading, semuanya floor trading,” tutur Paulus. Saham pilihan Paulus pertama kali dari emiten sekaliber PT Astra International Tbk (ASII) yang saat itu harganya Rp 500. Ia memandang secara fundamental industri otomotif akan terus berkembang dan potensial dalam jangka waktu panjang.

Pada saat terjadi krisis moneter tahun 1998 Paulus sudah kembali ke tanah air. Kaget, Bank Pelita kena efek domino sehingga pailit. Tapi, teman kerjanya di Bank Pelita sempat meledek Paulus yang telah menyia-nyiakan kesempatan, sebab mereka mendapatkan pesangon.

Paulus malah sama sekali tak menyesal, sebab dollar AS miliknya sudah segambreng. Makin menggiurkan, nilai tukar dollar AS melejit menjadi sekitar Rp 15.000-Rp 16.000 bila ditukar rupiah.

Investor konservatif

Setelah mantap praktik dan teori di instrumen investasi valas dan saham, ia kembali meracik portofolio investasi. Pilihannya jatuh kepada properti dan emas.
Paulus memilih rumah, apartemen, dan tanah di empat wilayah pilihannya. Pertama, Jakarta dilirik sebagai daerah investasi properti karena jumlah lahannya terbatas. Sehingga jangka panjang cuannya bisa melonjak. Kedua, Surabaya dinilai sebagai kota yang memiliki prospek pengembangan kota yang bagus.

Ketiga Bali, sebagai daerah destinasi wisata teramai di Indonesia. Keempat, Manado sebagai tanah asal bapak satu anak ini.

Portofolio investasi keseluruhan Paulus paling banyak berasal dari sana bahkan mencapai 80%. Pada lima tahun lalu, investasi ini hanya sekitar 50%. Ia meningkatkan persentase properti karena makin menyadari bahwa investasi properti memiliki fundamental yang bagus di jangka panjang.

Kemudian disusut oleh logam mulia yakni emas yang mencapai 10% dari total keseluruhan investasi. Sebab emas mempunyai likuiditas yang bagus, diakui di mana-mana. Selain itu nilainya cenderung meningkat dalam jangka panjang. Sisanya 10% jatuh ke valas dan saham yang sudah dilakoninya sejak dulu.

Untuk urusan properti Paulus memberikan saran agar utamanya investor memilih lokasi sebagai pertimbangan, lalu pengembang properti tersebut, serta akses dan proyeksi perkembangan lokasi tersebut.

Pola pikir investasi sudah Paulus tanam sejak masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) kelas III. Ibu dari Paulus merupakan seorang penjual kue. Kala itu ia ditugaskan untuk membeli bahan-bahan kue di pasar dengan berjalan kaki dengan jarak yang cukup jauh.

Ia berpikir ini tidak akan efektif, sebab akan membuatnya lelah ketika sekolah. Sambil memutar otak Paulus kecil mencicil sepeda seharga Rp 6.000 kepada salah satu temannya yang kaya raya. “Saya kelas III SD sudah berutang, cicil sepeda itu sampai sembilan bulan sudah lunas,” papar Paulus.

Tapi, investasi Paulus tak cuma instrumen konservatif.Dirut JFX ini memiliki koleksi unik yakni koleksi minuman beralkohol. Total ada 47 botol yang 12-15 di antaranya adalah limited edition yang mayoritas didapat dari Eropa.

Sebenarnya, koleksi ini adalah hobi. Dia tidak pernah dengan sengaja berburu, tetapi sesekali saat ada urusan pekerjaan, dia menemukan koleksi.

Salah satu koleksinya adalah whiskey limited edition Prancis yang yang hanya diproduksi 200 botol. “Nomor botol milik saya nomor 118,” ujar Paulus.

Dia membelinya pada tahun 1996 dan saat itu harganya sekitar US$ 125. Ternyata koleksi ini mempunyai nilai investasi.

Paulus mengaku, sempat ada teman yang menawarnya seharga US$ 4.000. “Saya tolak karena pasarannya sudah US$ 6.000,” pungkas dia.




TERBARU
Terpopuler

×