kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45789,54   -7,05   -0.89%
  • EMAS940.000 0,64%
  • RD.SAHAM 0.78%
  • RD.CAMPURAN 0.40%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.06%

Di tengah penurunan pasar, analis menyebut saham grup Astra dan Salim masih bagus


Senin, 25 Mei 2020 / 14:09 WIB
Di tengah penurunan pasar, analis menyebut saham grup Astra dan Salim masih bagus
ILUSTRASI. Pergerakan saham tujuh grup konglomerasi Indonesia cenderung melemah dalam sebulan terakhir.

Reporter: Benedicta Prima | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan saham yang masuk dalam tujuh grup konglomerasi Indonesia cenderung melemah dalam satu bulan terakhir. Sedangkan beberapa masih menghijau seperti saham PT Astra International Tbk (ASII), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI),  PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA).

Berdasarkan riset Kontan.co.id, tiga grup konglomerasi justru menunjukkan kinerja saham justru menurun. Seluruh saham grup Sinarmas dan MNC justru memerah dalam sebulan terakhir, bahkan salah satu saham grup MNC yaitu PT MNC Investama Tbk (BHIT) jatuh ke level Rp 50 alias gocap. BHIT memiliki nasib sama dengan seluruh saham grup Bakrie yang menyentuh level gocap.

Baca Juga: Imbas kasus KSP Indosurya, Kemenkop perketat pengawasan koperasi di grup konglomerasi

Direktur Avere Investama Teguh Hidayat pergerakan harga saham tersebut dipengaruhi oleh dua hal yaitu sentimen negatif Covid-19 dan reputasi grup konglomerasi di Indonesia. Dia menjelaskan hampir seluruh saham, apalagi blue chips turun sejalan dengan IHSG. Selain itu saham-saham di dalam grup Bakrie, Lippo dan Sinarmas terpengaruh reputasi ataupun citra yang kurang bagus.

“Kalau memang bagus, tidak mungkin saham Bakrie di gocap semua. Kemudian saham-saham Lippo jauh sebelum Covid-19 juga sudah turun terus, begitu pula dengan Sinarmas,” jelas Teguh kepada Kontan.co.id, Kamis (21/5).

Di grup Lippo, saham yang dalam satu bulan terakhir masih naik adalah PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) dan PT Siloam International Tbk (SILO). Masing-masing naik 20,22% ke level Rp 440 dan 10% ke level Rp 5.500. Menurut Teguh, kedua saham ini banyak dipengaruhi oleh sentimen positif dari Covid-19, yakni besarnya kebutuhan terhadap fasilitas kesehatan serta teknologi terutama kebutuhan internet.

Baca Juga: Saham grup Bakrie di level gocap, saham grup MNC memerah

Teguh juga menambahkan pergerakan saham dalam sebulan tersebut juga menggambarkan perilaku investor maupun trader yang saat ini lebih berhati-hati. Mereka saat ini cenderung memilih saham yang lebih aman dan likuid. Dus, saham-saham gocap tidak akan bergerak sebelum ada market maker yang bisa menarik minat para spekulan.

Teguh pun melihat di tengah kondisi pasar saat ini, investor sebaiknya tetap memilih saham blue chips. Apalagi saham-saham tersebut saat ini cenderung memiliki harga saham yang murah seperti BBCA yang saat ini di harga Rp 23,825 mencerminkan price to earning ratio (PER) 20,56 kali, BBRI di harga Rp 2,480 mencerminkan PER 9,36 kali, INDF dengan harga Rp 6.425 yang mencerminkan PER 11,49 kali dan ICBP di harga Rp 9.600 yang mencerminkan PER 22,22 kali.

Selain itu, Teguh juga menyebutkan saham Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) juga cukup menarik sejalan dengan prospek sektor barang konsumer yang akan mempengaruhi sektor ritel. “Kalau bicara grup, Salim dan Astra itu bagus, BUMN juga sebenarnya. Ya minimal tidak ada cerita seperti grup Benny Tjokro,” imbuh dia.

Baca Juga: Kinerja saham-saham emiten Grup Sinarmas memerah di tahun ini

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.


TERBARU

[X]
×