kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Dana kelolaan reksadana pasar uang syariah tumbuh 139% hingga Oktober 2019


Senin, 18 November 2019 / 21:23 WIB
Dana kelolaan reksadana pasar uang syariah tumbuh 139% hingga Oktober 2019
ILUSTRASI. ilustrasi reksadana. Dana kelolaan reksadana pasar uang syariah tumbuh paling tinggi dibanding reksadana syariah jenis lain.

Reporter: Danielisa Putriadita | Editor: Komarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dana kelolaan reksadana pasar uang syariah tumbuh paling tinggi dibanding reksadana syariah jenis lain. Laju pertumbuhan ini selaras dengan pertumbuhan dana kelolaan reksadana konvensional.

Berdasarkan data Infovesta Utama, sejak awal tahun hingga Oktober 2019, reksadana pasar uang syariah tumbuh 139,10% menjadi Rp 9,15 triliun. Infovesta mencatat, pertumbuhan tersebut jadi yang paling tinggi selama tiga tahun terakhir.

Sebaliknya, pertumbuhan dana kelolaan terendah dialami reksadana saham syariah yang turun 24,55% menjadi Rp 8,05 triliun.  Selanjutnya, dana kelolaan reksadana campuran syariah juga turun 17,03% menjadi Rp 3,38 triliun. Sementara, dana kelolaan reksadana pendapatan tetap syariah hanya tumbuh satu digit dan jumlahnya menjadi Rp 7,19 triliun.

Baca Juga: Penjualan reksadana Narada Aset Manajemen dihentikan, ini kata OJK

Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan pertumbuhan dana kelolaan reksadana pasar uang sejatinya sejalan dengan pertumbuhan dana kelolaan reksadana pasar uang konvensional. Pertumbuhan dana kelolaan reksadana pasar uang tumbuh signifikan karena banyak investor mencari instrumen investasi alternatif di saat bunga deposito menciut akibat penurunan suku bunga acuan.

Senior Vice President Recapital Asset Management Rio Ariansyah menambahkan kinerja pasar saham yang masih mengkhawatirkan juga membuat investor beralih pada instrumen investasi yang lebih minim risiko. Apalagi, belakangan pasar obligasi dalam tren koreksi setelah kinerja naik tinggi.

"Reksadana pasar uang lebih diminati karena investor sedang mengurangi aset di saham, sementara kinerja pasar obligasi sudah capai puncak," kata Rio, Senin (18/11).

Achfas Achsien Direktur Investasi Paytren Asset Management menambahkan di tengah volatilitas pasar saham yang tinggi, investor jadi cenderung mencari instrumen investasi yang lebih stabil, salah satunya reksadana pasar uang.

Pertumbuhan reksadana pasar uang syariah yang signifikan juga didorong tingginya kinerja aset syariah. Wawan mengatakan bunga deposito dari bank syariah lebih kompetitif dibanding bunga deposito bank konvensional. Penyebabnya, bank syariah di Indonesia biasanya adalah bank buku II dan III.

Selain itu, Rio mengatakan obligasi atau sukuk tenor kurang dari satu tahun yang juga menjadi aset reksadana pasar uang memiliki yield yang lebih kompetitif dari obligasi konvensional.

Baca Juga: OJK: Investor Narada bisa redeem, atau pindahkan ke broker lain

"Obligasi syariah lebih oke harganya daripada obligasi konvensional karena  obligasi syariah cukup langka di pasaran, kalau permintaan tinggi suplai kurang harga jadi tinggi," kata Rio.

Meski pamor reksadana pasar uang syariah sedang tinggi, Achfas memproyeksikan bila pasar saham mulai stabiil dan membaik maka investor dapat saja beralih ke produk ekuitas dengan cepat.

Di Paytren AM, jumlah dana kelolaan cenderung stabil. Namun, Achfas belum mau menyebutkan angka dana kelolaanya. Sementara, reksadana campuran syariah dan pasar uang  syariah masih tumbuh dengan baik meski tidak signifikan.

Wawan memproyeksikan prospek reksadana pendapatan tetap syariah tetap cerah di tahun depan karena kemungkinan suku bunga kembali turun masih ada. Sementara, prospek reksadana saham syariah di tahun depan masih akan menantang karena isu perlambatan ekonomi makin menyeruak di tahun depan.

Baca Juga: Kinerja Narada Aset Manajemen Nyangkut Akibat Gagal Bayar




TERBARU

Close [X]
×