kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.773.000   -15.000   -0,54%
  • USD/IDR 17.739   71,00   0,40%
  • IDX 6.162   67,10   1,10%
  • KOMPAS100 813   8,13   1,01%
  • LQ45 620   4,04   0,66%
  • ISSI 218   3,97   1,85%
  • IDX30 355   2,58   0,73%
  • IDXHIDIV20 437   -1,89   -0,43%
  • IDX80 94   1,08   1,17%
  • IDXV30 121   0,41   0,34%
  • IDXQ30 115   -0,63   -0,54%

Bursa Asia masih akan melemah


Sabtu, 08 Juni 2013 / 06:40 WIB
ILUSTRASI. Jarum suntik dan botol berisi dosis vaksin Covid-19 produksi Pfizer/BioNTech.


Reporter: Surtan PH Siahaan, Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana

JAKARTA. Pergerakan bursa Asia selama sepekan ini, cenderung melemah. Pelemahan terdalam dialami oleh bursa Nikkei yang melemah 6,51% ke 13.774,54 selama sepekan. Tak heran, indeks MSCI Asia Pasific juga menurun 2,58% ke 131,36, seminggu ini.

Alwy Assegaf, analis Universal Broker Indonesia mengatakan, kekhawatiran berkurangnya likuiditas global karena rencana The Federal Reserves mengurangi stimulus, membuat pasar saham Asia panik. Selain itu, menurut dia, menguatnya mata uang yen membuat Nikkei melemah paling dalam.

Sementara, sentimen positif dari Asia tidak ada. Saat ini, menurut Alwy, pelaku pasar juga tengah menunggu rilis data ketenagakerjaan AS. Jika data yang dikeluarkan menunjukkan hasil positif, akan membuat pelaku pasar kembali keluar dari saham.

Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada pun menilai, penguatan yen menjadi faktor utama Nikkei melemah paling dalam. Sementara, pelaku pasar juga masih meraba-raba langkah konkret dari pidato Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe. "Sebenarnya isinya lumayan positif seperti reformasi birokrasi, menyarankan dana pensiun memperbesar ekuitas dan lainnya," ujar dia, Jumat (7/6). Namun, Menteri Keuangan Jepang belum ada rencana menahan penguatan yen.

Reza memproyeksi, sepekan ke depan, bursa Asia masih akan melemah. Alwy juga memperkirakan, bursa Asia masih melemah. "Mungkin ada rebound, tapi tak berarti tren berubah menjadi bullish," kata dia. Beberapa data ekonomi AS dan regional masih akan jadi perhatian.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×