Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - SYDNEY. Bursa Asia mengawali perdagangan Senin (12/10) dengan sikap hati-hati, karena musim laporan keuangan dipandang sebagai tantangan bagi valuasi sektor teknologi. Sementara harga minyak bergerak fluktuatif setelah adanya serangan terhadap jalur pelayaran dan bandara di kawasan Teluk.
Pasar masih mencerna terkait pengumuman Presiden Donald Trump mengenai gencatan senjata energi antara Ukraina dan Rusia, yang belum dikonfirmasi oleh kedua belah pihak.
Usulan Trump agar Rusia meningkatkan ekspor solar juga menuai kritik dari senator Partai Republik maupun Demokrat karena dianggap berpotensi melanggar hukum.
Kontrak berjangka minyak Brent sempat dibuka lebih tinggi namun kemudian turun 1,1% menjadi US$ 103,50 per barel—menjauhi level tertinggi baru-baru ini di angka US$ 109,97—sementara kontrak berjangka minyak mentah AS turun 1,2% menjadi US$ 90,73 per barel.
Baca Juga: Simak Proyeksi IHSG dan Rekomendasi Saham untuk Perdagangan Pekan Ini
Saham Korea Selatan turun 1,1%, sedangkan indeks MSCI untuk saham Asia-Pasifik di luar Jepang tidak banyak berubah.
Di Wall Street, kontrak berjangka S&P 500 naik tipis 0,2% dan kontrak berjangka Nasdaq menguat 0,5%. Di Eropa, kontrak berjangka EUROSTOXX 50 menguat 0,4%, sementara kontrak berjangka DAX naik 0,4% dan kontrak berjangka FTSE naik 0,3%.
Volume perdagangan tercatat rendah karena pasar Jepang tutup dan AS menjalani hari libur parsial menjelang musim laporan keuangan, di mana bank-bank besar AS akan mulai merilis laporan mereka pada hari Selasa.
Laba perusahaan-perusahaan dalam indeks S&P 500 diperkirakan melonjak lebih dari 30% pada kuartal ketiga menurut data LSEG IBES, meskipun sebagian besar pertumbuhan tersebut berasal dari sektor teknologi.
My Bui, seorang ekonom di AMP, mencatat bahwa seluruh kenaikan indeks S&P 500 sejak pertengahan September didorong oleh sektor teknologi, sementara investor menuntut imbal hasil (yield) yang lebih tinggi untuk mendanai pinjaman besar-besaran demi pengembangan AI.
Indeks credit default swap (CDS) untuk obligasi korporasi peringkat layak investasi (investment-grade) AS—yang mencerminkan biaya perlindungan terhadap risiko gagal bayar—juga melonjak tajam ke level tertinggi sejak dimulainya perang Iran.
Baca Juga: Jadi Saham Cepek, Grup EMTEK Perkuat Pemilikan Saham Di Bukalapak
"Secara keseluruhan, pelebaran selisih imbal hasil (spread) mengindikasikan keraguan investor mengenai apakah pendapatan dari AI mampu mengimbangi kenaikan biaya pinjaman," tambah Bui.
"Penerbitan obligasi korporasi untuk mendanai belanja modal (capex) AI, ditambah dengan pelebaran spread obligasi imbal hasil tinggi (high-yield), akan meningkatkan biaya pembiayaan kembali (refinancing) seiring dengan jatuhnya tempo utang saat ini dalam beberapa tahun ke depan."
CPI AS Diprediksi Naik, Tapi Inflasi Inti Lebih Rendah
Banjirnya utang korporasi telah menambah tekanan pada pasar obligasi pemerintah, mendorong imbal hasil Treasury ke level tertinggi dalam 24 tahun pada pekan lalu serta meningkatkan tingkat diskonto yang diterapkan pada laba perusahaan.
Pasar menghadapi tantangan baru pekan ini dari data AS mengenai harga konsumen, harga produsen, dan penjualan ritel. Kenaikan biaya energi diperkirakan akan mendongkrak Indeks Harga Konsumen (CPI) sebesar 0,6% menjadi 3,7% secara tahunan, meskipun inflasi inti diprediksi lebih rendah, yakni masing-masing sebesar 0,2% (bulanan) dan 2,5% (tahunan).
"Harga minyak tetap lebih tinggi dari perkiraan kami akibat lonjakan biaya pengiriman, dan harga produk jadi bahkan lebih tinggi lagi," ujar Bruce Kasman, kepala ekonomi global di JPMorgan.
"Sinyal inflasi menunjukkan adanya lonjakan kembali pada inflasi umum (headline inflation) yang akan menekan daya beli, serta penguatan pada inflasi inti yang akan membuat bank sentral tetap fokus pada kenaikan suku bunga dalam waktu dekat."
Pasar memperkirakan hanya ada peluang 18% bagi Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga bulan ini, namun peluang kenaikan pada bulan Desember mencapai 85%. Investor juga bertaruh pada kenaikan suku bunga di Uni Eropa, Jepang, dan Inggris sebelum akhir tahun.
Di pasar mata uang, euro tetap berada dalam posisi lemah di level $1,1201 setelah mengalami penurunan selama lima minggu berturut-turut akibat kekhawatiran mengenai defisit anggaran pemerintah di Eropa. Indeks dolar bertahan di dekat level tertinggi dalam 17 bulan di angka 102,25, namun pergerakannya tertahan terhadap yen di level 158,15 karena ancaman intervensi Jepang untuk sementara waktu menahan langkah para spekulan.
Di pasar komoditas, harga emas—aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga—naik 0,3% menjadi $4.206 per ons, setelah sebelumnya berhasil mencatatkan kenaikan lebih dari 1% pada pekan lalu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














