kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.695   51,92   0,92%
  • KOMPAS100 735   7,36   1,01%
  • LQ45 557   3,64   0,66%
  • ISSI 198   1,89   0,96%
  • IDX30 316   1,31   0,42%
  • IDXHIDIV20 389   -0,57   -0,15%
  • IDX80 83   0,64   0,78%
  • IDXV30 106   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 102   0,12   0,12%

Bukit Asam menanti kesepakatan harga batubara


Senin, 05 Februari 2018 / 21:05 WIB
ILUSTRASI. Batubara Bukit Asam


Reporter: Dityasa H Forddanta | Editor: Dupla Kartini

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) tidak mau terburu-buru menghitung ulang perubahan harga batubara yang diminta PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).

"Karena harga setiap batubara produksi kami berbeda-beda," ujar Direktur Keuangan PTBA Orias Petrus Moedak kepada Kontan.co.id, belum lama ini.

Harga batubara PTBA yang dekat dengan mulut tambang bisa berbeda dengan harga batubara yang sudah diangkut dengan kereta atau bahkan kapal. Oleh sebab itu, manajemen akan lebih dulu menunggu detail kesepakatan antara PLN dengan pemerintah, sebelum melakukan perhitungan baru.

Harga batubara PTBA yang disuplai ke masing-masing pembangkit listrik milik PLN juga berbeda. Rentang harganya paling murah sekitar Rp 400.000 per ton hingga termahal sekitar Rp 600.000 per ton.

Tapi, itu merupakan harga kesepakatan tahun 2016. Belum ada kesepakatan harga baru, sehingga harga jual batubara 2017 masih menggunakan kesepakatan harga lama. Hingga kuartal III-2017, laba bersih PTBA melesat 150% menjadi Rp 2,63 triliun.

Sebagaimana diketahui, sebelumnya PLN meminta harga batubara khusus kepada pemerintah. PLN menyebut, harga batubara akan lebih aman jika kembali ke level US$ 60 per metrik ton.

Selain meminta harga khusus, PLN juga meminta pemerintah untuk meningkatkan kuota domestic market obligation (DMO) yang saat ini minimal sekitar 20%. Untuk DMO, PTBA tak ada masalah.

"Penjualan batubara DMO kami sudah di atas 50%," pungkas Orias.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×