Reporter: Yuliana Hema | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) belum mampu mencatatkan penguatan signifikan sepanjang 2026, meski prospek industri pusat data terus mendapat perhatian seiring pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Pada perdagangan Kamis (24/9), saham DCII menguat 1,52% ke level Rp 201.000 per saham. Namun, sepanjang tahun berjalan, saham emiten yang dimiliki Otto Toto Sugiri tersebut baru menguat 0,50%.
Sementara itu, dalam periode satu tahun terakhir, saham DCII masih mencatatkan penurunan sebesar 34,33%.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, tekanan terhadap saham DCII sepanjang 2026 lebih tepat dilihat sebagai kombinasi sejumlah faktor, mulai dari isu likuiditas, status High Shareholding Concentration (HSC), hingga valuasi saham yang sangat premium.
Baca Juga: Demi Memacu Kinerja, Emiten Ramai-ramai Suntik Modal ke Anak Usaha Simak Prospeknya
DCII masuk dalam daftar HSC Bursa dengan tiket konsentrasi sekitar 99,96%. Kondisi tersebut membuat jumlah saham yang benar-benar beredar dan aktif diperdagangkan di pasar relatif terbatas.
“Kondisi ini membuat pergerakan harga DCII sangat sensitif terhadap perubahan permintaan-penawaran dan likuiditas sehingga aspek likuiditas dan konsentrasi kepemilikan menjadi semakin diperhatikan,” katanya kepada Kontan, Kamis (24/9/2026).
Menurut Nafan, selain status HSC, faktor lain yang perlu diperhatikan adalah valuasi saham DCII yang sudah berada pada level sangat tinggi. Dengan kondisi tersebut, pasar membutuhkan pertumbuhan laba dan ekspansi yang semakin besar untuk dapat menopang valuasi perseroan.
Padahal, kinerja fundamental DCII pada semester I-2026 masih menunjukkan pertumbuhan yang solid. Pendapatan perseroan meningkat 33,2% secara tahunan menjadi Rp 1,78 triliun. Sementara itu, laba bersih tumbuh 18,7% menjadi Rp 732,5 miliar.
“Artinya, ketika pasar melakukan profit taking, melakukan re-rating atau mengurangi ekspektasi terhadap pertumbuhan ke depan, koreksi harga bisa relatif besar meskipun fundamental perusahaan tetap tumbuh,” ucap Nafan.
Valuasi Saham DCII
Pandangan serupa disampaikan Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Indonesia Fath Aliansyah. Ia menilai secara valuasi, saham DCII berada dalam kondisi yang berbeda dibandingkan dengan industri secara umum.
Menurut Fath, harga saham DCII tergolong sangat mahal dengan price to earnings ratio (P/E) berada di atas 400 kali.
“Hal lain adalah likuiditas dan bagaimana caranya perusahaan bisa ekspansi tetapi juga menambah free float di pasar sesuai ketentuan. Apabila jelas tergambar, harusnya saham ini bisa jadi lebih menarik dengan catatan likuiditas naik disertai free floatnya,” ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














