kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.765.000   -24.000   -0,86%
  • USD/IDR 17.676   -60,00   -0,34%
  • IDX 6.319   -52,18   -0,82%
  • KOMPAS100 832   -10,94   -1,30%
  • LQ45 631   -4,14   -0,65%
  • ISSI 225   -2,77   -1,22%
  • IDX30 360   -1,39   -0,38%
  • IDXHIDIV20 449   1,48   0,33%
  • IDX80 96   -1,08   -1,12%
  • IDXV30 124   -0,84   -0,68%
  • IDXQ30 118   0,53   0,46%

BI Kerek BI Rate untuk Jaga Stabilitas Rupiah, Tapi Tekanan Eksternal Masih Besar


Rabu, 20 Mei 2026 / 17:55 WIB
BI Kerek BI Rate untuk Jaga Stabilitas Rupiah, Tapi Tekanan Eksternal Masih Besar
ILUSTRASI. Langkah BI menaikkan BI Rate menjadi 5,25% memberi sinyal kuat bahwa stabilitas nilai tukar rupiah kini menjadi prioritas utama (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,25% memberi sinyal kuat bahwa stabilitas nilai tukar rupiah kini menjadi prioritas utama di tengah tekanan global yang meningkat.

Sebagai informasi, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 19-20 Mei 2026, BI memutuskan menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%. Kebijakan ini diambil di tengah depresiasi rupiah yang sebelumnya sempat mendekati level Rp 17.800 per dolar Amerika Serikat (AS) beberapa waktu terakhir.

Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi, mengatakan langkah BI tersebut bahkan berada di atas ekspektasi pasar yang sebelumnya lebih banyak memperkirakan kenaikan suku bunga ke level 5,00%.

Baca Juga: Reformasi Ekspor SDA Berpotensi Menekan Emiten Komoditas, Begini Kata Analis

“Kenaikan BI-Rate 50 bps ke 5,25% memberi sinyal kuat bahwa BI memilih menjaga stabilitas rupiah sebagai prioritas utama. Pasar sebelumnya memperkirakan kenaikan ke sekitar 5,00%, sehingga keputusan 5,25% membawa unsur kejutan positif bagi kredibilitas moneter,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (20/5/2026).

Ia menjelaskan, BI juga menegaskan kenaikan suku bunga dilakukan sebagai langkah stabilisasi nilai tukar di tengah gejolak global, termasuk dampak konflik Timur Tengah, sekaligus upaya pre-emptive menjaga inflasi 2026–2027 tetap berada dalam target 2,5% ±1%.

Menurut Syafruddin, respons pasar terhadap rupiah seharusnya cenderung positif dalam jangka pendek karena kenaikan suku bunga membuat imbal hasil aset rupiah lebih menarik, menekan aktivitas spekulatif, serta memperkuat keyakinan investor bahwa BI tidak membiarkan ekspektasi depresiasi bergerak liar.

Namun demikian, ia menilai dampak penguatan rupiah tidak akan berlangsung signifikan dalam waktu singkat mengingat tekanan eksternal masih besar. Tingginya yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) tenor 10 tahun yang berada di kisaran 4,66%, kenaikan harga minyak, hingga dominasi dolar AS sebagai aset aman (safe haven) global masih menjadi faktor penekan.

Selain menaikkan suku bunga, BI dinilai turut memperkuat bauran kebijakan melalui intervensi pasar valas, baik lewat non-deliverable forward (NDF) offshore, transaksi spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), hingga pengawasan pembelian dolar AS oleh perbankan dan korporasi.

Baca Juga: XLSmart (EXCL) Absen Bagi Dividen, Begini Penjelasan Manajemen

“Jadi, pasar kemungkinan membaca keputusan ini sebagai rem kredibilitas yang penting, bukan jaminan rupiah langsung kembali kuat,” katanya.

Terpantau rupiah menguat hari ini. Pada penutupan perdagangan hari Rabu (20/5/2026), kurs rupiah di pasar spot menguat Rp 52 atau 0,29% menjadi Rp 17.654 per dolar Amerika Serikat (AS) dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.706 per dolar AS.

Syafruddin memperkirakan kenaikan BI Rate berpotensi menahan laju pelemahan rupiah agar tidak segera menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar AS. Sebelum keputusan BI diumumkan, kurs rupiah bergerak di kisaran Rp 17.690–Rp 17.700 per dolar AS, mendekati posisi terlemah dalam 52 minggu terakhir di Rp 17.745.

Ke depan ia memperkirakan dalam jangka pendek nilai tukar rupiah berpeluang bergerak pada rentang Rp 17.500 - Rp 17.750 per dolar AS apabila pasar merespons positif langkah BI dan pemerintah mampu menjaga stabilitas pasar Surat Berharga Negara (SBN) serta disiplin fiskal.

Sebaliknya, apabila harga minyak kembali meningkat, yield obligasi AS bertahan tinggi, atau koordinasi kebijakan fiskal dan moneter dipandang kurang solid oleh pasar, tekanan terhadap rupiah diperkirakan berlanjut hingga mendorong kurs bergerak ke kisaran Rp 17.750 - Rp 18.000 per dolar AS.

Syafruddin menambahkan, secara fundamental posisi rupiah sebenarnya masih ditopang indikator ekonomi domestik yang relatif kuat. Ia menyoroti cadangan devisa Indonesia yang mencapai US$ 146,2 miliar, inflasi sebesar 2,42%, pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 sebesar 5,61%, serta arus masuk portofolio asing pada triwulan II yang tercatat mencapai US$ 5,5 miliar hingga 18 Mei 2026.

“Masalahnya, pasar saat ini tidak hanya menilai rupiah dari fundamental domestik, tetapi juga dari risiko global, harga minyak, dan daya tarik aset dolar,” tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×