Reporter: Andri Indradie, Galvan Yudistira, Melati Amaya Dori, Merlina M. Barbara, Putri Kartika Sinaga, Tedy Gumilar | Editor: Tri Adi
Pengajar dan peneliti Prasetiya Mulya Business School Lukas Setia Admadja masih ingat, bukan kali ini saja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok. Tahun 2011, tepatnya 22 September, IHSG pernah drop 326 poin alias 9% dalam sehari! Dua tahun berselang, 19 Agustus 2013, IHSG juga ambrol 5,6% dalam sehari.
Minggu lalu IHSG turun 6,42% dari posisi 5.435,35 ke 5.086,42 dalam tiga hari. Siapa di antara Anda yang sontak panik lalu menjual saham-saham koleksi?
Bagaimana menghadapi IHSG bak roller coaster? Pakar investasi, pengamat, investor saham, analis, kepala riset sekuritas, dan manajer investasi, punya pendapat masing-masing.
Bagi John Veter, Managing Director Investa Saran Mandiri, situasi seperti saat ini justru kesempatan membeli saham-saham unggulan. Hanya, ia punya strategi sendiri memperlakukan saham-sahamnya.
John punya kumpulan saham –ibarat kata, semacam LQ45– yang dia sebut sebagai investa 30. Kumpulan saham ini terdiri dari 30 saham. Nah, dari ke-30 saham itu, ia ambil 10 macam saham untuk referensinya pribadi yang terdiri dari berbagai sektor, yaitu konsumer, perbankan, konstruksi, farmasi, dan properti. Emiten-emiten yang dia koleksi, antara lain, Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, Kalbe Farma, Wijaya Karya, dan sebagainya.
Di saat seperti sekarang, dia tak lantas memborong saham-saham emiten sebagai koleksi barunya. Secara konsisten, John akan menambah porsi saham yang dia pegang alias memperbesar jumlah saham saja. Oh, iya, uang yang dipakainya untuk investasi sekitar 20% dari total pendapatan. John mencemplungkan dana investasinya ke deposito, properti, dan saham. “Ke saham, saya ambil 20% total porsi investasi. Jadi, kira-kira 4% dari total pendapatan saya per bulan,” ujarnya.
Pada saat normal, John biasa ambil uang dari keuntungan investasi saham lalu menaruhnya di deposito. Namun, di saat kondisi IHSG sedang drop dan keuntungan dari saham berkurang, ia akan ambil dari deposito untuk menambah porsi jumlah sahamnya. “Pokoknya dari sejumlah keuntungan, saya beli saham. Kalau nanti kondisinya sudah normal, saya balik lagi ke awal,” lanjutnya.
Buy on weakness
Lain lagi cara investor saham Lo Kheng Hong yang nilai investasinya sudah mencapai angka triliunan. Pria yang dijuluki “Warren Buffett Indonesia” dan sudah 26 tahun berinvestasi saham ini tidak melihat kondisi IHSG atau faktor-faktor yang eksternal yang mempengaruhinya. Singkatnya, ia hanya melihat dua hal: nilai intrinsik perusahaan dan nilai saham di pasar.
Nilai intrinsik tak lain adalah fundamental perusahaan alias emiten. Indikator-indikatornya, bisnis di lingkup sektoral dan kinerja perusahaan, seperti seperti pendapatan, laba bersih, penjualan, modal, utang, nilai buku, jumlah sahamnya, earning per share (EPS), price to earning ratio (PER), dan return on equity (ROE), dan sebagainya. Sebisa mungkin, pelajari sisi sejarah perusahaan selama, katakanlah, minimal lima tahun ke belakang. Instrinsik perusahaan juga termasuk melihat kualitas manajemen.
Adapun nilai saham di pasar, lanjut Lo Kheng Hong, maksudnya saham-saham yang harganya sangat murah. “Saya membeli saham yang salah harga; yang dihargai salah oleh pasar. Belilah saham-saham yang harganya turun banyak, tetapi fundamental perusahaan tetap baik dan bertumbuh. Kalau nilai pasarnya jauh lebih rendah dari nilai intrinsiknya, maka saya membelinya,” tegasnya.
Pada saat IHSG turun, lanjut Kheng Hong, yang harus selalu diingat adalah “buy on weakness”. Langkah menjual saham koleksi, apalagi berdasarkan histeria, panik, dan tidak berpikir secara masuk akal, bukanlah tindakan bijaksana.
Alasannya jelas. Kalau Anda sudah tahu nilai intrinsik perusahaan, tentu yakin bahwa saham itu bagus. Nah, jika Anda yakin saham itu bagus, kenapa harus dijual pada saat harganya jatuh? Dan, masih harus menanggung kerugian akibat penurunan itu pula.
Sir John Templeton, investor saham legendaris, punya mantra. Lukas mengutipnya: “The time of maximum pessimism is the best time to buy, and the time of maximum optimism is the best time to sell.” Pada saat pasar berada di level pesimistis maksimal, saat itulah waktu yang pas membeli saham. Begitu sebaliknya, di saat pasar sedang di puncak optimistis, giliran Anda jual-jual saham. Demikian juga yang dianut Lo Kheng Hong.
Hanya saja, perhatikan pesan pengamat pasar modal Irwan Ariston Napitupulu: jangan asal masuk! Ia menyarankan, untuk kondisi sekarang ini lebih baik menunggu setelah lebaran. Khususnya mereka yang jangka waktu investasinya pendek, sekitar satu bulan atau dua bulan. Mereka yang punya jangka investasi panjang, sebaiknya memang beli sekarang. Mumpung cukup banyak saham bagus yang harganya murah.
“Selanjutnya, jangan ‘main’ saham yang aneh-aneh. Tidak harus selalu big cap. Bank Jabar Banten (BJBR) dan Bank Tabungan Negara (BTN) termasuk golongan menengah tapi prospeknya bagus. Ingat, lihat fundamentalnya,” terang Ariston.
Seperti halnya Kheng Hong, Steven Satya Yudha, Associate Director Marketing and Distribution Ashmore Asset Management Indonesia, menambahkan, pilihan tepat saat ini adalah masuk ke saham-saham lapis kedua yang harganya murah namun fundamental perusahaan bagus ke depan, terutama yang sesuai dengan kebijakan-kebijakan Jokowi.
Dia menyarankan, hindari saham-saham yang mampu defensif. Sebab, valuasi saham-saham jenis ini biasanya sudah sangat tinggi. “Saya justru sangat hati-hati dengan saham-saham defensif,” cetus Steven.
Sektor properti, contohnya, bisa menjadi pilihan. Rasio P/E IHSG sudah 15,3 kali, sementara rasio P/E properti 10,8 kali. Pendapatan kuartal I sektor properti memang belum memenuhi harapan investor. Tetapi, properti ini sudah lebih murah dibandingkan dengan sektor yang lain dari segi valuasi. Permasalahan utama properti juga karena kualitas aset. Jadi, bukan profitabilitas.
Lagipula, kebijakan pemerintah memangkas subsidi dan fokus ke infrastruktur. Artinya, tidak ingin tingkat konsumsi agresif. “Jadi, sektor consumer kurang menarik,” kata Steven.
Siap mengikuti jejak para jawara pasar modal yang tak mudah panik? Yuk, kita simak pendapat para narasumber berikut:
• Lukas Setia Atmadja
Peneliti dan Pengajar Prasetiya Mulya Business School
Langkah paling bijaksana investor adalah wait and see. Menunggu program pemerintah akan mulai berjalan baik, termasuk strategi penguatan rupiah. Investor perlu mencermati isu-isu makro dan mikro. Saham-saham defensif seperti sektor consumer goods dan jasa keuangan bisa menjadi pilihan mengingat situasi masih penuh ketidakpastian. Sektor-sektor seperti tambang, komoditas, dan infrastruktur patut dihindari.
Jika kondisi normal, pertumbuhan IHSG rata-rata sekitar 15%. Maka kita cukup optimis bisa menjadi 5.900-6.000 pada akhir tahun. Tetapi dengan kondisi saat ini, otomatis kita harus mengoreksi lagi. Jika pertumbuhan hanya 10% sampai akhir tahun, maka IHSG hanya akan menyentuh level 5.700. Perhitungan ini berdasarkan rata-rata kenaikan IHSG 15%-20%.
• Ellen May
Investor pasar modal
Pasar mengalami technical rebound, namun hanya bersifat sementara. Cuma sekitar satu sampai dua minggu. Pasar masih berpotensi melemah karena perlambatan ekonomi. Data Produk Domestik Bruto tidak memuaskan juga.
Saran saya, investor jangka panjang sebaiknya menunggu harga low. Sementara itu, investor jangka pendek, silakan trading dengan memanfaatkan pantulan saja. Beli lalu jual lagi. Waspada jangka menengah. Mei hingga September banyak pegang cash. Oktober mulai belanja lagi.
Saya biasa trading middle trade beberapa bulan dan short term. Saya beli PWON Selasa (5/5) untuk short term; cuma beberapa hari. Saham WTON, BSDE, INTP bisa dikoleksi.
• Irwan Ariston Napitupulu
Pengamat pasar modal
Secara tren, up-tren grafik harian sudah patah. Artinya, bullish sedang berhenti. Sebagai investor dan trader, saya bisa pindah ke saham lain seperti cut loss tapi tidak keluar. Pindah ke saham yang fundamentalnya bagus. Sebab, pada saat nanti IHSG bagus, harga saham-saham ini akan lebih duluan naik kembali.
Timing yang tepat kapan masuk ada dua cara: pakai grafik dan valuasi. Secara grafik, kalau harganya sudah di bawah dan murah, bisa masuk sebagian. Misalnya, harga saat ini Rp 2.700 per saham. Begitu menyentuh Rp 2.500, masuk lagi sebagian. Kalau masih turun lagi, didiamkan saja. Nanti juga naik lagi. Kalau secara valuasi, saat ini memang masih meraba-raba. Untuk para investor, saatnya relaksasi.
• Satrio Utomo
Kepala Riset Universal Broker Indonesia
Saham yang paling bertahan (defensif) adalah consumer goods. Sementara itu, sektor yang paling cepat pulih adalah perbankan. Ketika kembali ke bursa, investor asing biasanya melihat sektor ini. Sektor properti relatif belum turun, meski secara fundamental sektor ini kebanyakan lapis kedua dan ketiga. Karena pasar properti lagi jelek, jika sahamnya tiba-tiba kuat menurut saya itu aneh. Maka, jika benar-benar seorang investor, sektor seperti ini yang malah harus dijauhi.
Saham yang cenderung turun biasanya terjadi pada sektor yang bahan bakunya impor dan dijual menggunakan rupiah. Contohnya, sektor peternakan yang kinerjanya sangat buruk di kuartal I 2015. Langkah investor saat ini sebaiknya mencermati betul pertumbuhan ekonomi.
• Lo Kheng Hong
Investor saham “Warren Buffet Indonesia”
IHSG turun, yang harus diingat adalah “buy on weakness”. Membeli ketika turun, bukan sebaliknya. Kalau kita panik dan ikut menjual ketika pasar turun, kemudian pasar berbalik arah, kita akan rugi. Saya tidak tahu IHSG ke depan akan terus turun atau kembali naik. Karena, esok itu misteri. Yang saya tahu, ketika IHSG turun, suatu hari akan kembali naik. Bahkan naiknya akan lebih tinggi dari IHSG sebelumnya.
Saya membeli saham bukan dalam kondisi saya tahu pasar akan naik atau turun. Saya membeli saham karena saya tahu kinerja perusahaan tersebut bagus dan harganya murah. Saya membeli saham karena saya tahu nilai intrinsik perusahaan lebih tinggi dari nilai pasarnya. Belilah saham-saham yang harganya turun banyak, tetapi fundamental perusahaan tetap baik dan bertumbuh. Fundamental perusahaan bisa dilihat dari manajemen baik, bisnisnya bagus, untungnya besar, namun valuasinya masih murah. Buy what you know and know what you buy.
• Steven Satya Yudha
Associate Director Marketing and Distribution Ashmore Asset Management Indonesia
Investor sebaiknya waspada. Bulan Mei ini sangat krusial. Boleh lakukan investasi (beli saham) secara bertahap, tetapi cash management harus tetap diperhatikan. Investor bisa memilih saham-saham di luar saham-saham defensif. Sebab, valuasi saham-saham defensif sudah tinggi sekali. Saya justru berhati-hati dengan sektor defensif.
Sebenarnya, realitas tak memenuhi ekspektasi investor dan masih wait and see. Reformasi kebijakan bagus, namun penerapannya lambat sekali, misalnya kebijakan fokus di sektor infrastruktur. Dengan menghapus subsidi BBM dan fokus infrastruktur, artinya pemerintah tidak ingin konsumsi agresif. Warna kebijakan ini, menurut saya, saham-saham properti dan perbankan bagus sebagai koleksi.
Laporan Utama
Mingguan Kontan No. 33-XIX, 2015
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













