Reporter: Dityasa H Forddanta | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
JAKARTA. Hampir seluruh emiten di Bursa Efek Indonesia sudah memenuhi ketentuan batas minimal saham beredar di publik atau free float 7,5%. Meski begitu, tak semua saham dengan free float cukup besar otomatis menjadi likuid di pasar.
Contohnya saham PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO). Saham emiten perkebunan ini memiliki free float cukup besar. Setelah buyback selama beberapa waktu terakhir, free float SGRO menjadi sekitar 29%, jauh di atas batas minimal free float 7,5%.
Tapi pergerakan saham SGRO tidak terlalu atraktif. Pada Rabu (10/8), harga saham SGRO hanya turun 5 poin ke Rp 1.995 per saham. Adapun volume transaksi hariannya 114.700 saham. Sekadar catatan, porsi kepemilikan publik 514,51 juta saham.
Investor Relation SGRO Michael Kusuma mengakui kondisi ini. Di sisi lain, sentimen rendahnya harga komoditas semakin membuat saham SGRO malas bergerak. Tapi Michael melihat justru di sini poinnya.
"Beberapa tahun ini memang tahun sulit, tapi investor cukup yakin dengan prospek kami yang akan meningkat seiring optimisme rebound harga komoditas. Jadi banyak dari mereka yang tidak mau melepas saham SGRO," jelas Michael.
Analis Minna Padi Investama Frederik Rasali sependapat. Ada kalanya emiten memiliki free float besar tapi sahamnya tidak likuid. Ini karena investor melihat prospek emiten tersebut lebih menarik untuk jangka panjang sehingga mereka lebih memilih menggenggam sahamnya dalam waktu lama.
Jika menemukan saham seperti ini, boleh jadi pemegang saham publiknya adalah para asset management. "Yang banyak memegang adalah mereka yang punya horizon investasi jangka panjang, dengan strategi buy and hold," ujar Frederik, kemarin.
Dia juga melihat fenomena ini di saham BTPN. Menurut Frederik, banyak investor menahan saham BTPN karena strategi yang diterapkan emiten ini. BTPN punya strategi berupa fokus mengucurkan kredit di sektor bisnis mikro.
BTPN juga selalu melakukan investasi ulang dari setiap laba yang diperoleh. Laba tak langsung dikonversi sebagai dividen, tapi diinvestasikan kembali untuk memperkuat modal segmen kredit mikronya. Frederik bilang, investor dengan karakter investasi jangka panjang tidak melulu mengincar dividen.
"Mereka juga bisa mengincar capital gain," kata dia.
Selain dilihat dari pergerakan harga, volume dan frekuensinya, likuiditas saham bisa dilihat dari kelompok indeksnya. Jika tidak masuk indeks LQ45, level likuiditas saham tersebut di bawah saham LQ45, meski free float-nya cukup besar.
Beberapa saham seperti ini adalah MYOR. PT Unita Branindo menjadi pemegang saham mayoritas dan menguasai 32,93% saham MYOR. Sementara, pemegang saham publik mencapai 66,93%. Harga MYOR kemarin sedikit bergerak, turun 15 poin ke Rp 1.600 per saham.
Dalam satu bulan ini, volume saham MYOR hampir tak bergerak. Kemudian saham SMSM. PT Adrindo Intiperkasa memegang 58,13% saham SMSM, sementara publik mendekap 41,87%. Saham SMSM kemarin melemah 40 poin ke Rp 4.270 per saham. Masih ada saham dengan kondisi serupa, seperti saham SMAR, DSSA serta POWR.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













