kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Bahana Sekuritas: Tak hanya sosok menteri, pasar menanti kebijakan yang diambil


Kamis, 24 Oktober 2019 / 11:03 WIB
Bahana Sekuritas: Tak hanya sosok menteri, pasar menanti kebijakan yang diambil
ILUSTRASI. Logo BAHANA Sekuritas. KONTAN/Daniel Prabowo/26/07/2018

Reporter: Nur Qolbi | Editor: Herlina Kartika

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Jajaran menteri dalam kabinet Indonesia Maju yang akan membantu pemerintahan Presiden Joko Widodo periode 2019-2024 dominan diisi oleh profesional dan 45% partai politik.

Melihat hal ini, Kepala Riset Bahana Sekuritas Lucky Ariesandi berpendapat, porsi mayoritas yang dipegang oleh profesional akan semakin memudahkan gerak pemerintah dalam mengambil keputusan. Sementara itu, kehadiran menteri dari partai politik akan berdampak positif bagi pengambilan keputusan yang menyangkut perundang-undangan.

Baca Juga: Menanti Kebijakan Progresif Menteri Perindustrian Baru premium

Selanjutnya, jika melihat menteri koordinator yang telah ditunjuk oleh presiden, maka, koordinasi antara kementerian akan lebih kuat.  

Sebagai informasi, Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan dijabat oleh Mahfud MD (sebelumnya Wiranto), Menteri Koordinator bidang Perekonomian dijabat oleh Airlangga Hartarto (sebelumnya Darmin Nasution), Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dijabat oleh Muhadjir Effendy (sebelumnya dijabat oleh Puan Maharani), dan Menteri Koordinator bidang Maritim dan Investasi tetap dijabat Luhut B. Pandjaitan.

Meskipun begitu, menurut Lucky,  pasar sebenarnya tidak sekadar menilai sosok yang dipilih, namun lebih menantikan kebijakan yang akan diambil dalam waktu dekat. "Kesinambungan kebijakan dengan kebijakan pendahulu akan berdampak positif pada pasar," jelasnya dalam keterangan tertulisnya, Kamis (24/10).

Ia melihat minat investor asing untuk masuk ke portofolio saham dan surat berharga negara masih cukup tinggi karena yield yang ditawarkan lebih tinggi dibandingkan negara lainnya. Dengan begitu, masih ada ruang bagi rupiah dan indeks saham untuk menguat. 

"Rupiah yang sempat tertekan dalam perdagangan hari ini, sifatnya hanya sementara," kata Lucky.

Baca Juga: Proyeksi IHSG: Bergantung Rapat BI

Ia juga menilai Bank Indonesia masih memiliki ruang untuk memangkas suku bunga acuan pada bulan ini sebesar 25 basis point (bps) dalam rapat dewan gubernur  yang dilaksanakan hari ini (24/10). 

Sebelumnya, sejak Juli hingga September 2019, BI secara bertahap memotong suku bunga sebesar 25 bps hingga ke level 5,25%, dari sebelumnya 6%.

 




TERBARU

Close [X]
×