kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.837.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.003   -14,00   -0,08%
  • IDX 7.092   -5,39   -0,08%
  • KOMPAS100 977   0,13   0,01%
  • LQ45 717   -1,48   -0,21%
  • ISSI 252   2,66   1,07%
  • IDX30 389   -2,31   -0,59%
  • IDXHIDIV20 489   0,39   0,08%
  • IDX80 110   0,25   0,22%
  • IDXV30 136   2,13   1,58%
  • IDXQ30 127   -0,98   -0,77%

Asing Gencar Jual Saham Blue Chip, Investor RItel Perlu Ikut Jual/Beli?


Selasa, 31 Maret 2026 / 07:45 WIB
Asing Gencar Jual Saham Blue Chip, Investor RItel Perlu Ikut Jual/Beli?
ILUSTRASI. Asing Gencar Jual Saham Blue Chip, Investor RItel Perlu Ikut Jual/Beli?


Reporter: Muhammad Alief Andri | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - Jakarta. Aliran dana asing masih deras keluar dari pasar saham domestik dan menekan saham-saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan. Lalu, apakah sekarang saatnya jual atau beli saham berkarakteristik blue chip tersebut?

Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, mencatat total outflow asing telah mencapai Rp 23,91 triliun secara year to date (YTD) per 26 Maret 2026.

“Outflow ini didominasi aksi jual di sektor perbankan berkapitalisasi besar dan kami melihat tren ini belum akan berbalik dalam jangka pendek selama ketidakpastian global masih tinggi,” ujarnya.

Sejumlah sentimen global menjadi pemicu utama, mulai dari eskalasi konflik di Timur Tengah, lonjakan harga energi, hingga ketidakpastian arah suku bunga global. Dari domestik, pelemahan rupiah dan potensi defisit APBN 2026 juga turut membebani sentimen investor.

Baca Juga: IHSG Turun Tipis ke 7.091, Ini Sentimen Global dan Rekomendasi Saham Hari Ini (31/3)

Meski demikian, Abida menegaskan tekanan ini lebih bersifat jangka pendek dan tidak mencerminkan penurunan fundamental emiten.

“Prospek saham blue chip tetap solid. Koreksi harga saat ini lebih mencerminkan tekanan eksternal dan bukan penurunan kinerja perusahaan,” jelasnya.

Ia menambahkan, sektor perbankan sebagai proxy utama investor asing memang paling terdampak. Namun kualitas aset tetap terjaga, tercermin dari rasio kredit bermasalah (NPL) yang rendah serta pertumbuhan laba yang stabil.

Dalam kondisi ini, valuasi saham blue chip dinilai sudah cukup menarik untuk akumulasi bertahap. “Banyak saham terkoreksi karena panic selling, bukan karena fundamental memburuk. Ini peluang bagi investor jangka panjang,” kata Abida.

Senada, Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, menilai outflow asing dipicu kombinasi suku bunga tinggi global, penguatan dolar AS, dan meningkatnya risk-off sentiment.

“Kenaikan harga minyak akibat risiko geopolitik, seperti potensi penutupan Selat Hormuz, juga bisa memperlebar defisit fiskal Indonesia,” ujarnya.

Tonton: Gelombang IPO Besar Datang! 11 Raksasa Siap Masuk Bursa

Meski risiko masih tinggi, Azis melihat sebagian saham blue chip sudah berada di level valuasi yang menarik dibandingkan historisnya.

“Ini membuka peluang akumulasi untuk investor jangka menengah hingga panjang, meskipun dalam jangka pendek masih cenderung wait and see,” imbuhnya.

Dari sisi rekomendasi, Abida menyarankan akumulasi selektif pada saham berfundamental kuat seperti BBCA (target Rp 11.400), BMRI (Rp 6.200), dan BBNI (Rp 4.700). Selain itu, TLKM juga direkomendasikan beli dengan target Rp 4.000.

Sementara itu, Azis merekomendasikan buy saham ASII dengan target harga Rp 7.000–Rp 7.200.

Di sisi lain, tekanan asing terlihat dari daftar net sell YTD yang didominasi saham big caps seperti BBCA, BBNI, BMRI, hingga BBRI. Sebaliknya, net buy asing mengalir ke saham komoditas seperti SGRO, ADRO, hingga PTBA.

Dengan kondisi ini, pasar masih dibayangi volatilitas jangka pendek. Namun koreksi yang terjadi membuka peluang bagi investor untuk masuk di saham-saham unggulan dengan valuasi lebih menarik.




 

Profil Samin Tan, Orang Terkaya RI yang Tersandung Kasus Korupsi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×