kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.663.000   -6.000   -0,22%
  • USD/IDR 16.917   7,00   0,04%
  • IDX 9.075   42,82   0,47%
  • KOMPAS100 1.256   8,05   0,64%
  • LQ45 889   7,35   0,83%
  • ISSI 330   0,23   0,07%
  • IDX30 452   3,62   0,81%
  • IDXHIDIV20 533   4,12   0,78%
  • IDX80 140   0,85   0,61%
  • IDXV30 147   0,15   0,10%
  • IDXQ30 145   1,19   0,83%

Asing belum pergi dari pasar SUN


Senin, 30 April 2012 / 08:30 WIB
Asing belum pergi dari pasar SUN
The Falcon and The Winter Soldier dari Marvel Studios yang tayang di Disney+.


Reporter: Albertus M. Prestianta | Editor: Dupla Kartini

JAKARTA. Pemodal asing mempertahankan investasinya di Indonesia. Kesimpulan itu merujuk pada data kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN) per 26 April.
Nilainya dalam hitungan di Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan adalah Rp 229,06 triliun, naik Rp 4,34 triliun dari akhir Maret 2012.

Kenaikan kepemilikan asing tersebut juga terjadi seiring kenaikan penerbitan SBN. Pada periode yang sama, total nilai SBN naik 1,65% dari Rp 760,58 triliun menjadi
Rp 773,13 triliun.

Pengamat ekonomi dan pasar obligasi Lana Soelistianingsih menilai, ekspektasi terhadap laju inflasi memang masih tinggi. Meski begitu, minat asing terhadap obligasi Indonesia masih ada. Menurut dia, investor asing terus mengamati perkembangan yang terjadi di pasar.

Harga SUN murah

Di bulan Maret dan April, investor, termasuk investor asing, sempat cemas mendengar kabar rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Sebab, kebijakan ini akan mendorong laju inflasi.

"Tapi, ternyata BBM tidak jadi naik. Inflasi masih tetap terjaga, BI rate masih tetap 5,75%," kata Lana. Menurut dia, kondisi itu menunjukkan sentimen kenaikan harga BBM tidak terlalu besar pengaruhnya terhadap ekonomi Indonesia. Alhasil, investor asing berani masuk lagi.

Potensi kenaikan harga BBM tidak terlalu berdampak pada pasar saham. "Investor merasa cukup tenang dan menunjukkan sinyal up side, melihat kondisi pasar saham yang tidak mengalami perubahan secara signifikan," kata Lana. Akibatnya, pasar obligasi tetap stabil, meski ada ketidakpastian.

Sementara, I Made Adi Saputra, analis obligasi NC Securities, menduga, investor membeli karena menilai harga surat utang negara (SUN) masih murah. "Investor asing berani masuk karena harga SUN sudah rendah. Mereka memilih SUN tenor panjang, menyesuaikan dengan horizon investasi jangka panjang," kata dia. Bank Indonesia (BI) juga siap membeli SUN, sehingga harga SUN tidak akan koreksi dalam.

Analis memperkirakan, inflasi April masih dalam kisaran stabil. Karena itu, Lana yakin, asing akan menambah kepemilikan di SUN secara bertahap.

Lana menduga, kepastian soal harga BBM bersubsidi dan perkembangan kabar tentang krisis Eropa akan menjadi penentu arah harga obligasi di dalam negeri.

Karena itu, Adi menduga harga SUN akan cenderung mendatar. SUN kembali menguat bila kebijakan BBM dan upaya pemerintah mengendalikan inflasi sudah jelas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies Investing From Zero

[X]
×