kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.550.000   -4.000   -0,16%
  • USD/IDR 18.080   20,00   0,11%
  • IDX 5.388   59,54   1,12%
  • KOMPAS100 697   10,48   1,53%
  • LQ45 545   8,81   1,64%
  • ISSI 183   1,92   1,06%
  • IDX30 305   4,36   1,45%
  • IDXHIDIV20 400   6,31   1,60%
  • IDX80 80   1,24   1,57%
  • IDXV30 111   1,31   1,20%
  • IDXQ30 101   1,89   1,91%

AS akan Tetapkan Tarif Tinggi bagi Impor Aluminium Rusia, Ini Efeknya ke Harga Global


Kamis, 09 Februari 2023 / 09:49 WIB
ILUSTRASI. Wacana AS untuk menaikkan tarif impor aluminium buatan Rusia 200% tidak akan berdampak signifikan bagi harga aluminium global. ANTARA FOTO/Adiva Niki/Lmo/tom.


Reporter: Akmalal Hamdhi | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Wacana Amerika Serikat (AS) ingin menaikkan tarif impor aluminium buatan Rusia 200% tidak akan berdampak signifikan bagi harga aluminium global. Permintaan aluminium AS terhadap Rusia kecil, bahkan terus menyusut. 

Research & Development ICDX Revandra Aritama mencermati, kebijakan bea impor AS tersebut lebih diniatkan sebagai sanksi tambahan untuk Rusia atas konflik geopolitik di eropa timur. Aksi ini bertujuan untuk memaksa Rusia agar menghentikan konflik di Ukraina.

Pasalnya, Rusia merupakan salah satu produsen aluminium terbesar di dunia. Adanya penerapan tarif yang lebih tinggi diharapkan bisa menyakiti Rusia. 

Baca Juga: Hilirisasi Bauksit & Epicentrum of Growth

Meskipun begitu, impor AS terhadap aluminium Rusia bukanlah yang terbesar. Dengan kata lain, kebijakan ini tidak berpengaruh banyak terhadap pergerakan harga aluminium global.

Revandra bilang, kebijakan bea impor AS justru berpotensi mengganggu stok aluminium di negara Paman Sam tersebut. Pada akhirnya, gangguan stok aluminium menjadi kendala bagi sektor manufaktur.

Amerika Serikat tidak mengimpor banyak aluminium Rusia. Pada tahun 2021, AS tercatat melakukan impor aluminium dari Rusia senilai US$ 657 juta. Jumlah ini lebih kecil dari laporan tahun 2017, saat AS mengimpor aluminium Rusia dengan nilai lebih dari US$ 1,6 miliar.

Dengan kondisi ini, penetapan bea impor 200% terhadap aluminium Rusia tidak terlalu memberikan pengaruh bagi harga aluminium global.

"Apalagi Rusia dilaporkan menggenjot kerjasama dalam produksi aluminium dengan Tiongkok," jelas Revandra kepada Kontan.co.id, Rabu (8/2).

Revandra menilai pergerakan harga komoditas energi menjadi salah satu sentimen yang dapat memberikan pengaruh terhadap permintaan aluminium.

Baca Juga: Ekonomi China Dibuka, Harga Logam Industri Menggeliat

Mahalnya komoditas energi menyebabkan banyak pabrik yang menurunkan jumlah produksinya. Sehingga, permintaan atas aluminium yang merupakan bahan baku yang banyak diperlukan dalam sektor manufaktur, ikut turun. 

"Jika krisis energi dapat teratasi, maka permintaan atas aluminium juga dapat terdongkrak sehingga harganya akan ikut naik," pungkas Revandra.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×