Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Usulan MSCI untuk menurunkan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market berpotensi memicu arus keluar dana pasif sekitar US$ 3 miliar menjelang keputusan final pada Juni 2027, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap transparansi pasar dan penegakan regulasi.
Fixed Income Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Jessica Tasijawa, mengatakan sentimen tersebut juga menjadi ancaman bagi obligasi pemerintah Indonesia atau INDOGB.
“Rotasi dana domestik dari saham dapat menopang permintaan obligasi, sementara aksi jual asing dan pelemahan rupiah berpotensi mendorong kenaikan premi risiko negara,” terang Jessica dalam risetnya, Senin (19/10/2026).
Baca Juga: Emiten Prajogo Pangestu, Barito Pacific (BRPT) Siapkan Buyback Rp 1 Triliun
Kata Jessica, aksi jual saham dapat mendorong investor domestik mengalihkan dana ke INDOGB sebagai aset defensif. Namun, penyesuaian portofolio investor asing secara lebih luas dan pelemahan rupiah juga dapat memicu arus keluar tambahan dari pasar obligasi serta meningkatkan premi risiko negara. Kondisi ini memperkuat sikap hati-hati kami terhadap obligasi bertenor panjang.
Jessica mengidentifikasi ada sejumlah potensi dampak jika MSCI menurunkan klasifikasi Indonesia jadi standalone market. Pertama, akan terjadi koreksi pasar saham sebesar 5%-15% dari level sebelum keputusan diumumkan. Kedua, pelebaran sovereign risk spreads sebesar 20-50 basis poin (bps).
Kemudian ketiga akan berdampak ke kenaikan yield INDOGB sebesar 20-50 bps, disertai pelemahan rupiah sebesar 2%-5%, apabila aksi jual investor asing melampaui permintaan domestik. Dan tentunya berisiko makin derasnya arus keluar dana asing dari pasar saham maupun INDOGB.
Sebenarnya arus dana asing ke aset berdenominasi rupiah kembali mencatatkan pemulihan sebesar Rp 7,8 triliun pada periode 12-15 Oktober, tidak termasuk Jumat lalu ketika pengumuman MSCI disampaikan.
Arus masuk tersebut terutama berasal dari instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebesar Rp 4,7 triliun, INDOGB sebesar Rp 3 triliun, serta saham sebesar Rp 200 miliar. Dengan demikian, arus masuk bersih sepanjang tahun berjalan mencapai Rp 152,6 triliun.
“Namun, kami menilai pemulihan permintaan asing kembali menghadapi tekanan akibat potensi perubahan klasifikasi Indonesia oleh MSCI. Aksi jual pada Jumat setelah pengumuman tersebut memicu arus keluar dana sebesar Rp 3,3 triliun dari pasar saham dan Rp 1,5 triliun dari INDOGB,” beber Jessica.
Baca Juga: Fitch Ramal Pasar Surat Utang Indonesia Tembus US$ 800 Miliar pada 2026
Dicatatnya pula imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia naik tajam pada Jumat (16/10). Yield obligasi tenor 10 tahun meningkat 11 bps menjadi 7,36%, sedangkan tenor dua tahun melonjak 17 bps menjadi 6,92%.
Sebagai perbandingan, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun hanya naik 1 bps menjadi 5,07%, sementara tenor dua tahun turun 3 bps menjadi 4,71%.
Meski demikian, Jessica berpandangan, dampak langsung terhadap kelayakan INDOGB untuk masuk dalam indeks obligasi dinilai masih terbatas. Hal ini mengindikasikan bahwa risiko utama lebih berkaitan dengan sentimen investor secara luas, volatilitas rupiah, dan potensi realokasi portofolio lintas aset, bukan semata-mata perubahan struktural dalam penilaian obligasi pemerintah.
Untuk strategi investasinya untuk investor, Jessica memberikan sejumlah seri obligasi yang menjadi pilihan utama berdasarkan kelompok tenor. Untuk tenor 1–5 tahun, pilihan mencakup FR0085, FR0082, FR0087, PBS023, FR0054, RI0731, dan SNI0631.
Sementara itu, untuk tenor 5–10 tahun, seri yang menjadi pilihan adalah FR0103, FR0065, FR0100, PBS022, PBS037, RI0035, dan SNI0734.
Pada kelompok tenor 10–15 tahun, pilihan utama meliputi FR0106, FR0075, FR0079, PBS034, PBS039, RI0038, dan RI0037. Adapun untuk tenor 15 tahun ke atas, seri yang menjadi pilihan adalah FR0107, FR0102, FR0097, PBS035, PBS028, RI0148, dan SNI0651.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













