kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.594.000   2.000   0,08%
  • USD/IDR 17.941   23,00   0,13%
  • IDX 5.936   -157,61   -2,59%
  • KOMPAS100 766   -19,95   -2,54%
  • LQ45 591   -10,76   -1,79%
  • ISSI 206   -6,62   -3,11%
  • IDX30 330   -4,72   -1,41%
  • IDXHIDIV20 423   -4,31   -1,01%
  • IDX80 88   -2,12   -2,37%
  • IDXV30 116   -0,86   -0,74%
  • IDXQ30 108   -1,04   -0,95%

Agunan Saham JARR-PGUN di Bank Mandiri, Risiko Saham Bakrie 2008 Membayangi


Selasa, 13 Oktober 2026 / 05:43 WIB
Agunan Saham JARR-PGUN di Bank Mandiri, Risiko Saham Bakrie 2008 Membayangi
ILUSTRASI. Teller menghitung uang di Bank Mandiri, Jakarta (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Risiko kredit berbasis agunan saham kembali menjadi perhatian pasar setelah pemegang saham pengendali PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) dan PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) menjaminkan saham mereka kepada PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Analis menilai, penurunan harga saham yang tajam berpotensi menggerus nilai agunan, seperti yang terjadi dalam kasus Grup Bakrie pada 2008.

Dalam riset tertanggal 9 Oktober 2026, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nurkholis Syafruddin menyoroti potensi risiko dari fasilitas kredit yang dijamin dengan saham kedua emiten tersebut. Meski nilai agunan saat ini masih jauh di atas estimasi pinjaman, koreksi harga saham dapat meningkatkan rasio pinjaman terhadap nilai agunan atau loan-to-value (LTV).

Pada 30 September 2026, PT Eshan Agro Sentosa menjaminkan 7,99 miliar saham JARR atau setara 86,64% dari saham beredar kepada Bank Mandiri. Sementara itu, PT Araya Agro Lestari, PT Citra Agro Raya, dan PT Baramega Citra Mulia Persada menjaminkan total 5,30 miliar saham PGUN.

Penjaminan tersebut dilakukan untuk mendukung fasilitas kredit bagi perusahaan afiliasi dan tidak mengubah pengendalian atas kedua emiten.

Baca Juga: IHSG Diprediksi Tertekan Hari Ini (13/10), Cermati 3 Sentimen Penggerak Pasar

Estimasi kredit Rp 26,1 triliun, LTV bisa mencapai 65%

Mirae Asset memperkirakan kebutuhan fasilitas kredit mencapai sekitar Rp 26,1 triliun apabila pembelian 10,08 miliar saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) oleh PT Jhonlin Baratama sepenuhnya dibiayai utang.

Transaksi yang mencakup 30,25% saham BYAN tersebut berlangsung di pasar negosiasi pada 7 Oktober 2026 dengan harga Rp 2.588 per saham.

Berdasarkan harga penutupan 8 Oktober 2026, nilai saham JARR dan PGUN yang dijaminkan diperkirakan mencapai Rp 73 triliun. Dengan menggunakan asumsi pinjaman Rp 26,1 triliun, rasio LTV berada di sekitar 36%.

Namun, tingkat perlindungan kreditur tersebut dapat menyusut apabila harga saham terkoreksi. Berdasarkan simulasi Mirae Asset, LTV meningkat menjadi sekitar 41% jika menggunakan rata-rata harga saham selama 90 hari. Rasio tersebut bahkan bisa mencapai 65% apabila menggunakan harga terendah dalam periode yang sama.

Pergerakan harga saham pada Senin (12/10/2026) turut memperlihatkan tekanan terhadap nilai agunan.

Saham PGUN turun 3,97% ke level Rp 8.475 per saham. Dibandingkan dengan penutupan pada 30 September 2026, harganya telah terkoreksi 13,08%.

Sementara itu, saham JARR melemah 9,97% ke level Rp 2.800 per saham pada perdagangan Senin. Jika dibandingkan dengan posisi 30 September 2026, harga JARR telah anjlok 21,79%.

Meski demikian, estimasi LTV tersebut merupakan simulasi berdasarkan asumsi nilai pinjaman dan harga saham, bukan konfirmasi mengenai besarnya fasilitas kredit aktual yang telah dicairkan.

Baca Juga: Astra (ASII) Gelar Tender Sukarela Saham AUTO di Harga Rp 3.600 per Saham

Kasus Grup Bakrie 2008 menjadi pelajaran

Nurkholis mengingatkan bahwa kasus Grup Bakrie pada 2008 memperlihatkan bagaimana penurunan harga saham dapat mengubah posisi agunan yang semula terlihat aman menjadi sumber tekanan bagi kreditur.

Pada Januari 2008, Bakrie & Brothers mengumumkan akuisisi senilai Rp 48,4 triliun untuk mengambil alih saham pengendali PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan dua perusahaan afiliasinya.

Dalam periode April hingga September 2008, Grup Bakrie dilaporkan memperoleh pinjaman jangka pendek sekitar US$ 1,43 miliar. Saham sejumlah perusahaan dalam kelompok usaha tersebut, termasuk BUMI, digunakan sebagai agunan. Pada awalnya, nilai saham yang dijaminkan diperkirakan mencapai US$ 6 miliar, dengan LTV sekitar 20%–25%.

Rasio tersebut bahkan lebih rendah dibandingkan estimasi LTV 36% dalam analisis Mirae Asset atas penjaminan saham JARR dan PGUN.

Namun, situasi berubah ketika pasar saham mengalami tekanan akibat krisis keuangan global. Harga saham BUMI yang sempat naik dari Rp 950 per saham pada Januari 2008 menjadi Rp 8.750 pada Juni 2008 kemudian mengalami penurunan tajam.

Pada 6 Oktober 2008, nilai saham yang dijaminkan dilaporkan merosot menjadi sekitar US$ 1,35 miliar. Penurunan tersebut membuat nilai agunan tidak lagi memadai untuk menutup eksposur pinjaman berdasarkan sejumlah asumsi, sehingga LTV melampaui 100%.

Kreditur kemudian meminta tambahan agunan untuk mempertahankan perlindungan atas pinjaman. Sejumlah saham yang terafiliasi dengan Grup Bakrie juga sempat disuspensi.

Ketika perdagangan BUMI kembali dibuka pada 6 November 2008, saham tersebut menyentuh batas penurunan harga otomatis selama empat hari berturut-turut. Antrean jual pada hari pertama dilaporkan mencapai sekitar 1,9 miliar saham atau setara 10% dari saham beredar.

Pada akhirnya, utang Grup Bakrie dialihkan kepada Northstar, Brentwood, dan Ancora dengan imbalan saham BUMI yang dijaminkan.

Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa kinerja operasional dan laba perusahaan tidak otomatis melindungi nilai saham dari tekanan pasar. BUMI sendiri masih membukukan laba bersih US$ 645 juta sepanjang 2008.

Baca Juga: Wall Street Mixed, Nasdaq Turun Jelang Rilis Laporan Laba dan Data Ekonomi

Likuiditas saham PGUN menjadi perhatian

Dalam kasus JARR dan PGUN, sekitar 66% nilai agunan berasal dari saham PGUN. Menurut analisis Mirae Asset, saham tersebut memiliki nilai transaksi harian di bawah Rp 1 miliar dan diperdagangkan pada rasio harga terhadap laba atau price to earnings ratio (PER) sekitar 178 kali.

Kondisi itu menjadi perhatian karena saham dengan likuiditas terbatas berpotensi sulit dijual dalam jumlah besar tanpa menekan harga secara signifikan.

Dengan demikian, nilai agunan yang tinggi secara nominal belum tentu dapat direalisasikan sepenuhnya ketika kreditur harus mengeksekusi dan menjual saham untuk memulihkan pinjaman.

Di sisi lain, Bank Mandiri sebagai satu-satunya penerima agunan dinilai memiliki risiko lebih kecil untuk terlibat dalam penjualan secara terburu-buru dibandingkan situasi ketika beberapa kreditur berlomba-lomba melepas saham yang sama.

Meski demikian, ruang mitigasi tetap perlu dicermati. Seluruh saham pengendali yang menjadi agunan telah dijaminkan, sehingga tidak tersedia sisa saham dalam kepemilikan tersebut untuk menambah jaminan apabila LTV meningkat.

Mirae Asset memperkirakan penurunan nilai agunan sekitar 64% akan membuat nilai saham yang dijaminkan berada di bawah asumsi pinjaman Rp 26,1 triliun dalam analisis tersebut.

Tonton: IHSG Anjlok Hari Ini (12 Oktober 2026)

Prospek Bank Mandiri masih dibayangi sejumlah risiko

Di luar persoalan agunan saham JARR dan PGUN, Mirae Asset mempertahankan pandangan bearish terhadap BMRI. Analis menyoroti tekanan likuiditas, keterbatasan permodalan, serta potensi kenaikan risiko kualitas aset dari sektor konstruksi BUMN.

Dalam riset tersebut, rasio pinjaman terhadap simpanan atau loan-to-deposit ratio (LDR) Bank Mandiri tercatat mencapai 94,4% pada Januari–Agustus 2026. Pada periode yang sama, deposito tumbuh 48% secara tahunan.

Sementara itu, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) pada semester I-2026 turun menjadi 17,5%. Rasio cadangan kerugian terhadap kredit atau loan loss reserve (LLR) juga berada di sekitar 2,4%, yang menurut Mirae Asset merupakan level terendah dalam sejarah bank tersebut.

Mirae Asset menilai ruang penurunan biaya kredit masih terbatas setelah meningkatnya risiko dari sektor konstruksi BUMN.

Kombinasi tekanan likuiditas, permodalan, dan kualitas aset tersebut membuat prospek BMRI masih perlu dicermati. Di tengah kondisi itu, risiko penurunan nilai agunan saham JARR dan PGUN menjadi faktor tambahan yang patut diperhatikan investor, meskipun dampak akhirnya terhadap kualitas kredit Bank Mandiri bergantung pada besarnya eksposur aktual, kemampuan debitur memenuhi kewajiban, serta perkembangan harga saham yang dijaminkan.

 

Saham Haji Isam Dijaminkan ke BMRI, Alarm Risiko Mulai Berbunyi?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×