: WIB    —   
indikator  I  

Tawaran kupon euro bond tahun ini bisa ditekan

Tawaran kupon euro bond tahun ini bisa ditekan

JAKARTA. Pada tahun ini, pemerintah berencana menerbitkan kembali Surat Utang Negara (SUN) Valuta Asing berdenominasi Euro atau Euro Bond. Jika berjalan sesuai rencana, Euro Bond akan diterbitkan Juli mendatang.

Pihak Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemkeu) masih enggan untuk membeberkan detail penerbitannya. “Aturannya begitu, harap maklum ya,” ujar Direktur Surat Utang Negara Kemkeu Loto Srinaita Ginting, saat dihubungi KONTAN, Minggu (19/6).

Sebagai gambaran, tahun 2016 lalu, pemerintah menerbitkan Euro Bond senilai 3 miliar euro. Nominal tersebut merupakan yang terbesar daripada beberapa kali penerbitan sebelumnya yang hanya menyerap dana 1 miliar euro. Jumlah tersebut dihimpun dari dua seri surat utang yang ditawarkan dengan total penawaran masuk 8,36 miliar euro atau mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) sekitar 2,8 kali.

Pertama, seri RIEUR0623 bertenor 7 tahun yang jatuh tempo 14 Juni 2023 menawarkan kupon 2,625%. Seri ini menyerap dana 1,5 miliar euro dari total permintaan 4,23 miliar euro.

Kedua, RIEUR0628 berjangka waktu 12 tahun akan kadaluarsa 14 Juni 2028 memberikan kupon 3,75%. Seri ini memenangkan dana sama dengan seri sebelumnya, yakni 1,5 miliar euro dari total penawaran 4,13 miliar euro.

Fixed Income Fund Manager Ashmore Asset Management Indonesia Anil Kumar memprediksi, penerbitan Euro Bond tahun ini berpeluang bagi pemerintah menurunkan tingkat kupon yang ditawarkan. Ia membandingkan dengan penerbitan pada tahun 2015 yang menawarkan obligasi bertenor 10 tahun dengan kupon berkisar 3,25%-3,75%. “Kalau sekarang dipatok 3% saja, saya pikir akan laku keras,” ujarnya.

Sebab, berdasarkan pengamatannya, surat utang sejenis dengan tenor sama yang beredar di pasar, tengah diperdagangkan dengan kisaran kupon 2,6%-2,7%. Artinya, ia masih melihat peluang penurunan kupon untuk tenor 10 tahun bisa ditekan hingga 2,9%.

Di samping peluang penurunan kupon, Anil memperkirakan penawaran yang masuk akan tetap ramai sebagaimana tahun sebelumnya. “Oversubscribed antara 2 sampai 3 kali masih masuk akal,” tambahnya.

Faktor penyebabnya ada dua. Pertama, melihat tawaran tingkat imbal hasil bagi investor. Jika cukup tinggi dibandingkan dengan obligasi lainnya di pasar, maka minatnya akan banyak. Kedua, imbas kenaikan peringkat utang Indonesia menjadi investment grade oleh Standard and Poor's (S&P).

Ia mengamati, efek kenaikan peringkat tersebut masih berlanjut hingga saat ini. Sekalipun Federal Open Market Committee (FOMC) mengumumkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis points (bps) pada pekan lalu, dinilainya tidak menjadi faktor yang menahan arus investasi ke pasar surat utang Indonesia.

Anil bilang, saat ini investor lebih menaruh perhatiannya pada pergerakan Bank Sentral Eropa (ECB). “Investor tidak khawatir karena kenaikan The Fed,” tegasnya.

Selain itu, ia menyebut, kupon yang ditawarkan Euro Bond pun cukup bersaing dibanding obligasi beberapa kawasan di Eropa. Merujuk pada data Trading Economics per 19 Juni, yield obligasi tenor 10 tahun di Inggris yang berada pada level 1,02%. Lalu, yield obligasi tenor 10 tahun di Jerman yang justru lebih rendah yakni sebesar 0,28%.


Reporter Olfi Fitri Hasanah
Editor Hendra Gunawan

0

Feedback   ↑ x
Close [X]