kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Sisa utang BNBR tinggal Rp 5,5 triliun


Jumat, 20 Januari 2012 / 14:36 WIB
ILUSTRASI. Calon penumpang kereta api menghembuskan nafasnya ke dalam kantong untuk dites COVID-19 dengan GeNose C19 di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Kamis (4/2/2021). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/aww.


Reporter: Anna Suci Perwitasari | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Setelah menyelesaikan transaksi penjualan saham Bumi Plc, posisi utang PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) mencatatkan penurunan menjadi Rp 5,5 triliun. "Setelah transaksi BORN (PT Borneo Lumbung Energy and Metal Tbk) langsung kami bayar ke Credit Suisse. Uangnya dari BORN itu cuma numpang lewat karena langsung kami lunasi ke CS," kata Direktur Keuangan BNBR Eddy Soeparno di Jakarta, Jumat (20/1).

Sebagai catatan, BORN telah mengapit 23,8% saham milik Bumi Plc. Sebagai gantinya, perusahaan tambang batubara tersebut memberikan dana segar mencapai US$ 1 miliar kepada Grup Bakrie yaitu BNBR dan Long Houl.

Lebih lanjut, Eddy bilang, jika jatah BNBR yang dibayarkan ke Credit Suisse hanya US$ 445 juta. "Jatah kami itu US$ 445 juta dan itu langsung kita pakai untuk dilunasi. Dan Long Houl juga langsung bayar," jelasnya. Menurutnya, transaksi ini bisa selasai pada Senin (23/1).

Sebenarnya, BNBR sempat menargetkan penurunan total utangnya mencapai Rp 5,5 triliun pada akhir 2011 lalu. "Iya ini memang telat. Karena transaksi ini juga telat, kan mereka baru RUPS di 30 Desember lalu," tambah Eddy.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×