kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.614.000   8.000   0,31%
  • USD/IDR 17.940   -67,00   -0,37%
  • IDX 6.176   67,33   1,10%
  • KOMPAS100 814   12,72   1,59%
  • LQ45 622   13,33   2,19%
  • ISSI 212   0,39   0,18%
  • IDX30 351   8,04   2,34%
  • IDXHIDIV20 438   9,47   2,21%
  • IDX80 93   1,54   1,68%
  • IDXV30 117   0,44   0,38%
  • IDXQ30 113   2,94   2,65%

Sinyal dari China jegal reli minyak


Selasa, 21 Januari 2014 / 07:18 WIB
ILUSTRASI. JAKARTA - Karyawan menunjukan emas di Galeri 24 Pegadaian, Jakarta. KONTAN/Fransiskus Simbolon


Reporter: Dina Farisah | Editor: Dupla Kartini

JAKARTA. Kecemasan pasar terhadap pelambatan ekonomi China menjegal laju harga minyak mentah dunia. Padahal, pekan lalu, harga minyak masih merangkak naik.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret 2014, Senin (20/1) pukul 15.40 WIB, turun 0,75% dari akhir pekan lalu, ke level US$ 93,88 per barel. Meski begitu, dalam sepekan terakhir, harga minyak masih menguat 2,03%.

Harga minyak melandai setelah Biro Statistik China melaporkan, pertumbuhan produksi pabrik di China per Desember 2013 sebesar 9,7%. Ini ekspansi paling lambat dalam lima bulan terakhir. Angka  ini juga di bawah ekspektasi analis, yaitu mencapai 9,8%.

Alhasil, pasar cemas, permintaan minyak dari China bakal surut. Maklum, China merupakan negara kedua terbesar pengguna minyak.  

Boleh dibilang, China adalah kunci dalam jangka pendek. "Sangat penting memperhatikan China. Saya pikir, permintaan akan berkurang dibanding Amerika Serikat dan Eropa," kata Robin Mills, Kepala Konsultan Manager Energy Consulting and Manajemen Proyek di Dubai, seperti dikutip Bloomberg.

Senior Research and Analyst Monex Investindo, Zulfirman Basir menilai, kekhawatiran terhadap sinyal pelambatan ekonomi China menjadi faktor utama penggerak harga minyak pada awal pekan ini.

Butuh katalis

Zulfirman menduga, koreksi harga minyak masih akan berlanjut dalam sepekan ini. "Namun, koreksi mulai terbatas," ungkap Zulfirman.

Pasalnya, pasar masih menanti serangkaian data ekonomi dari Eropa dan Inggris, yang diharapkan menunjukkan pemulihan di Eropa.

Analis SoeGee Futures, Nizar Hilmy menilai, harga minyak bergerak sideways dengan kecenderungan koreksi. Menurutnya, rilis data China  yang mengecewakan menghadang laju harga minyak.

Padahal, pasca jatuh ke level US$ 91,0 per barel, harga minyak berhasil reli pada pekan lalu hingga menyentuh US$ 94,90 per barel. "Saat ini, minyak butuh katalis untuk bergerak naik. Jika tidak ada dorongan, minyak cenderung koreksi," prediksi Nizar.

Secara teknikal, pergerakan harga minyak masih mixed. Argumentasi ini tercermin dari harga yang berada di bawah moving average (MA) 50, MA 100, dan MA 200. Kondisi ini menandakan tekanan harga minyak masih terjadi.

Sementara, moving average convergence divergence (MACD) berada di area negatif, namun,  sudah mulai bergerak naik. Indikator stochastic berada di level 66%, dan masih menanjak. Sementara, relative strength index (RSI) sideways di posisi 44%.

Nizar memprediksi, harga minyak  dalam sepekan ini akan bergulir di US$ 92,00-US$ 94,50 per barel. Prediksi Zulfirman, harga minyak bakal bergerak antara US$ 91,50-US$ 94,90 per barel.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×