kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Riwayat Bentoel Internasional Investama (RMBA) perbaiki kerugian dari masa ke masa


Minggu, 07 Juli 2019 / 16:32 WIB

Riwayat Bentoel Internasional Investama (RMBA) perbaiki kerugian dari masa ke masa


KONTAN.CO.ID - MALANG. Lebih dari delapan dasawarsa PT Bentoel Internasional Investama Tbk (RMBA) terus beradaptasi dengan laju bisnis industri rokok dan tembakau yang penuh tantangan. Tidak tanggung-tanggung RMBA bertransformasi dengan investasi besar-besaran pada teknologi untuk memperbaiki kinerja fundamentalnya.

Menilik riwayat usahanya, perusahaan Bentoel didirikan pada 1930 oleh Ong Hok Liong dengan nama Strootjes Fabriek Ong Hok Liong. Awal mula perusahaan ini memproduksi rokok kretek tangan ternama seperti Tali Jagat, Bintang Buana, Sejati, Neo Mild, dan Uno Mild.

Kemudian pada 1954 perusahaan rokok ini berubah nama menjadi PT Perusahaan Rokok Tjap Bentoel.

Akibat cepatnya laju bisnis rokok ditambah regulasi yang terus berubah, pada tahun 2000 namanya kembali diganti menjadi PT Bentoel Internasional Investama Tbk. Pergantian nama ini sekaligus menjadi tanda bahwa Bentoel telah melakukan konsolidasi dan restrukturisasi manajemen dalam rangka efisiensi.

Anak usahanya sebanyak 16 perusahaan dirampingkan menjadi empat perusahaan sehingga perusahaan holding bertugas untuk mengoordinasi, sedangkan anak usaha akan melaksanakan proses produksi dan distribusi.

Kemudian pada 2009 British American Tobacco Plc (BAT) merampungkan tender offer sisa saham publik RMBA sehingga menguasai 99,74% sahamnya Bentoel dengan nilai transaksi sebesar Rp 5,1 triliun.

Namun sejak 6 tahun belakangan, perusahaan ini terus mencatatkan rugi. Pada 2012 rugi yang dapat diatribusikan ke pemilik induk sebesar Rp 323 miliar dan terus membengkak hingga 2016 menjadi Rp 2,08 triliun. Kendati demikian setelah itu, rugi bersih Bentoel mulai menurun pada 2017 sebesar Rp 480 miliar dan naik hingga 26,74% year on year (yoy) menjadi Rp 608,46 miliar pada 2018.

Head of Government Affair RMBA Iwan Kendrawaran Kaldjat menceritakan, pada masa Bentoel mencatatkan rugi bersih, perusahaan tidak mendapat bantuan dana dari bank maupun konsorsium. “Jadi satu-satunya jalan untuk bertahan adalah meminjam dari grup yaitu ke British American Tobacco (BAT) group sebesar Rp 13,2 triliun,” jelasnya saat ditemui Kontan.co.id di Malang, Kamis (4/7).

Kemudian pada 2016 Bentoel melakukan penawaran umum saham terbatas dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (rights issue) di mana seluruh fasilitas pinjaman telah dilunasi dan dikonversi menjadi saham.

Porsi penyertaan BAT Group di dalam rights issue sebesar Rp 13,2 triliun sehingga di sepanjang periode 2010-2018, total investasi BAT Group dalam bentuk penanaman modal di Indonesia mencapai Rp 18,3 triliun. Dengan rincian nilai akuisisi Bentoel pada 2009 dan rights issue pada 2016.

Transaksi afiliasi ini mengubah pinjaman (loan) menjadi ekuitas sebagai bentuk komitmen keberlangsungan usaha Bentoel sekaligus menambah peluang menambahkan brand global seperti Lucky Strike dan Dunhill.

Adapun dana tersebut menurut Iwan dijadikan modal kerja demi meningkatkan teknologi yakni pemindahan pabrik Dried Ice Expanded Tobacco (DIET) dari Malaysia ke Indonesia. Sampai saat ini tercatat total aset RMBA terus naik signifikan menjadi Rp 14,9 triliun pada 2018.

Kepala Operasional Bentoel Adhe Sona menyatakan saat ini Bentoel Group memiliki tujuh pabrik di Malang, di antaranya pabrik Bentoel Internasional Investama dan pabrik tembakau DIET. Kedua pabrik ini berorientasi ekspor ke 19 negara dengan nilai ekspor sebesar Rp 1,6 triliun.

Pabrik Bentoel khusus memproduksi rokok Sigaret Kretek Mesin (SKM) yakni rokok yang diproses menggunakan mesin dengan perpaduan tembakau dan cengkih. Produk di bawah kategori ini adalah Dunhill Filter, Dunhill Mild, Lucky Strike Bold dan Lucky Strike Mild.

Adhe menjelaskan dalam satu tahun pabrik Bentoel dapat memproduksi lebih dari puluhan miliar batang rokok. Ke depannya RMBA optimistis dapat menjadi pusat ekspor (export hub) Bentoel Group.

Kepala Operasional DIET Andi Wongso menjelaskan pabrik DIET memproduksi tembakau dengan kadar nikotin tar yang rendah. “Bentoel memiliki kualitas pabrik yang mendunia karena produknya bisa masuk ke pasar Jepang dan Korea yang menerapkan standar dan regulasi yang tinggi terkait dengan produk tembakau,” ungkapnya.

Andi menyatakan pabrik DIET utilisasinya sudah mencapai 92% dan dan mayoritas ekspor ke 16 negara di kawasan Asia Pasifik dan Timur Tengah yang berafiliasi BAT group.

Seluruh pelaksanaan kegiatan-kegiatan operasional pabrik Bentoel didukung kurang lebih 6.000 karyawan di seluruh Indonesia.

Sampai penghujung tahun kemarin, kontribusi Bentoel pada penerimaan cukai dan pajak pertambahan nilai naik secara konsisten dari tahun ke tahun. Pada 2017 RMBA berkontribusi pada penerimaan cukai sebesar Rp 14,0 triliun menjadi Rp 14,1 triliun pada 2018.

Melansir laporan keuangannya di kuartal I 2019, penjualan RMBA pada kuartal I 2019 naik 9,04% year on year (yoy) menjadi Rp 5,04 triliun. Adapun rugi yang masih tercatat sebesar Rp 70,6 miliar di kuartal I 2019. RMBA optimistis pada 2019 ini akan mencetak laba dan memperbaiki rugi bersihnya di tahun-tahun sebelumnya.


Reporter: Arfyana Citra Rahayu
Video Pilihan


Close [X]
×