: WIB    —   
indikator  I  

Produksi batubara BUMI stagnan di 2017

Produksi batubara BUMI stagnan di 2017

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Manajemen PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menyebutkan, volume produksi batubara hingga akhir tahun nanti akan sedikit meleset dari target sepanjang 2017. Realisasi volume relatif stagnan dibanding tahun lalu.

Direktur BUMI Dileep Srivastava mengatakan, produksi batubara hingga akhir tahun nanti diprediksi sekitar 87 juta ton. Prediksi tersebut berada di bawah target volume produksi perusahaan sebelumnya, yakni mencapai 90 juta ton. "Faktor cuaca, terutama curah hujan tinggi, turut mengganggu produksi," ungkap Dileep kepada KONTAN, Jumat (1/12) lalu.

Efek cuaca sudah terlihat dari produksi batubara BUMI selama sembilan bulan di tahun ini. Di periode itu, produksi batubara BUMI tercatat 62,1 juta ton, turun 0,9% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya, 62,7 juta ton.

Bukan hanya produksi, volume penjualan BUMI juga menurun. Persentase penurunannya sebesar 3,1% menjadi 62,6 juta, dari sebelumnya 64,6 juta.

Beruntung, rata-rata harga batubara emiten ini sepanjang sembilan bulan 2017 sekitar US$ 55,9 per ton, atau tumbuh 39,6% dari sebelumnya US$ 40,1 per ton. Sehingga BUMI masih mampu meraih laba bersih US$ 263,83 juta. Jumlah ini melompat 261% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya, US$ 73,04 juta.

Pencapaian laba itu didorong bagian atas laba bersih entitas asosiasi dan ventura bersama. Pada pos keuangan ini, BUMI mencetak penghasilan US$ 204,37 juta, naik 600% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 29,06 juta.

Dileep optimistis BUMI masih mampu mempertahankan kinerjanya pada tahun depan. "Kami menargetkan produksi batubara 2018 tumbuh 10%," imbuh dia.

BUMI juga memprediksi harga batubara pada tahun depan masih berpeluang naik setidaknya sebesar 5% dibandingkan rata-rata harga batubara pada tahun ini. Meski demikian, angka tersebut masih jauh lebih kecil dibandingkan pertumbuhan harga batubara periode 2017 dan tahun sebelumnya.

Analis Binaartha Parama Sekuritas Muhammad Nafan Aji menilai, masih ada sejumlah alasan bagi harga batubara untuk menguat. Misalnya, Amerika Serikat membutuhkan pasokan batubara untuk menggenjot infrastruktur.

Tiongkok juga memerlukan pasokan batubara dalam rangka meningkatkan industri dalam negeri. Selain itu, karena musim dingin maka secara otomatis permintaan batubara naik. 

Di sisi lain, Tiongkok memberlakukan kebijakan reformasi lingkungan, sehingga berdampak pada berkurangnya produksi batubara di Tiongkok. "Dengan kata lain, demand batubara secara global masih tinggi," ujar Nafan. Ini positif bagi emiten batubara, termasuk BUMI.

Secara tenikal, saham BUMI masih uptrend karena pergerakan harganya konsisten di atas garis MA 20. Namun indikator RSI sudah overbought. "Hold dengan target Rp 350 per saham," tutur Nafan.


Reporter Dityasa H Forddanta
Editor Wahyu Rahmawati

EMITEN

Feedback   ↑ x