kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.131
  • SUN98,94 0,36%
  • EMAS616.094 0,49%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

OJK: Aset dasar lebih fleksibel, instrumen DINFRA lebih menarik

Kamis, 03 Mei 2018 / 21:34 WIB

OJK: Aset dasar lebih fleksibel, instrumen DINFRA lebih menarik
ILUSTRASI.

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejak tahun lalu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengeluarkan aturan mengenai dana investasi infrastruktur berbentuk kontrak investasi kolektif atau disebut DINFRA. Hal tersebut tertuang dalam peraturan OJK Nomor 52/POJK.04/2017 yang terbit pada 20 Juli 2017.

Namun, hingga saat ini, belum ada satupun manajer investasi yang menerbitkan instrumen ini, lantaran minimnya pemahaman investor maupun pemilik proyek infrastruktur mengenai skema investasi melalui DINFRA.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen menjelaskan, DINFRA dirancang untuk menghimpun dana investor yang nantinya dapat diinvestasikan baik langsung pada proyek infrastruktur fisiknya maupun pada efek atau surat utang. "Jadi, ini skema baru di luar jenis KIK lainnya seperti reksadana, RDPT, EBA, dan DIRE," ujar Hoesen, Kamis (3/5).

Hoesen bilang, DINFRA sejatinya akan lebih menarik ketimbang instrumen pendahulunya lantaran memiliki fleksibilitas yang tinggi dalam hal pilihan underlying asset. Berbeda dengan RDPT yang terbatas pada efek atau surat utang, atau DIRE yang hanya bisa menggunakan aset real estate.

"Thailand merupakan salah satu negara yang sukses menerbitkan DINFRA. Melalui instrumen ini, per 30 April lalu, mereka meraih dana sebesar 66 miliar baht atau setara Rp 29 triliun untuk mendanai proyek MRT Bangkok," tutur Hoesen.

Oleh karena itu, ia berharap sosialisasi yang dilakukan OJK dapat membuat investor institusi seperti lembaga asuransi, dana pensiun, dan perusahaan pembiayaan, kian tertarik berinvestasi pada pembangunan infratruktur melalui KIK, khususnya DINFRA. "Sejauh ini sudah ada beberapa yang berminat, tapi masih dalam pertimbangan akhirnya nanti mau pakai DINFRA, EBA, atau RDPT," ujarnya

Sekadar mengingatkan, dalam instrumen DINFRA, manajer investasi hanya bisa menempatkan dana di aset infrastruktur, dengan porsi minimal 51% dari nilai aktiva bersih (NAB). Sisanya, maksimal 49%, bisa ditempatkan di instrumen pasar uang atau efek dalam negeri.

Selain itu, DINFRA juga dapat ditawarkan melalui penawaran umum dengan syarat aset infrastruktur telah menghasilkan pendapatan atau akan menghasilkan pendapatan paling lambat enam bulan sejak aset dialihkan ke DINFRA. Juga, investasi pada proyek yang belum atau sedang dalam proses pembangunan (greenfield) paling banyak 25% dari porsi alokasi investasi.


Reporter: Grace Olivia
Editor: Dupla Kartini

INVESTASI REKSADANA

Tag
Komentar
TERBARU
KONTAN TV
Hotel santika premiere Slipi
26 July 2018
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.1570 || diagnostic_web = 0.3171

Close [X]
×