: WIB    —   
indikator  I  

Menimbang prospek saham Saratoga Investama

Menimbang prospek saham Saratoga Investama

Jakarta. Akhir-akhir ini, Sandiaga Salahuddin Uno dan Edwin Soeryadjaya tampak bersemangat menjala dana publik lewat bursa saham. Baru beberapa hari berselang, PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX) melantai di bursa. Kini, giliran sang induk, PT Saratoga Investama Sedaya, juga berencana go public.

PT Indo Premier Securities, PT UBS Securities Indonesia, dan PT Deutsche Securities Indonesia menjadi penjamin pelaksana emisi penawaran saham perdana alias initial public offering (IPO) perusahaan private equity tersebut. Masa penawaran awal atau bookbuilding berlangsung 2929 Mei–6–6 Juni 2013. IPO ini diperkirakan mendapat pernyataan efektif pada 14 Juni 2013. Selanjutnya, penjamin emisi akan menggelar penawaran 18 Juni–2–20 Juni 2013, dengan tanggal penjatahan 21 Juni 2013. Rencananya, 25 Juni, saham baru ini sudah tercatat dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Namun, menurut Direktur Utama Indo Premier The Moleonoto, mungkin, pencatatan saham ini akan lebih cepat dari rencana awal. “Karena kami sudah roadshow ke Singapura, Kuala Lumpur, Hong Kong, dan London, juga Jakarta,” ujarnya.

Merujuk prospektus, Saratoga akan melepas sekitar 430,88 juta atau 15% saham ke publik. Tapi, Saratoga mengalokasikan sekitar 21,54 juta saham untuk program opsi kepemilikan oleh karyawan atau employee stock allocation (ESA) dan sekitar 59,06 juta saham untuk opsi kepemilikan oleh manajemen atau management employee stock option program (MESOP).

Jika terjadi kelebihan pemesanan, Saratoga mungkin menambah jumlah saham yang dilepas hingga sekitar 64,63 juta saham atau 15% dari total saham yang semula dijadwalkan dilepas lewat IPO. Saham biasa untuk keperluan penjatahan lebih ini diambil dari pemegang saham Saratoga saat ini, yaitu PT Unitras Pertama, Edwin Soeryadjaya, dan Sandiaga Salahuddin Uno.

Dus, jika saham perdana ini menarik para karyawan dan manajemen Saratoga Investama serta investor publik, komposisi kepemilikan saham Sarataga akan berubah dari komposisi saat ini.

Bayar utang dan dana investasi

Dengan kisaran harga penawaran Rp 6.100–Rp 7.800 per saham, perusahaan ini berpotensi meraup dana Rp 2,63 triliun-Rp 3,36 triliun. Artinya, sampai, IPO Saratoga Investama berpeluang mencetak rekor nilai emisi terbesar 2013 sampai awal Juni ini.

Saratoga bakal memanfaatkan fulus hasil IPO tersebut untuk berbagai keperluan. Sekitar US$ 50 juta atau setara Rp 483,5 miliar (kurs US$ 1 = Rp 9.670) akan digunakan untuk melunasi utang anaknya, yaitu PT Saratoga Sentra Business. Utang ke Standard Chartered Bank cabang Jakarta ini jatuh tempo 12 Januari 2014.

Berdasarkan secured term loan facility agreement tertanggal 12 Januari 2012, fasilitas tersebut memungut bunga sebesar LIBOR + 4,9% per tahun. Pinjaman ini dijamin dengan saham Adaro Energy yang dimiliki oleh Saratoga. Oleh Saratoga Investama, dana hasil utang ini disalurkan ke Saratoga Sentra Business dalam bentuk tambahan setoran modal.

Pemanfaatan dana IPO lainnya, sekitar Rp 359,4 miliar, untuk melunasi utang kepada PT Rasi Unggul Bestari. Ceritanya, pada 8 Februari 2013, Saratoga Investama mengikat perjanjian jual-beli untuk membeli 650 juta saham MPMX yang dikempit Rasi Unggul Bestari. Nilai transaksi akuisisi saham ini sebesar Rp 898,9 miliar. Adapun kekurangannya, yakni senilai Rp 539,6 miliar, akan dibayar menggunakan pinjaman bank.

Setelah transaksi tersebut, kepemilikan saham Saratoga Investama di MPMX meningkat menjadi 45,5%. Saratago menguasai saham ini baik secara langsung maupun melalui PT Nugraha Eka Kencana.

Sisa dana IPO akan digunakan untuk mendanai kegiatan investasi, terutama di tiga sektor investasi andalan, yaitu sumberdaya alam, infrastruktur, serta produk dan layanan jasa konsumen. Belum ada penjelasan rinci soal ini. Yang jelas, perusahaan di mana Saratoga berinvestasi secara langsung (investee company), seperti PT Adaro Energy Tbk (ADRO) dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), memang terlibat di sektor-sektor tadi.

Selain itu, Saratoga bakal menggunakan duit investor sebanyak US$ 8,3 juta atau setara Rp 80,2 miliar sebagai pinjaman mezzanine kepada PT Lintas Marga Sedaya melalui PT Baskhara Utama Sedaya. Kedua perusahaan ini tercatat sebagai entitas asosiasi tidak langsung Saratoga.

Pinjaman tersebut akan dikenakan tingkat bunga 16% per tahun. “Itu termasuk US$ 8,3 juta sebagai pinjaman mezzanine kepada PT Lintas Marga Sedaya melalui PT Bhaskara Utama Sedaya yang diperkirakan dilaksanakan pada kuartal III–2–2013,” kata Sandi.

Pemberian utang mezzanine kepada Lintas Marga melalui Baskhara Utama tersebut merupakan bagian dari komitmen investasi bersama S Asia III Luxembourg, S.a.r.l. (fund) dalam proyek pembangunan konstruksi dan pengoperasian jalan tol yang akan menghubungkan Cikampek dan Palimanan di Jawa Barat. Jalan tol sepanjang 116 kilometer ini kelak menjadi bagian dari jaringan jalan tol Trans Jawa.

Konstruksi jalan tol ini akan dimulai pada 2013 dan diharapkan mulai beroperasi secara komersial pada 2015. Jangka waktu konsesi awal adalah 35 tahun yang berakhir pada 2041.

Asal tahu saja, proyek ini diperkirakan membutuhkan total biaya proyek sebesar Rp 12,5 triliun. Untuk memenuhi kebutuhan dana sebesar itu, Lintas Marga disebut-sebut telah memperoleh fasilitas pinjaman sindikasi Rp 8,8 trilliun.

Sisa biaya proyek akan didanai oleh modal saham. Per 31 Desember 2012, Lintas Marga mencatatkan rugi bersih Rp 1 miliar. Sementara, total asetnya mencapai Rp 1,16666 triliun, yang terdiri dari ekuitas sebesar Rp 608,5 miliar.

Dus, di luar pinjaman mezzanine, utang sindikasi, dan modal ekuitas, Lintas Marga masih membutuhkan dana tambahan.

Terus berinvestasi

Menghitung proyeksi kinerja Saratoga Investama ke depan adalah pekerjaan yang tidak mudah. Pasalnya, perusahaan ini terus-menerus mengintip peluang masuk ke perusahaanperusahaan, baik secara langsung maupun melalui tangantangan entitas bisnisnya. Kepemilikannya di beberapa perusahaan saat ini juga bisa dilepas sewaktu-waktu.

Yang sudah pasti, Saratoga Investama masuk ke anak usaha PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA), PT Nusa Raya Cipta. Nusa Raya adalah perusahaan jasa konstruksi yang bakal melantai di bursa saham Indonesia pada 27 Juni mendatang.

Dalam prospektus IPO Nusa Raya disebutkan, per 27 Mei 2013, PT Saratoga Investama Sedaya telah memiliki 173,91 juta sahamnya. Nilai transaksi 8% saham itu Rp120 miliar. “Ke depan, Nusa Raya bisa menjadi salah satu penggerak kinerja Saratoga,” kata Maula Adini Putri, analis AAA Securities.

Selain itu, karena investee companies Saratoga bermain di banyak industri, faktor yang mempengaruhi kinerjanya juga beragam. “Yang perlu menjadi perhatian adalah investasi perseroan ini di sektor komoditas yang saat ini sedang mengalami penurunan. Hal ini dapat menurunkan nilai investasi ke depannya,” kata Edwin Sebayang, Kepala Riset MNC Securities.

Murah atau mahal?

Harga penawaran di Rp 6.100-Rp 7.800 per saham mencerminkan rasio harga terhadap laba per saham atau price to earning ratio (PER) tahun 2013 sekitar 13 kali–17 kali. Namun, Edwin menghitung, di kisaran harga itu, PER Saratoga Investama ada di 9,7 kali–12,3 kali. Jika dibanding PER perusahaan lain pada industri sejenis yang 26,18 kali, harga saham IPO Saratoga Investama, kata Edwin, terbilang menarik. Sayang, Edwin tidak membeberkan perusahaan pembanding Saratoga.

Berdasarkan valuasi PER, Edwin dan Maula merekomendasikan beli saham IPO Saratoga Investama. Meski begitu, Saratoga Investama dan para penjamin pelaksana emisi IPO ini tidak menggunakan PER sebagai acuan. Alasannya, tidak ada emiten yang benar-benar sejenis untuk dibandingkan. “Soalnya, kami merupakan active investment company, bukan holding company.

Sementara, di bursa sendiri belum ada benchmark PER industri ini,” jelas Sandiaga. Moleonoto menambahkan, untuk mengetahui murah tidak saham Saratoga Investama bisa menggunakan metode discount
net asset value (NAV). Cara menghitungnya berdasarkan banyaknya anak usaha yang dimiliki Saratoga Investama, baik yang berbentuk perusahaan terbuka maupun privat.

Nah, semua market value anak usaha itu dijumlahkan, lantas divaluasi. “Komparasinya, gunakan sekitar satu kali book value, terus nanti ketemu NAV-nya,” tuturnya. Dari hasil perhitungan itu, muncul angka yang mewakili discount NAV Saratoga Investama. Singkatnya, klaim Moleonoto, harga Rp 6.100 mewakili 22,5% discount NAV. Sementara di harga Rp 7.800, hampir 0% discount NAV.

Nah, silakan menimbang, apakah perusahaan ini cocok masuk ke dalam keranjang portofolio Anda.

***Sumber : KONTAN MINGGUAN 37 - XVII, 2013 Saham


Reporter Tedy Gumilar, Aceng Nursalim
Editor Imanuel Alexander

INVESTASI

Feedback   ↑ x